Hi, Koteker dan Kompasianer, apa kabar? Masih sehat dan bahagia, bukan.
Sabtu lalu, Komunitas Traveler Kompasiana dan Pesanggrahan Indonesia e.V Bonn menyelenggarakan Kotekatalk-279 membahas tentang bagaimana menyelenggarakan pesta ulang tahun ala Indonesia di Jerman.
Narasumber Gana Stegmann, diaspora Semarang yang sudah lama tinggal dan bekerja di Jerman telah menceritakan pengalamannya mengadakan pesta ulang tahun 50 tahun yang meriah dengan nuansa keindonesiaan. Sumbangan ultah digunakan untuk program "My bag is your bag", yakni membagikan tas berisi makanan dan alat sekolah untuk anak jalanan, khususnya di Pondok Boro, Semarang. Proyek yang sudah dirintis sejak 2009 itu merupakan kegiatan pribadi yang melibatkan teman, tetangga, kenalan dan saudara dari narsum.
Adapun langkah sebelum mengadakan pesta adalah sebagai berikut:
- Mendata tamu yang akan diundang
- Mencari tempat pesta terdekat
- Membuat undangan
- Mencari catering
- Membeli dekorasi
- Belanja ke Perancis
- Latihan tari lagi
Mengingat tamu yang ingin diundang ada 200 orang, akhirnya dikurangi, hingga 80 orang saja. Ini mengingat faktor tempat. Hall yang akan disewa, memiliki dua ruangan. Satu dengan kapasitas 300 orang dan satunya lagi, 70 orang. Artinya, ruangan pertama terlalu besar dan ruangan kedua terlalu kecil. Setelah dirembug, kapasitas 70 boleh diisi 80 walau terlalu sempit.
Tempat pesta ditentukan di Ostbaarhalle. Sedangkan empat tempat lainnya terlalu mahal, walau dengan kapasitas gedung yang sama. Alasannya, walau gedung terbilang memiliki jangkauan km yang sama, harganya naik karena penyewa tidak tinggal di dekat gedung yang akan disewa, atau bukan penduduk di sana.
Narsum merupakan pribadi yang mencintai lingkungan. Demi ramah lingkungan, undangan tidak dicetak tapi dikirim melalui whatsapp. Konfirmasi juga melalui whatsapp. Undangan digital ini dinilai efektif dan efisien. Apalagi, jika sudah ada kelompok yang akan diundang memiliki whatsapp group. Tanggal ditentukan 11 April, mengingat tanggal ultah sebenarnya adalah tanggal 1 bulan 1. April adalah musim semi, lebih hangat dan ceria, masa aman untuk berkendara dan mengadakan pertemuan.
Ultah keempatpuluh pernah diadakan dengan tamu 80 orang, narsum memasak sendiri. Mengingat sudah merasa letih dari bekerja, dan merasa sudah tidak muda lagi sehingga energinya tidak sekuat dulu, narsum memutuskan membagi dua tugas memasak. Catering Juli Wiess dari Bali bersedia membantu. Pembagian kuliner seperti nasi kuning, nasi goreng, mie goreng, sate ayam, rendang, kerupuk, trancam, martabak asin, bakwan menjadi lebih ringan setelah dibagi dua. Dengan memasak sendiri, bea bisa ditekan.
Dekorasi didominasi warna emas karena 50 tahun menjadi simbol warna golden, emas. Hiasan balon, boneka kelinci (karena masih April, suasana paskah) harus dibeli di action, toko retil yang punya harga diskon. Lalu, dekorasi kain Indonesia (kain Bali, batik, lurik), topeng, payung kertas adalah koleksi pribadi. Ini juga menghidupkan suasana keindonesiaan di negeri orang.
Tempat tinggal narsum dekat dengan Perancis. Itulah ada keinginan sembari jalan-jalan, belanja kebutuhan pesta di sana seperti kue ultah, sosis, roti dan kue. Pulangnya, menikmati kuliner Perancis. Harga BBM dan bahan makanan dihitung jadi lebih murah dari Jerman.
Acara akan diisi tarian Indonesia seperti Bajidor Kahot dari Sunda, Manokrawa dari Bali dan Geyol Dhenok dari Semarang. Narsum menarikannya sendiri. Biasanya, ia akan menari dengan dua gadisnya tapi mereka malu banyak tamu yang dikenal. Untungnya, para tamu mempersembahkan sambutan, nyanyian, puisi dan tarian sebagai rasa gembira merayakan ultah ke-50 bersama narsum. Setelah sambutan awal dari yang ultah, suami narsum ikut membacakan sambutan yang menyentuh hati para tamu. Indahnya kehidupan perantauan di Jerman yang ditempuh narsum tersirat di sana.
Pesta yang dimulai dari pukul 18.00 berakhir pukul 24.00. Tetapi masih banyak tamu yang enggan pulang sampai keesokan harinya, pukul 03.00. Sembari menunggu tamu pulang, narsum dan keluarga mengusung bahan makanan sisa ke dalam mobil. Semua dibawa pulang setelah tamu tiada.
Masih dari Jerman, narasumber berikutnya, Siti Asiyah, artis Bonn. Ia akan menceritakan tentang apa itu pohon Mei. Nggak terasa sudah bulan Mei. Tepat tanggal 1, pohon ini didirikan. Satu malam sebelumnya, ada kejadian khusus yang menjadi tradisi, menyembunyikan barang milik tetangga dan kerabat.
Sejak kapan tradisi itu ada? Bagaimana penampakan pohon? Apakah ini juga menjadi tradisi seluruh kota di Jerman? Apa yang dilakukan orang pada hari itu? Acara apa saja yang diselenggarakan di kota atau desa di Jerman pada hari H? Siapa saja yang terlibat dalam kegiatan?
Untuk tahu jawabannya, silakan bergabung dalam Kotekatalk-280. Obrolan sederhana ini akan diselengarakan pada:
- Hari/Tanggal: 9 Mei 2026
- Pukul: 16.00 WIB Jakarta atau 11.00 CEST Berlin
- Link: Di SINI
"Buah durian harum baunya, buah manggis manis rasanya. Bersama Komunitas Traveler Kompasiana, kita keliling dunia." Tanpa harus terbang sendiri ke Jerman, kalian akan mendengarkan, menyimak tentang tradisi Jerman ini. Ada nilai dan norma tinggi yang ada di hari yang bertepatan dengan hari buruh internasional itu.
Jumpa segera.
Salam Koteka. (Gana Stegmann)