EMBUH PAGI 2026
240226 | Ramadan 1447 H: Saya Layak Diberi Ampunan
Ramadan 1447 H.
Bulan yang oleh umat Islam di seluruh dunia disebut sebagai bulan ampunan. Bulan ketika langit terasa lebih dekat. Bulan ketika doa tidak sekadar dipanjatkan, tetapi dipeluk.
Dalam kalender Hijriah, Ramadan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah ruang sunyi yang dibuka oleh Allah untuk manusia yang ingin kembali.
Tetapi izinkan saya hari ini, khusus untuk panjenengan semua, sedulur di Komunitas Wong Embuh (KoWE).
Kita sering sibuk meminta ampun kepada Allah.
Namun kita lupa satu hal yang diam-diam menggerogoti batin:
Kita tidak pernah benar-benar memaafkan diri sendiri.
Kita hafal bahwa Allah Maha Pengampun.
Kita sering menyebut Asma-Nya.
Kita menangis dalam doa.
Tapi setelah itu?
Kita kembali mencambuk diri dengan kalimat yang lebih kejam dari hukuman siapa pun.
“Aku bodoh.”
“Aku selalu salah.”
“Aku memang tidak pantas berhasil.”
“Aku memang tidak layak dicintai.”
Kalimat-kalimat itu tidak terdengar oleh orang lain.
Namun ia hidup, berulang, dan mengendap dalam pikiran bawah sadar.
Sebagai seorang praktisi hipnoterapi, saya berkali-kali menemukan satu pola yang sama:
luka terdalam manusia bukan karena dibenci orang lain.
Tetapi karena ia terlalu keras menghakimi dirinya sendiri.
Self-judging menjadi candu.
Rasa bersalah menjadi identitas.
Dan tanpa sadar, seseorang mulai menyabotase dirinya sendiri.
Menolak peluang karena merasa tidak layak.
Takut melangkah karena takut salah lagi.
Menghindari kebahagiaan karena merasa belum cukup baik.
Ramadan datang membawa kabar gembira.
Namun bagaimana kabar itu bisa masuk,
jika di dalam kepala kita masih ada hakim yang tak pernah libur?
Di fase Mind Detox dalam perjalanan 30 Hari Reset Pikiran & Hati, hari keenam ini kita membersihkan racun yang paling halus:
keras terhadap diri sendiri.
Dalam Embuhisme, saya sering menyampaikan satu kalimat yang mungkin terdengar sederhana, tapi menohok:
Taubat itu bukan hanya memohon ampun, tetapi berhenti menghukum diri tanpa akhir.
Kita rajin istighfar.
Tetapi kita pelihara hukuman internal.
Kita meminta dosa dihapus.
Tetapi kita terus memutar ulang kesalahan yang sama di kepala.
Pertanyaannya sederhana, tapi tajam:
Jika Allah Maha Pengampun,
mengapa kita merasa lebih berhak menjadi hakim daripada Dia?
Memaafkan diri bukan berarti lari dari tanggung jawab.
Bukan berarti menyangkal kesalahan.
Bukan berarti menjadi manusia yang permisif.
Justru sebaliknya.
Ia berarti mengakui salah dengan jujur.
Belajar dengan sadar.
Lalu melangkah tanpa membawa cambuk masa lalu di pundak.
Rasa bersalah yang sehat melahirkan perbaikan.
Namun rasa bersalah yang berlarut-larut melahirkan ketakutan.
Dan ketakutan tidak pernah melahirkan pertumbuhan.
Ramadan adalah bulan kembali.
Tetapi kembali tidak mungkin terjadi jika kita masih menyeret identitas lama:
“Si Pendosa.”
“Si Gagal.”
“Si Tidak Layak.”
Anda bukan kesalahan Anda.
Anda adalah manusia yang sedang belajar.
Layak diberi ampunan bukan karena sempurna.
Layak diberi ampunan karena mau berubah.
Coba renungkan dengan jujur, sedulur KoWE:
Apakah rasa bersalah yang Anda pelihara selama ini membuat Anda lebih baik?
Ataukah ia justru membuat Anda ragu melangkah?
Ramadan 1447 H ini, izinkan diri Anda pulang.
Bukan hanya pulang kepada Allah.
Tetapi pulang kepada penerimaan diri.
Berani berkata dalam hati:
Saya mengakui kesalahan saya.
Saya belajar darinya.
Dan saya layak diberi ampunan.
Layak, karena saya mau memperbaiki diri.
Layak, karena saya tidak berhenti bertumbuh.
Layak, karena Allah membuka pintu-Nya lebih lebar dari luka saya.
Sisanya?
{{{ Mbuh Priben Carane’ }}}, Kersane Gusti Allah.
Yang penting hari ini satu keputusan diambil:
berhenti menjadi algojo bagi diri sendiri.
Karena Ramadan tidak datang untuk membuat kita semakin keras.
Ia datang untuk melembutkan.
Menjernihkan.
Menguatkan harapan.
Dan mungkin, justru di titik ketika Anda memaafkan diri,
di situlah doa Anda mulai benar-benar terangkat.
{{{ Positif, Sehat dan Bahagia }}}
Brebes, 24 Februari 2026
Aziz Amin | Wong Embuh
Trainer & Professional Hypnotherapist
Embuh Pagi 2026 selama Ramadan 1447 H – versi lengkap dengan afirmasi dan self hypnosis dapat diikuti melalui komunitas yang tersedia.