MENULIS DI HARI TASYRIK: Zikir Literasi atau Sekedar Sensasi?

2026-05-28 16:04:55 | Diperbaharui: 2026-05-28 17:43:02
MENULIS DI HARI TASYRIK: Zikir Literasi atau Sekedar Sensasi?
Ilustrasi Menulis di hari Tasryik. Momentum ini mengingatkan saya saat menunaikan ibadah haji tahun 2011, Sumber dibuat dan dimodifikasi oleh penulis dengan berbantuan Teknologi Kecerdasan Buatan (DALL•E/ChatGPT), Kamis, 28 Mei 2026.


Oleh: A. Rusdiana

PBB kali ini memasuki edisi ke-191 dengan jumlah pengikut 2.595. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan amanah literasi untuk terus menghadirkan tulisan yang mencerahkan, menyejukkan, dan memberi manfaat bagi pembaca. Karena itu, momentum Hari Tasyrik menjadi ruang refleksi bahwa menulis tidak boleh berhenti pada sensasi, tetapi harus menjadi zikir intelektual, tafakur sosial, dan sedekah peradaban.

Hari Tasyrik pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah menjadi momentum spiritual bagi para jamaah haji di Mina untuk melaksanakan lempar jumrah sebagai simbol melawan godaan setan dan hawa nafsu duniawi. Momentum ini mengingatkan saya saat menunaikan ibadah haji tahun 2011, ketika menyaksikan jutaan manusia bergerak penuh ketertiban menuju jumrah sambil melantunkan zikir kepada Allah SWT. Fenomena tersebut menghadirkan pelajaran bahwa kehidupan memerlukan istiqamah, keberanian melawan keburukan, dan keteguhan menjaga iman. Dalam konteks literasi, menulis pada Hari Tasyrik juga dapat dimaknai sebagai bagian dari zikir intelektual dan amal saleh yang menghadirkan pencerahan bagi kehidupan manusia. Untuk itulah, hari Tasyrik bukan hanya momentum ibadah ritual, tetapi juga pengingat agar manusia mampu melawan hawa nafsu, menjaga istiqamah, dan menghadirkan kebaikan melalui ilmu serta tulisan yang bermanfaat bagi masyarakat. Untuk lebih jelasnya, mari kita elaborasi satu persatu:

Pertama: Menulis sebagai Bentuk Zikir dan Tafakur; Hari Tasyrik merupakan waktu untuk memperbanyak zikir kepada Allah SWT melalui takbir, tahmid, dan tahlil. Dalam konteks literasi, menulis artikel keislaman, refleksi spiritual, dan pesan moral juga dapat menjadi bentuk zikir intelektual yang mengajak manusia mengingat Allah SWT. Menulis bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi sarana tafakur untuk memperkuat kesadaran diri, memperdalam makna kehidupan, dan menghadirkan cahaya ilmu bagi masyarakat. Ketika tulisan mampu mengingatkan manusia pada nilai iman dan akhlak, maka tulisan tersebut menjadi bagian dari amal saleh yang bernilai ibadah.

Kedua: Menulis Melanjutkan Semangat Kurban dan Kepedulian; Ibadah kurban pada Hari Raya Iduladha mengajarkan nilai pengorbanan, kepedulian sosial, dan semangat berbagi kepada sesama. Menulis kisah inspiratif tentang kurban, kepedulian sosial, dan pengalaman spiritual selama Dzulhijjah menjadi cara melanggengkan nilai-nilai kebaikan agar terus hidup dalam masyarakat. Tulisan yang baik dapat membangun empati, memperkuat ukhuwah, dan menumbuhkan rasa syukur dalam kehidupan sosial. Dari sinilah menulis tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga media dakwah dan syiar kebaikan yang manfaatnya dapat dirasakan banyak orang secara berkelanjutan.

Ketiga: Menulis Melawan Godaan Sensasi dan Popularitas; Prosesi lempar jumrah mengajarkan bahwa manusia harus berani melawan godaan setan dan hawa nafsu yang dapat menjauhkan diri dari jalan Allah SWT. Dalam dunia literasi modern, penulis juga menghadapi godaan popularitas, viralitas, dan sensasi media sosial yang sering mengabaikan etika dan nilai moral. Karena itu, menulis harus diarahkan menjadi ruang pencerahan, bukan sekadar ruang kegaduhan opini. Tulisan yang penuh hikmah, kejujuran, dan tanggung jawab sosial akan menghadirkan manfaat jangka panjang bagi masyarakat serta memperkuat budaya ilmu dalam kehidupan bangsa.

Keempat: Menulis sebagai Sedekah Peradaban; Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu yang bermanfaat merupakan amal jariyah yang tidak terputus pahalanya. Menulis sejatinya adalah proses mengabadikan ilmu agar terus hidup melintasi ruang dan waktu. Tulisan yang baik dapat membentuk cara berpikir masyarakat, memperkuat akhlak, dan menumbuhkan kesadaran sosial. Dalam perspektif peradaban, literasi memiliki kekuatan besar membangun budaya ilmu dan karakter bangsa. Karena itu, menulis dapat dimaknai sebagai sedekah peradaban yang manfaatnya terus mengalir sepanjang zaman selama tulisan tersebut memberi pencerahan dan kebaikan bagi umat manusia.

Hari Tasyrik mengajarkan bahwa kehidupan memerlukan zikir, istiqamah, dan keberanian melawan godaan keburukan. Nilai tersebut juga sangat relevan dalam dunia literasi dan aktivitas menulis. Menulis tidak boleh hanya menjadi sarana sensasi dan popularitas sesaat, tetapi harus menghadirkan hikmah, ilmu, dan pencerahan bagi masyarakat. Ketika tulisan mampu memperkuat iman, membangun akhlak, dan menumbuhkan kepedulian sosial, maka tulisan tersebut telah menjadi bagian dari amal saleh dan sedekah peradaban yang manfaatnya terus hidup melintasi zaman. Karena itu, menulis di Hari Tasyrik dapat dimaknai sebagai bentuk zikir intelektual menuju kehidupan yang lebih beradab dan penuh keberkahan.

_________________

*) Profil Penulis Berpangkat Penjelajah Menuju Fanatik di Kompasiana ini sejak 22 Januari 2025. Mohon Dorong Do’a…:

Dokumen pribadi dibuat khusus untuk pendamping penulisan esai/opini di media sejak tahun 2020.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar