Menulis sebagai Terapi Peradaban: Saat Buku Ajar Pembiayaan Pendidikan Dipandu “Psikologi Langit”
Oleh: A. Rusdiana
Pendidikan kita kerap disebut sedang sakit bukan semata karena lemahnya sistem, tetapi karena memudarnya ruh dan empati dalam proses akademik. Buku ajar sering berhenti pada angka, tabel, dan rumus efisiensi tanpa menyentuh dimensi batin peserta didik. Di ruang inilah Psikologi Langit menemukan relevansinya: menghadirkan wahyu sebagai kompas moral agar ilmu tidak kehilangan arah. Menulis buku ajar berbasis kesadaran transenden menjadi ikhtiar penyembuhan. Ia bukan sekadar kerja akademik, melainkan terapi peradaban.
Fenomena rendahnya minat membaca dan menulis di kalangan masyarakat pendidikan memperlihatkan adanya jarak antara ilmu dan kesadaran nilai. Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) yang kini memasuki episode ke-106 dengan 2.468 anggota adalah oase kecil di tengah kegersangan itu. Dampaknya mungkin belum terukur secara statistik, tetapi setiap tulisan adalah denyut kehidupan intelektual. Dalam perspektif psikologi kontemporer, James Pennebaker menyebut expressive writing sebagai proses penyembuhan yang mampu menata emosi dan memperkuat makna hidup. Dalam tradisi Islam, wahyu pertama adalah perintah membaca sebuah isyarat bahwa peradaban dimulai dari literasi yang terhubung dengan kesadaran ketuhanan.
Al-Qur’an menegaskan bahwa orang berilmu adalah mereka yang semakin takut kepada Allah (QS. Fathir: 28). Nabi Muhammad SAW pun bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Dari sinilah empati akademik menemukan akarnya. Menulis buku ajar pembiayaan pendidikan tidak lagi sekadar menghitung unit cost dan efektivitas anggaran, tetapi memahami beban psikologis keluarga miskin, merasakan kecemasan mahasiswa terhadap biaya kuliah, dan menimbang dampak sosial setiap kebijakan. Inilah makna “wahyu memandu ilmu”. Dari perjalanan menulis itu, setidaknya ada lima pembelajaran peradaban:
Pertama, menulis adalah proses tazkiyatun nafs akademik. Ia membersihkan niat, meluruskan orientasi, dan mengubah aktivitas ilmiah menjadi ibadah. Buku ajar tidak lagi menjadi proyek administratif, tetapi amal jariyah intelektual.
Kedua, menulis melahirkan empati struktural. Analisis biaya pendidikan tidak berhenti pada efisiensi internal dan eksternal, tetapi menyentuh keadilan akses. Teori human capital dari Gary Becker menemukan ruhnya ketika dipadukan dengan nilai rahmatan lil ‘alamin.
Ketiga, menulis membangun kesadaran profetik dalam pengawasan. Prinsip pengawasan biaya pendidikan dalam Part 11 tidak hanya berbicara tentang standar, model, dan prosedur audit, tetapi tentang amanah. Setiap angka adalah tanggung jawab moral di hadapan Allah.
Keempat, menulis menjadi ruang terapi sosial. Di tengah kegelisahan sistem pendidikan, tulisan menghadirkan harapan. Ia menyatukan komunitas, menggerakkan diskusi, dan membangun optimisme kolektif.
Kelima, menulis adalah strategi keberlanjutan peradaban literasi. Konsistensi menulis setiap hari—diawali dengan pantun Psikologi Langit—bukan hanya menjaga posisi sebagai Penjelajah di Kompasiana, tetapi membangun jalan menuju “Fanatik” dalam makna spiritual: istiqamah dalam berkarya.
Para filosof Muslim mengibaratkan Sya’ban sebagai masa menyiram amal yang ditanam di Rajab agar Ramadan menjadi musim panen iman. Menulis di bulan ini adalah proses penyiraman itu. Ia menyiapkan pembelajaran Semester Genap 2025/2026 dengan energi ruhani yang baru. Buku ajar tidak lagi sekadar bahan kuliah, tetapi peta jalan peradaban yang memadukan ilmu, iman, dan empati.
Akhirnya, menulis adalah terapi peradaban karena ia menyembuhkan penulis, pembaca, dan sistem nilai sekaligus. Dari ruang sederhana komunitas PBB, dari layar Kompasiana, dari lembar buku ajar pembiayaan pendidikan, kita belajar bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kata-kata yang ditulis dengan hati. Ketika wahyu memandu ilmu, maka pendidikan tidak hanya menjadi cerdas secara intelektual, tetapi juga hidup secara spiritual. Wallahu A'lam.