Ramadhan sering kita maknai sebagai momentum memperbaiki diri. Tapi bagaimana kalau tahun ini kita juga memperbaiki lingkungan dan kesehatan bersama?
Di banyak wilayah padat Jakarta Utara seperti Cilincing, tantangan kesehatan itu bukan cuma satu. Ada isu perubahan iklim dan air bersih, tuberkulosis (TB) yang masih tinggi, dan gangguan mental emosional yang jarang dibicarakan.
Dan menariknya, semua ini bisa disentuh dari satu tempat yang kita kenal baik: masjid.
Air Hujan: Berkah yang Sering Terbuang
Perubahan iklim membuat pola hujan makin tidak menentu. Kadang hujan sangat deras dalam waktu singkat, lalu lama tidak turun sama sekali. Air melimpah, tapi tak tersimpan.
Konsep rainwater harvesting atau panen air hujan sebenarnya sederhana: air ditampung dari atap, disaring, lalu disimpan dalam tangki untuk kebutuhan non-minum seperti wudhu, sanitasi, atau kebersihan.
Bagi wilayah padat, ini bukan hanya soal hemat air. Ini soal adaptasi iklim.
Badan kesehatan dunia, World Health Organization, berulang kali menegaskan bahwa perubahan iklim meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan—termasuk diare dan infeksi kulit—karena gangguan akses air bersih dan sanitasi.
Masjid, dengan atap luas dan aktivitas rutin, sangat potensial menjadi pusat konservasi air sederhana berbasis komunitas.
TB: Tidak Selalu Batuk Dua Minggu
Selama bertahun-tahun kita diajari bahwa gejala utama TB adalah batuk lebih dari dua minggu. Itu tidak salah. Tapi sekarang pendekatan skrining lebih komprehensif.
Menurut laporan global World Health Organization, Indonesia masih termasuk negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Estimasi kasus mencapai lebih dari satu juta per tahun.
Masalahnya, tidak semua orang dengan TB datang dengan batuk lama.
Gejala yang kini perlu diwaspadai antara lain:
-
Batuk dengan atau tanpa dahak
-
Demam ringan berulang (sering sore atau malam)
-
Keringat malam
-
Berat badan turun tanpa sebab jelas
-
Nafsu makan menurun
-
Lemas berkepanjangan
Pada kelompok dengan diabetes, lansia, atau daya tahan tubuh rendah, gejalanya bisa lebih samar.
Selain itu, ada juga TB ekstra paru—misalnya pembesaran kelenjar getah bening atau nyeri tulang—yang tidak disertai batuk sama sekali.
Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan masih ada kesenjangan antara jumlah kasus yang diperkirakan dan yang terdeteksi. Artinya, sebagian orang dengan TB belum terdiagnosis.
Karena itu, skrining komunitas sebaiknya tidak hanya bertanya “Sudah batuk dua minggu?”, tetapi menilai kombinasi gejala dan faktor risiko.
TB bisa sembuh. Tapi harus ditemukan lebih awal.
Kesehatan Mental: Luka yang Tak Terlihat
Selain infeksi, ada persoalan lain yang sering tersembunyi: kesehatan mental.
Gangguan Mental Emosional (GME) meliputi gejala seperti:
-
Sulit tidur
-
Mudah cemas
-
Merasa sedih berkepanjangan
-
Mudah lelah
-
Sulit konsentrasi
Instrumen skrining seperti SRQ-20 yang dikembangkan oleh World Health Organization telah lama digunakan dalam survei kesehatan di Indonesia.
Karena tekanan ekonomi, penyakit kronis dalam keluarga, dan kondisi lingkungan padat dapat meningkatkan risiko stres dan depresi ringan hingga sedang.
Masalahnya, banyak orang mengira ini sekadar “kurang sabar” atau “kurang iman”. Padahal, kesehatan mental adalah bagian dari kesehatan yang utuh.
Pendekatan berbasis komunitas—seperti konseling kelompok kecil setelah kajian atau pelatihan kader untuk skrining awal—dapat menjadi pintu masuk yang lebih ramah dan tidak menghakimi.
Masjid sebagai Pusat Kesehatan Komunitas
Bayangkan jika satu masjid:
-
Menampung air hujan untuk sanitasi
-
Mengedukasi jamaah tentang gejala TB terkini
-
Mengadakan skrining kesehatan mental sederhana
Itu bukan mengganti peran puskesmas. Tapi memperkuatnya.
Masjid memiliki modal sosial yang besar: kepercayaan, kedekatan, dan kesinambungan aktivitas. Momentum Ramadhan bisa menjadi titik awal gerakan kecil namun berdampak panjang.
Sehat Itu Bagian dari Ibadah
Menjaga lingkungan adalah amanah.
Mencegah penularan penyakit adalah ikhtiar.
Mendengarkan keluh kesah sesama adalah kasih sayang.
Kesehatan bukan hanya urusan tenaga medis. Ia juga urusan komunitas.
Dan komunitas yang kuat, seringkali, berawal dari masjid.
Mungkin Ramadhan ini bukan hanya tentang menahan lapar. Tapi juga tentang mulai peduli pada air yang kita pakai, batuk yang kita abaikan, dan kegelisahan yang selama ini kita simpan sendiri.