Ada seorang pemuda yang memendam keinginan sederhana, tapi terasa berat: ia ingin belajar membaca Al-Qur’an.
Bukan karena ia tidak percaya, melainkan karena malu. Malu karena sudah dewasa tapi belum bisa membaca huruf hijaiyah. Malu karena hidupnya jauh dari kebiasaan orang-orang saleh. Dan malu karena ia tahu, kebiasaan minum alkohol yang selama ini ia lakukan jelas bukan sesuatu yang bisa dibanggakan.
Keinginan itu tumbuh diam-diam. Setiap kali mendengar lantunan Al-Qur’an, ada perasaan tertarik sekaligus takut. Takut ditanya, “Kenapa baru sekarang?” Takut dihakimi. Takut dianggap main-main dengan agama.
Dalam kebimbangannya, ia melakukan hal yang keliru. Ia minum alkohol—bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk “mengumpulkan keberanian”. Baginya, itu satu-satunya cara menenangkan diri agar berani melangkah ke rumah seorang ustadz.
Ini bukan pembenaran. Ini pengakuan manusia yang rapuh.
Dengan langkah goyah dan hati penuh cemas, ia akhirnya datang juga. Duduk di hadapan ustadz, ia tidak ditanya masa lalunya. Tidak diinterogasi kebiasaannya. Tidak pula dipermalukan. Yang ada hanya satu pertanyaan sederhana:
“Dari mana kita mulai?”
Huruf demi huruf diperkenalkan. Pelan. Sabar. Tanpa komentar yang melukai.
Hari demi hari, pemuda itu datang kembali. Rasa malunya masih ada, tapi mulai kalah oleh rasa ingin bisa. Ia mulai menyadari bahwa keberanian sejati tidak lahir dari minuman, melainkan dari diterima apa adanya dan dibimbing dengan kasih.
Beberapa waktu kemudian, ia mampu membaca Al-Qur’an. Masih terbata, masih belajar, tapi nyata. Yang lebih penting, kebiasaan lamanya perlahan ia tinggalkan. Bukan karena dimarahi, melainkan karena hatinya telah menemukan sesuatu yang lebih menenangkan.
Hidayah Tidak Selalu Datang Lewat Jalan yang Rapi
Kisah ini mengajarkan satu hal penting:
Allah memberi hidayah bukan kepada orang yang sudah sempurna, tetapi kepada orang yang mau melangkah.
Sering kali, kita menutup pintu dakwah dengan standar moral yang kaku:
-
“Bersihkan hidupmu dulu, baru belajar agama.”
-
“Tinggalkan maksiat dulu, baru mendekat.”
Padahal, bagi sebagian orang, belajar agama justru menjadi jalan untuk meninggalkan maksiat, bukan syarat awalnya.
Ini bukan pembelaan terhadap dosa. Ini pengingat bahwa rahmat Allah mendahului murka-Nya, dan bahwa tugas manusia bukan menghakimi proses orang lain, melainkan membuka ruang agar proses itu bisa terjadi.
Penutup
Pemuda itu tidak datang sebagai sosok ideal. Ia datang sebagai manusia yang takut, malu, dan salah arah. Tapi ia datang. Dan dari satu langkah yang tertatih, lahirlah perubahan yang nyata.
Karena hidayah sering kali dimulai bukan dari keberanian yang sempurna, tetapi dari niat yang jujur, meski masih dibungkus ketidaksempurnaan.