KETIKA MENULIS WAHYU MEMANDU ILMU SECARA OPERASIONAL

2026-02-15 11:37:46 | Diperbaharui: 2026-02-15 11:37:46
KETIKA MENULIS WAHYU MEMANDU ILMU SECARA OPERASIONAL
Sumber: Ilustrasi Ketika Menulis: Wahyu Memandu Ilmu Secara Operasional, Disusun penulis, dengan berbantuan Artificial Intelligence (AI), (Dimodifikasi,15 Februari 2026)

Ketika Menulis Wahyu Memandu Ilmu Secara Operasional

(Dari Buku Ajar Menuju Analisis Pendidikan yang Berkeadilan)

 

Oleh: A. Rusdiana

Pendidikan kita sering disebut sedang sakit. Bukan semata karena kurikulum, asesmen, atau digitalisasi yang belum sempurna, tetapi karena kehilangan ruh keberpihakan. Di ruang akademik, kita mahir menghitung angka, tetapi sering lupa menimbang keadilan. Dalam konteks inilah gagasan “Psikologi Langit” yang diingatkan Imam Suprayogo menemukan relevansinya: pendidikan membutuhkan pendekatan yang menyentuh dimensi batin, bukan sekadar teknis administratif.

Saya merasakan kegelisahan itu ketika menulis buku ajar Pembiayaan Pendidikan. Sejak 2007 menulis menjadi jejak intelektual, tetapi fase 2022–2026 menghadirkan dinamika baru: hadirnya AI sebagai asisten teknis. Ia membantu struktur, sistematika, dan pencarian referensi, tetapi arah tetap ditentukan oleh nurani. Di sinilah pertanyaan mendasar muncul: bagaimana menjadikan “Wahyu Memandu Ilmu” sebagai pendekatan operasional, bukan sekadar simbolik?

Integrasi wahyu dan ilmu tidak cukup dengan mencantumkan ayat di awal bab. Ia harus menjadi kompas analisis. Ketika kita membahas alokasi anggaran pendidikan, misalnya, pertanyaan yang muncul bukan hanya efisiensi, tetapi juga keadilan distribusi. Al-Qur’an menegaskan agar harta tidak beredar di kalangan orang kaya saja (QS. Al-Hasyr: 7). Ini bukan hanya nilai moral, tetapi prinsip kebijakan publik. Dalam teori keadilan sosial John Rawls, keberpihakan pada kelompok paling lemah menjadi indikator keadilan. Nilai ini selaras dengan maqashid syariah yang menempatkan perlindungan terhadap manusia sebagai tujuan utama.

Dalam kajian pendidikan kritis, Paulo Freire menekankan bahwa pendidikan harus membebaskan, bukan menindas. Perspektif ini bertemu dengan spirit wahyu yang memuliakan manusia. Ketika kita membahas subsidi silang, misalnya, pertanyaan wahyu bukan sekadar efektivitas, tetapi apakah kebijakan itu melindungi yang rentan. Ketika membahas CSR pendidikan, pertanyaan bukan hanya citra lembaga, tetapi sejauh mana maslahatnya nyata bagi masyarakat.

Di titik inilah menulis menjadi terapi sekaligus tanggung jawab moral. Setiap hari saya memulai dengan pantun “Psikologi Langit” sebagai pengingat bahwa ilmu harus lahir dari hati yang bersih. Menulis bukan sekadar menyusun kalimat, tetapi menyiram nilai—seperti ungkapan para filsuf Muslim tentang Sya’ban: bulan merawat amal agar Ramadan menjadi musim panen iman. Proses ini menyiapkan pembelajaran semester genap bukan hanya sebagai agenda akademik, tetapi sebagai perjalanan makna.

Dari refleksi tersebut, setidaknya ada lima pembelajaran penting.

Pertama, wahyu sebagai kompas analisis. Setiap konsep keilmuan diuji dengan nilai keadilan, kemaslahatan, dan keberpihakan. Ini membuat ilmu tidak netral secara moral.

Kedua, ilmu sebagai instrumen rahmah. Tujuan akhir pendidikan bukan sekadar kompetensi, tetapi menghadirkan kemanfaatan sosial. Ini sejalan dengan konsep human capital yang berorientasi pada kesejahteraan manusia.

Ketiga, integritas akademik sebagai ibadah. Kejujuran data, ketepatan rujukan, dan keberanian menyampaikan kebenaran adalah bentuk amanah keilmuan.

Keempat, keberpihakan pada yang lemah sebagai indikator mutu. Pendidikan bermutu tidak diukur dari fasilitas, tetapi dari akses bagi mereka yang paling membutuhkan.

Kelima, konsistensi menulis sebagai laku peradaban. Setiap tulisan adalah upaya menjaga nilai agar tidak hilang ditelan waktu.

Komunitas Pena Berkarya Bersama yang kini berjumlah 2.457 anggota menunjukkan bahwa gerakan literasi bukan kerja sunyi tanpa dampak. Ia adalah jaringan kesadaran. Setiap tulisan yang lahir menjadi bagian dari ekosistem makna. Dalam konteks Kompasiana, menjaga konsistensi dari Penjelajah menuju Fanatik bukan sekadar capaian personal, tetapi strategi merawat keberlanjutan gagasan.

Akhirnya, integrasi wahyu dan ilmu adalah kerja panjang yang dimulai dari ruang menulis. Ia menuntut kejujuran batin, keberanian analisis, dan ketekunan merawat nilai. Jika dilakukan secara operasional, bukan simbolik, maka buku ajar tidak hanya menjadi bahan ajar, tetapi peta jalan peradaban di mana ilmu berjalan dalam bimbingan wahyu, dan wahyu menemukan aktualisasinya dalam kebijakan yang adil dan memuliakan manusia. Wallahu A’lam.

______________________

*) Tulisan ini didedikasikan untuk memenuhi tawaran [Topik Pilihan Kompasiana] "Pendidikan Gratis Bukan Sekadar Pembebasan Biaya SPP", sekaligus sebagai bahan penyusunan Buku Ajar Manajemen Pembiayaan Pendidikan.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar