MENULIS DI HARLAH PANCASILA: Tafakur Kebangsaan, Menjaga Marwah Indonesia

2026-06-01 21:05:10 | Diperbaharui: 2026-06-01 22:45:40
MENULIS DI HARLAH PANCASILA: Tafakur Kebangsaan, Menjaga Marwah Indonesia
Ilustrasi Menulis di HARLAH Pancasila 01 Juni 2026 M: Tafakur Kebangsaan, Menjaga Marwah Indonesia Sumber dibuat oleh penulis menggunakan teknologi kecerdasan buatan DALL*E/ChatGPT, 01 Juni 2026.

 

 

Oleh: A. Rusdiana

PBB 194 | Pengikut: 2.601 Orang

Tanggal 1 Juni selalu menghadirkan ruang refleksi bagi bangsa Indonesia. Pada hari tersebut, bangsa ini memperingati Hari Lahir Pancasila, momentum historis ketika Ir. Soekarno menyampaikan gagasan dasar negara dalam Sidang BPUPKI tahun 1945. Hingga saat ini, masih terdapat sebagian kalangan yang memandang dan menafsirkan peringatan 1 Juni dengan sudut pandang yang berbeda. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari dinamika sejarah dan perkembangan pemikiran kebangsaan yang patut dihormati secara arif dan proporsional.

Namun, di balik berbagai perbedaan pandangan itu, terdapat satu pelajaran besar yang tidak boleh dilupakan. Pancasila lahir bukan dari ruang kosong. Pancasila lahir dari proses berpikir, berdialog, membaca realitas, merenung, mencatat, menyusun konsep, dan mengkomunikasikan gagasan kepada publik. Dengan kata lain, sebelum menjadi dasar negara, Pancasila terlebih dahulu hadir sebagai gagasan yang tumbuh dari pergulatan intelektual para pendiri bangsa.

Karena itu, Hari Lahir Pancasila sesungguhnya dapat dimaknai sebagai momentum untuk menghidupkan kembali tradisi berpikir dan menulis. Menulis bukan sekadar aktivitas akademik atau keterampilan komunikasi, melainkan sarana tafakur kehidupan sekaligus tafakur kebangsaan. Melalui tulisan, seseorang dapat berdialog dengan dirinya sendiri, memahami pengalaman hidupnya, mengolah gagasannya, serta menghadirkan kontribusi bagi masyarakat dan bangsanya.

Bagi anggota PBB khususnya, dan pegiat literasi pada umumnya, Hari Lahir Pancasila menjadi pengingat bahwa peradaban besar selalu diawali oleh kekuatan gagasan. Jika para pendiri bangsa menulis, berdiskusi, dan merumuskan pemikiran untuk melahirkan Indonesia, maka generasi hari ini perlu terus menulis untuk menjaga Indonesia. Dari tulisan lahir gagasan, dari gagasan lahir perubahan, dan dari perubahan lahirlah peradaban. Tujuan Penulisan ini, menguatkan budaya menulis sebagai sarana tafakur kehidupan dan tafakur kebangsaan dalam upaya menjaga marwah Indonesia sebagai bangsa yang beradab, berkarakter, dan berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Berikut ulasannya:

Pertama: Menulis sebagai Sarana Tafakur Kehidupan; Menulis bukan sekadar aktivitas akademik atau keterampilan komunikasi, melainkan sarana perenungan diri. Ketika seseorang menulis, ia sedang berdialog dengan pengalaman, mengolah pikiran, dan menata perasaan. Melalui tulisan, berbagai peristiwa yang tampak biasa dapat berubah menjadi pelajaran yang bermakna. Tafakur yang dituangkan dalam tulisan membantu seseorang memahami hikmah di balik keberhasilan maupun kegagalan. Karena itu, menulis dapat menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus membangun kebijaksanaan hidup yang lebih matang.

Kedua: Menulis sebagai Jejak Gagasan Perubahan; Sejarah bangsa menunjukkan bahwa perubahan besar sering diawali oleh gagasan yang dirumuskan dan dikomunikasikan melalui tulisan. Pancasila sendiri lahir dari proses pemikiran yang panjang sebelum kemudian menjadi dasar negara. Tulisan memungkinkan ide-ide besar melampaui ruang dan waktu serta diwariskan kepada generasi berikutnya. Oleh karena itu, budaya menulis perlu terus ditumbuhkan agar lahir generasi yang tidak hanya menjadi penikmat sejarah, tetapi juga pencipta sejarah melalui karya dan pemikirannya.

Ketiga: Menulis sebagai Penguat Kesadaran Kebangsaan; Menulis memiliki peran penting dalam menjaga ingatan kolektif bangsa. Melalui tulisan, sejarah dapat diwariskan, nilai-nilai kebangsaan dapat dipahami, dan semangat persatuan dapat dirawat. Di tengah derasnya arus informasi, disinformasi, dan polarisasi opini, tulisan yang jernih dan mencerahkan menjadi sarana membangun dialog yang sehat. Menulis bukan hanya menyampaikan pendapat, tetapi juga membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga Indonesia sebagai rumah besar bagi seluruh anak bangsa.

Keempat: Menulis sebagai Sedekah Peradaban; Tulisan yang baik akan terus hidup meskipun penulisnya telah tiada. Setiap ilmu yang dibagikan, pengalaman yang didokumentasikan, dan gagasan yang menginspirasi merupakan kontribusi nyata bagi pembangunan peradaban. Menulis bukan hanya menghasilkan teks, melainkan meninggalkan jejak pemikiran yang dapat menjadi penerang bagi generasi berikutnya. Dalam perspektif ini, menulis merupakan salah satu bentuk sedekah intelektual yang manfaatnya dapat terus mengalir sepanjang waktu.

Singkatnya, bagi anggota PBB khususnya, dan masyarakat literasi pada umumnya, Hari Lahir Pancasila hendaknya tidak hanya diperingati sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga dijadikan momentum memperkuat budaya berpikir, membaca, dan menulis. Terlepas dari adanya perbedaan pandangan mengenai berbagai aspek sejarah 1 Juni, penulis memandang bahwa pelajaran terpenting yang dapat diambil adalah bahwa lahirnya Pancasila diawali oleh kekuatan gagasan. Gagasan tersebut tumbuh melalui proses tafakur, dialog, pembelajaran, dan tradisi literasi yang kuat.  Karena itu, sikap penulis bukan memperdebatkan sejarah, melainkan mengambil hikmah dari sejarah. Jika para pendiri bangsa menulis untuk melahirkan Indonesia, maka generasi hari ini perlu menulis untuk menjaga Indonesia. Menulis adalah sarana tafakur kebangsaan, media merawat akal sehat, sekaligus ikhtiar menjaga marwah Indonesia di tengah berbagai tantangan zaman. Dari tulisan lahir gagasan, dari gagasan lahir perubahan, dan dari perubahan lahirlah peradaban yang bermartabat. Wallahu A'lam.

_____________

Profil Penulis: Berpangkat Penjelajah di Kompasiana sejak 22 Januari 2025:

Dokumen pribadi dibuat khusus sebagai pendamping penulisan esai/opini di berbagai media sejak tahun 2020, dengan harapan dapat mengantarkan dari Penjelajah menuju Fanatik. Insya Allah.

 

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar