![]()
Menulis Buku Ajar Pembiayaan Pendidikan dengan Psikologi Langit: Di Ambang Ramadan AI Mitra Teknis, Nurani Tetap Pengawas
Oleh: A. Rusdiana
Memasuki bulan Sya’ban menuju Ramadan, dunia pendidikan kita seperti sedang berada di ruang perawatan: hidup, tetapi lemah; bergerak, tetapi kehilangan ruh. Di tengah tuntutan efisiensi, audit, akuntabilitas, dan digitalisasi, dimensi empati sering tercecer. Buku ajar pembiayaan pendidikan pun kerap berhenti pada angka, grafik, dan prosedur pengawasan, tanpa menyentuh luka sosial peserta didik yang berjuang membayar biaya sekolah. Di sinilah Psikologi Langit menemukan relevansinya: menghadirkan wahyu sebagai kompas ilmu.
Al-Qur’an menegaskan bahwa orang berilmu adalah mereka yang paling dalam rasa takutnya kepada Allah (QS. Fathir: 28). Artinya, ilmu tidak boleh melahirkan kesombongan teknokratis, tetapi kesadaran moral. Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Dari sinilah empati akademik tumbuh: ilmu yang berpihak.
Di era kecerdasan buatan, muncul pertanyaan mendasar: apakah AI akan menggantikan peran manusia dalam menulis dan berpikir? Dalam konteks penulisan buku ajar pembiayaan pendidikan terutama pada Part 13 tentang pengawasan jawabannya tegas: AI adalah mitra teknis, bukan pengganti nurani.
Secara teoritik, pandangan ini selaras dengan pemikiran kontemporer Martin Heidegger yang mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat, bukan penentu makna keberadaan manusia. Juga sejalan dengan gagasan Alasdair MacIntyre tentang pentingnya keutamaan moral dalam praktik profesional. Dalam perspektif pendidikan, Paulo Freire menegaskan bahwa pendidikan harus memanusiakan manusia, bukan sekadar mentransfer prosedur teknis. AI dapat membantu menyusun sistem, menganalisis data, bahkan merapikan metodologi audit, tetapi ia tidak memiliki pengalaman batin untuk merasakan ketidakadilan biaya pendidikan.
Menulis buku ajar berbasis Psikologi Langit di komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) yang kini telah mencapai 2.469 anggota dan memasuki episode ke-108 menjadi ruang latihan kolektif untuk merawat nurani akademik. Mungkin dampaknya belum terukur secara kuantitatif, tetapi setiap tulisan adalah sedekah intelektual yang bekerja dalam sunyi. Dari proses ini, setidaknya ada lima pembelajaran utama:
Pertama, menulis adalah terapi peradaban; Di tengah rendahnya minat membaca dan menulis di masyarakat pendidikan, menulis bukan hanya aktivitas akademik, tetapi proses penyembuhan. Ia menyatukan akal, rasa, dan iman.
Kedua, AI mempercepat kerja metodologis, tetapi empati lahir dari kontemplasi.
Pengawasan pembiayaan pendidikan membutuhkan instrumen, standar, dan sistem. AI membantu itu semua. Namun keadilan anggaran lahir dari hati yang pernah merasakan penderitaan sosial.
Ketiga, wahyu memberi arah etik bagi teknologi; Tanpa nilai Qur’ani dan teladan hadis, pengawasan keuangan pendidikan bisa berubah menjadi sekadar prosedur administratif tanpa keberpihakan.
Keempat, komunitas menulis adalah ekosistem spiritual-intelektual; PBB bukan sekadar ruang publikasi, tetapi madrasah ruhani bagi para penulis untuk istiqamah berkarya. Di sinilah strategi mempertahankan posisi “Penjelajah” di Kompasiana menuju “Fanatik” menemukan maknanya: konsistensi harian menulis, diawali dengan pantun Psikologi Langit sebagai dzikir intelektual.
Kelima, Sya’ban adalah fase penyiraman amal intelektual; Sebagaimana ungkapan para filsuf Muslim bahwa Sya’ban adalah masa merawat tanaman Rajab agar panen di Ramadan, maka menulis hari ini adalah investasi spiritual untuk semester genap 2025/2026.
Dalam konteks pembelajaran, mahasiswa yang membaca buku ajar berbasis Psikologi Langit tidak hanya memahami konsep cost-effectiveness dan audit, tetapi juga merasakan bahwa setiap angka adalah nasib manusia. Mereka belajar bahwa pengawasan pembiayaan pendidikan bukan sekadar memastikan kepatuhan, tetapi menjaga keadilan.
Pada akhirnya, AI akan terus berkembang, sistem pengawasan akan semakin canggih, dan dunia akademik akan semakin digital. Namun satu hal yang tidak boleh hilang: nurani sebagai pengawas tertinggi.
Ramadan yang segera datang adalah momentum untuk mengembalikan ruh itu. Menulis setiap hari, memulai dengan pantun Psikologi Langit, merawat komunitas, dan menghadirkan wahyu dalam ilmu itulah jalan sunyi menuju peradaban yang berkeadilan.
Karena pada akhirnya, buku ajar bukan hanya kumpulan teori, tetapi jejak iman yang ditulis dengan kesadaran bahwa ilmu harus menyelamatkan manusia. Wallahu a’lam.