Komoditas Narasi yang Dipentaskan di Atas Luka Papua

2026-05-28 11:18:25 | Diperbaharui: 2026-05-28 11:26:20
Komoditas Narasi yang Dipentaskan di Atas Luka Papua
Gambar Pesta Babi, AI

Film Pesta Babi ini menjadi semacam "pencitraan". Memang benar, melalui film ini kita diajak untuk membongkar realitas yang selama ini terkubur dan jarang disuarakan.

Tapi klo ketika k'tong mencoba melihat lebih dalam, muncul sebuah pertanyaan yang jauh lebih penting tentang siapa yang sebenarnya diuntungkan, dan siapa yang justru dirugikan. Banyak skali perdebatan pro dan kontra yang bermunculan, melibatkan banyak pihak dengan interestnya masing-masing.

Di tengah kontroversi dan kompleksitas, apa solusi nyata bagi realitas yang sedang dialami Papua hari ini? Karna rakyat Papua tidak lagi membutuhkan simbol, dramatika layar kaca, puisi-puisi indah, ataupun retorika kosong. Yang dibutuhkan rakyat Papua hari ini adalah langkah konkret, resolusi dan rekonsiliasi atas konflik berkepanjangan yang terus melukai Papua di berbagai sektor kehidupan.

Sejak film Pesta Babi ini ditayangkan, saya sama sekali tidak tertarik untuk menontonnya. Karna insting yang terus bekerja di dalam diri saya, seolah mengatakan bahwa ada _something_ di balik layar yang tidak sepenuhnya tampak di permukaan. Bisa saja k'tong sedang diarahkan pada narasi tertentu, tanpa memahami siapa yang mengendalikan cerita dan untuk tujuan apa cerita itu dibangun.

Mungkin tong semua sedang berada dalam situasi yang samar, satu sisi bisa menjadi pemenang, tetapi di sisi lain kita bisa menjadi pecundang tanpa pernah menyadarinya. Sebab sering kali isu tentang Papua diperdagangkan dalam ruang-ruang kepentingan, baik politik, ekonomi, maupun popularitas, sementara orang Papua sendiri tetap berdiri di titik nadir dengan memikul luka, kehilangan, dan ketidakpastian yang tak kunjung selesai.

Persoalannya bukan lagi tentang seberapa viral film pesta babi, seberapa ramai perdebatan di media sosial, atau seberapa banyak simpati yang berhasil dibangun. Persoalan sesungguhnya adalah apakah semua itu mampu menghadirkan perubahan nyata bagi tanah Papua dan manusia yang hidup di atasnya. Jika tidak, maka semua hanya akan menjadi pertunjukan emosional yang perlahan menghilang bersama waktu, sementara konflik dan penderitaan tetap tinggal sebagai kenyataan sehari-hari.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar