Oleh: A. Rusdiana
(PBB ke-192 Pengikut: 2.596)
Hari Tasyrik (11–13 Dzulhijjah) merupakan hari-hari istimewa yang sarat dengan zikir, syukur, dan penguatan spiritual. Pada hari-hari tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT. Namun, di tengah perkembangan teknologi dan budaya literasi saat ini, zikir tidak hanya dapat diwujudkan melalui lisan, tetapi juga melalui tulisan yang menghadirkan ilmu, hikmah, dan pencerahan. Fenomena media sosial yang sering dipenuhi sensasi dan kegaduhan opini menghadirkan tantangan tersendiri bagi dunia literasi.
Di sisi lain, spirit menulis yang terus tumbuh di lingkungan PBB menjadi tanda bahwa literasi masih memiliki harapan besar sebagai sarana dakwah dan pengembangan ilmu. Pada PBB ke-192 dengan 2.596 pengikut, penulis menerima laporan menggembirakan dari Hidayat, mahasiswa Program Doktor (S-3), yang sedang menyusun peta jalan penulisan buku Wirid Asmaul Husna menjadi 99 judul tulisan. Proses yang dimulai dari penetapan judul, pengumpulan referensi, penyusunan outline, penulisan bertahap, hingga persiapan cetak menunjukkan bahwa menulis bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan ikhtiar mengikat ilmu agar tetap hidup dan memberi manfaat bagi banyak orang. Fenomena kecil ini memperlihatkan bahwa ketika menulis dilakukan dengan niat ibadah, maka pena dapat menjadi sarana zikir, tafakur, dan amal jariyah yang terus mengalir.
Karena itu, tulisan ini bertujuan menjelaskan bahwa menulis dapat menjadi bentuk zikir intelektual dan sarana tafakur yang bernilai ibadah. Menulis pada Hari Tasyrik dapat memperkuat kesadaran spiritual, memperdalam makna kehidupan, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Hari Tasyrik merupakan momentum memperbanyak zikir dan amal saleh. Dalam konteks literasi, menulis dapat menjadi media mengingat Allah SWT sekaligus sarana menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Untuk lebih jelasnya, mari kita elaborasi satu persatu:
Pertama: Menulis sebagai Zikir Intelektual; Hari Tasyrik dikenal sebagai hari zikir. Rasulullah SAW bersabda bahwa Hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah SWT. Dalam konteks kekinian, menulis artikel keislaman, refleksi spiritual, dan pesan moral dapat menjadi bentuk zikir intelektual yang mengajak manusia mengingat kebesaran Allah SWT. Ketika tulisan menghadirkan nilai tauhid, syukur, dan akhlak mulia, maka pena menjadi sarana dakwah yang memperpanjang gema takbir melalui ruang literasi.
Kedua: Menulis sebagai Sarana Tafakur Kehidupan; Menulis bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi juga ruang perenungan dan refleksi diri. Melalui tulisan, seseorang dapat mengolah pengalaman hidup, memahami hikmah peristiwa, serta menemukan makna di balik berbagai ujian kehidupan. Tafakur yang dituangkan dalam tulisan akan memperkuat kesadaran spiritual dan membantu manusia melihat kehidupan dengan perspektif yang lebih jernih. Karena itu, menulis dapat menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memperkaya kebijaksanaan hidup.
Ketiga: Menulis sebagai Pengikat Ilmu; Para ulama sering mengingatkan bahwa ilmu harus diikat agar tidak hilang. Salah satu cara mengikat ilmu adalah dengan menuliskannya. Hari Tasyrik yang merupakan waktu istimewa untuk beribadah dapat dimanfaatkan untuk merekam hikmah, pelajaran, dan pengalaman spiritual yang diperoleh selama bulan Dzulhijjah. Tulisan yang lahir dari proses perenungan tersebut tidak hanya bermanfaat bagi penulis, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Dari sinilah menulis menjadi bagian dari amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir.
Keempat: Menulis sebagai Cahaya Peradaban; Sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan lahir dari tradisi membaca dan menulis yang kuat. Banyak karya ulama besar tetap hidup hingga kini karena diwariskan melalui tulisan. Di era digital, semangat tersebut perlu terus dihidupkan agar literasi tidak terjebak pada sensasi dan viralitas semata. Menulis yang menghadirkan ilmu, akhlak, dan pencerahan akan menjadi cahaya bagi masyarakat serta berkontribusi membangun peradaban yang lebih beradab, berilmu, dan bermartabat.
Singkatnya, hari Tasyrik mengajarkan bahwa zikir tidak hanya dilakukan melalui lisan, tetapi juga dapat diwujudkan melalui karya dan pemikiran yang bermanfaat. Menulis menjadi salah satu bentuk zikir intelektual yang memperkuat kesadaran spiritual sekaligus menyebarkan ilmu kepada masyarakat. Ketika tulisan lahir dari tafakur, keikhlasan, dan niat menghadirkan kebaikan, maka tulisan tersebut bernilai ibadah dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir manfaatnya. Karena itu, menulis hendaknya tidak sekadar mengejar sensasi, tetapi menjadi sarana mengingat Allah SWT, mengikat ilmu, dan menebarkan cahaya peradaban. Wallahu A’lam.
__________
*) Profil Penulis Berpangkat Penjelajah Menuju Fanatik di Kompasiana ini sejak 22 Januari 2025. Mohon Dorong Do’a…: