MENULIS MENUJU LITERASI BERMAKNA: MASIHKAH TULISAN KITA MENJADI CAHAYA PERADABAN?
Oleh: A. Rusdiana
Pagi 9 Mei 2026 menjadi ruang refleksi yang menarik dalam perjalanan literasi PBB ke-176 yang kini diikuti 2.574 anggota. Di tengah rutinitas menulis dan mengunggah empat bait pantun bertema ilmu, muncul fenomena yang patut direnungkan: tulisan hari ini semakin banyak, tetapi belum semuanya menghadirkan makna. Pada saat yang sama, unggahan elaborasi pantun 8 Mei 2026 di Kompasiana tentang “Mengukuhkan Makna Ilmu, Sujud, dan Cahaya Peradaban” memperoleh respons positif dari Ustad Alfaqier yang menegaskan bahwa ilmu sejati seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan. Secara teoretis, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan proses membangun kesadaran, refleksi diri, dan tanggung jawab peradaban.
Teringat pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah yang sangat masyhur: “Qayyidul ‘ilma bil kitab” — “Ikatlah ilmu dengan menulisnya.” Ilmu diibaratkan seperti hewan buruan yang berlari kencang, sedangkan tulisan adalah tali pengikatnya agar ilmu tidak hilang dan lepas dari ingatan. Nasihat ini juga sejalan dengan pesan Rasulullah SAW: “Jagalah ilmu dengan menulis.” Para ulama besar pun menegaskan hal yang sama. Imam Syafi’i berkata, “Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya.” Makna terdalam dari pesan ini bukan sekadar anjuran mencatat, tetapi ajakan agar ilmu dijaga, diamalkan, dan diwariskan melalui tulisan yang menghadirkan manfaat bagi kehidupan.
Namun demikian, masih terdapat GAP antara idealitas literasi bermakna dengan praktik menulis yang sering berorientasi pada sensasi, validasi, dan popularitas sesaat. Tidak sedikit tulisan hadir hanya untuk membangun citra, memenangkan perdebatan, atau mencari perhatian publik tanpa kedalaman makna. Padahal, literasi sejati seharusnya melahirkan kesadaran, memperkuat kejujuran intelektual, dan membangun peradaban yang berkeadilan. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan menegaskan bahwa menulis menuju literasi bermakna harus dimulai dari kesadaran bahwa ilmu adalah cahaya kehidupan yang mendidik, membangun umat, dan memperbaiki diri.
Namun demikian, literasi bermakna tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh melalui proses panjang pembelajaran, kejujuran intelektual, pengendalian ego, serta kesadaran bahwa tulisan adalah amanah ilmu. Menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan kata, tetapi jalan merawat pengetahuan agar tetap hidup dan memberi manfaat bagi kehidupan. Karena itu, perjalanan menuju literasi bermakna perlu dibangun melalui beberapa sikap mendasar yang menjadi fondasi moral seorang penulis agar tulisan tidak kehilangan ruh dan arah peradabannya. Untuk lebih jelasnya, mari kita elaborasi satu persatu:
Pertama: Menulis Harus Berangkat dari Kerendahan Hati; Ilmu yang sejati tidak melahirkan kesombongan, melainkan menghadirkan kesadaran untuk terus belajar. Ustad Alfaqier mengingatkan bahwa ilmu seperti air yang hanya mengalir ke tempat rendah. Artinya, hati yang rendah hati akan lebih mudah menerima hikmah dibanding hati yang penuh keangkuhan. Dalam konteks menulis, penulis yang baik bukan sekadar ingin dipuji, tetapi ingin menghadirkan manfaat. Tulisan yang lahir dari kerendahan hati akan lebih jujur, reflektif, dan mampu menyentuh nurani pembaca.
Kedua: Literasi Bermakna Menuntut Kejujuran dan Verifikasi; Fenomena banjir informasi di era digital menghadirkan tantangan besar berupa hoaks, sensasi, dan opini tanpa dasar. Karena itu, perjalanan menuju literasi bermakna harus diawali dengan membaca kritis dan verifikasi data. Penulis tidak cukup hanya pandai merangkai kata, tetapi juga harus bertanggung jawab terhadap kebenaran informasi. Menulis bukan sekadar mengejar ramai dibicarakan, melainkan menghadirkan pengetahuan yang mencerahkan dan membangun kesadaran publik secara sehat.
Ketiga: Menulis Adalah Jalan Membangun Peradaban; Pantun yang diunggah pada 22 Dzulqa’dah 1447 H menegaskan bahwa belajar dan mengabdi harus menjadi cahaya kehidupan. Makna ini menunjukkan bahwa tulisan memiliki fungsi sosial dan peradaban. Ketika pena digunakan untuk membangun bangsa dengan ilmu dan keikhlasan, maka literasi berubah menjadi gerakan mencerdaskan kehidupan masyarakat. Tulisan yang baik tidak berhenti pada kata-kata indah, tetapi mampu melahirkan gagasan, solusi, dan inspirasi bagi masa depan pendidikan yang berkeadilan.
Keempat: Puncak Ilmu adalah Sujud dan Ketawadhuan; Refleksi menarik dari respons Ustad Alfaqier adalah bahwa puncak pengembaraan ilmu harus semakin mendekatkan manusia kepada Allah SWT. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hati dan semakin jauh dari kesombongan. Inilah hakikat ilmu sebagai cahaya. Dalam konteks literasi, tulisan yang bermakna bukan hanya memperlihatkan kecerdasan intelektual, tetapi juga menghadirkan kedalaman spiritual, ketulusan, dan nilai-nilai kemanusiaan. Ketika ilmu melahirkan adab, maka tulisan akan menjadi jalan perbaikan peradaban.
Pada akhirnya, menulis menuju literasi bermakna adalah perjalanan membangun kesadaran bahwa tulisan bukan sekadar alat ekspresi, tetapi amanah peradaban. Literasi yang baik lahir dari kerendahan hati, kejujuran intelektual, verifikasi kebenaran, dan niat menghadirkan manfaat bagi umat. Ketika ilmu dipahami sebagai cahaya yang menuntun manusia untuk semakin bersujud dan rendah hati, maka tulisan tidak lagi sekadar sensasi yang cepat dilupakan, tetapi berubah menjadi energi perubahan yang mencerdaskan kehidupan, membangun pendidikan berkeadilan, dan meneguhkan peradaban yang bermakna. Tulisan yang baik bukan hanya dikenang karena indahnya kata-kata, tetapi karena mampu menghadirkan cahaya ilmu yang menuntun manusia menuju kebaikan dan kemuliaan hidup. Wallahu A'lam.
_____________
*) Profil Penulis di Kompasiana Berpangkat PENJELAJAH sejak 22 Januari 2025