Menulis sebagai Gerakan Peradaban: Dari Buku Ajar Pembiayaan Pendidikan menuju “Wahyu Memandu Ilmu”
Oleh: A, Rusdiana
Ramadan selalu menghadirkan ruang penyembuhan. Di saat banyak orang memperbaiki ibadah, dunia pendidikan justru sedang menghadapi kegelisahan yang tidak sederhana: krisis empati, dominasi angka-angka teknokratis, serta minimnya sentuhan moral dalam pengambilan kebijakan. Dalam konteks inilah menulis buku ajar berbasis Psikologi Langit menemukan maknanya sebagai terapi peradaban.
Al-Qur’an menegaskan bahwa orang berilmu adalah mereka yang paling takut kepada Allah. Rasa takut di sini bukan ketakutan yang melemahkan, tetapi kesadaran moral yang membimbing tindakan. Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Inilah fondasi empati akademik: ilmu tidak berhenti pada analisis, tetapi menghadirkan keberpihakan.
Menulis buku ajar pembiayaan pendidikan—terutama pada bagian pengawasan—sering kali terjebak pada logika angka: efisiensi, efektivitas, unit cost, dan laporan akuntabilitas. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Psikologi Langit mengajarkan bahwa di balik setiap angka ada manusia, ada keluarga yang berjuang membayar biaya sekolah, ada mahasiswa yang hampir putus kuliah, dan ada kebijakan yang menentukan masa depan generasi. Ketika menulis dilakukan dengan kesadaran ini, ia berubah menjadi terapi: menyembuhkan cara pandang, meluruskan niat, dan menumbuhkan empati.
Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) yang hari ini memasuki episode ke-107 dengan 2.469 anggota adalah bukti bahwa gerakan menulis bukan sekadar aktivitas literasi, tetapi gerakan peradaban. Dampaknya mungkin tidak selalu terukur secara statistik, tetapi ia bekerja seperti air yang meresap ke dalam tanah—pelan, namun menumbuhkan kehidupan. Setiap tulisan adalah sedekah intelektual, setiap paragraf adalah jejak amal jariyah.
Teori kontemporer tentang expressive writing yang dikembangkan James W. Pennebaker menunjukkan bahwa menulis memiliki efek terapeutik: ia menata emosi, memperjelas pikiran, dan meningkatkan kesehatan mental. Dalam perspektif pendidikan kritis Paulo Freire, menulis adalah proses conscientization—membangun kesadaran untuk membebaskan manusia dari ketidakadilan. Ketika dua pendekatan ini dipadukan dengan Psikologi Langit, menulis menjadi jalan integrasi ilmu dan wahyu: ilmu memberi alat analisis, wahyu memberi arah moral.
Dari perjalanan menulis buku ajar ini, setidaknya ada lima pembelajaran.
Pertama, menulis melatih empati akademik. Mahasiswa tidak hanya belajar menghitung biaya pendidikan, tetapi memahami beban psikologis keluarga miskin. Anggaran tidak lagi sekadar angka, tetapi representasi keadilan sosial.
Kedua, menulis menyatukan ilmu dan wahyu. Ilmu tanpa wahyu melahirkan kekeringan moral, sementara wahyu tanpa ilmu kehilangan daya transformasi sosial. Integrasi keduanya melahirkan kebijakan yang adil dan manusiawi.
Ketiga, menulis adalah terapi spiritual. Di tengah pendidikan yang “sakit”, menulis menjadi ruang muhasabah. Ia memperbaiki niat, menata orientasi, dan menghadirkan ketenangan batin.
Keempat, menulis membangun ketahanan intelektual. Strategi mempertahankan kedudukan sebagai “penjelajah” di Kompasiana menuju “fanatik” bukan sekadar target digital, tetapi latihan istiqamah dalam berkarya. Setiap hari diawali dengan pantun Psikologi Langit, menghadirkan energi ruhani sebelum memasuki ruang analisis akademik.
Kelima, menulis adalah investasi peradaban. Sebagaimana ungkapan para filsuf Muslim bahwa Sya’ban adalah masa menyiram amal agar Ramadan menjadi musim panen iman, menulis hari ini adalah investasi untuk generasi masa depan.
Memasuki Semester Genap 2025/2026, dunia pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar kurikulum baru. Ia membutuhkan sentuhan ruhani dalam setiap kebijakan dan praktik akademik. Buku ajar yang ditulis dengan pendekatan Psikologi Langit bukan hanya sumber belajar, tetapi juga sumber kesadaran.
Akhirnya, menulis bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi jalan pengabdian. Ia menyembuhkan penulisnya, menguatkan pembacanya, dan pelan-pelan memperbaiki peradaban. Dari komunitas kecil, dari ruang sederhana, dari layar yang mungkin tidak terlalu luas lahir harapan besar: bahwa wahyu benar-benar memandu ilmu. Dan di bulan Ramadan ini, menulis menjadi ibadah yang paling sunyi sekaligus paling panjang jejaknya. Wallahu a’lam.