MENULIS: DARI MOMENTUM MENUJU GERAKAN BERKELANJUTAN MEMBANGUN PERADABAN

2026-05-05 00:14:45 | Diperbaharui: 2026-05-05 00:17:18
MENULIS: DARI MOMENTUM MENUJU GERAKAN BERKELANJUTAN MEMBANGUN PERADABAN
Ilustrasi Menulis dari Momentum … Dibuat dengan bantuan AI (DALL·E/ChatGPT, 5/5/2026)

 

MENULIS: DARI MOMENTUM MENUJU GERAKAN BERKELANJUTAN MEMBANGUN PERADABAN

Oleh: A. Rusdiana
(PBB ke-172 | ±2.568 Anggota Pengikut)

Senin pagi, 4 Mei 2026, sekitar pukul 10.00 WIB, dua hari pasca Hardiknas—tiba-tiba notifikasi WhatsApp berdering di WAG Komunitas Ustad ASMI. Sebuah hikmah muncul: “Jika di tengah perjalanan tujuanmu berubah, tidak ada salahnya berputar arah. Lebih baik memulai kembali dari awal, daripada tiba di tujuan yang salah.” Kalimat ini sederhana, namun menggugah kesadaran. Fenomena yang tampak, setiap Hardiknas melahirkan gelombang tulisan yang ramai, tetapi cepat meredup setelah momentum berlalu. Secara teoretis, literasi sejati bukan sekadar aktivitas menulis, melainkan proses berkelanjutan yang membangun budaya berpikir kritis dan reflektif. Namun demikian, terdapat GAP antara idealitas tersebut dengan praktik yang masih bersifat insidental. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan menegaskan bahwa menulis harus berani “berputar arah” dari sekadar momentum menuju gerakan berkelanjutan yang membentuk budaya literasi dan peradaban berpikir.

Pertama: Menulis sebagai Kesadaran, bukan Sekadar Perayaan; Menulis di Hardiknas seringkali hadir sebagai respons spontan terhadap momentum nasional. Banyak tulisan lahir sebagai bentuk partisipasi, namun belum sepenuhnya berangkat dari kesadaran reflektif. Padahal, menulis sejati adalah proses berpikir yang jujur dan mendalam. Ia bukan sekadar mengikuti arus, tetapi menjadi sarana memahami realitas. Ketika menulis hanya dilakukan saat momentum, maka ia kehilangan kekuatan transformasinya. Oleh karena itu, kesadaran menjadi fondasi utama dalam literasi. Menulis harus lahir dari kebutuhan untuk berpikir, bukan sekadar keinginan untuk tampil. Dari sinilah literasi menemukan maknanya sebagai proses membangun kualitas diri.

Kedua: Menulis Dari Momentum Menuju Gerakan Berkelanjutan; Hardiknas seringkali menjadi momentum “ramai sesaat.” Tulisan bermunculan, tetapi tidak berlanjut. Ini menunjukkan bahwa menulis masih diposisikan sebagai kegiatan insidental. Padahal, literasi sejati menuntut konsistensi. Menulis harus menjadi kebiasaan harian, bukan agenda tahunan. Gerakan PBB telah menunjukkan bahwa ketika menulis dilakukan secara rutin, ia mampu membentuk budaya berpikir dan belajar. Hikmah yang muncul di WAG tersebut menjadi pengingat penting: jika selama ini arah literasi masih bersifat sesaat, maka tidak ada salahnya “berputar arah.” Prinsip ini sejalan dengan QS. Ar-Ra’d [13]: 11 tentang perubahan diri, QS. Az-Zumar [39]: 53 tentang kembali kepada jalan yang benar, serta QS. Al-Baqarah [2]: 144 tentang perubahan arah menuju kebenaran. Dari sini jelas: literasi sejati adalah keberlanjutan, bukan sensasi.

Ketiga: Konsistensi sebagai Pilar Budaya Literasi; Budaya literasi tidak dibangun dari intensitas sesaat, tetapi dari konsistensi yang terus dijaga. Menulis secara rutin akan melatih kedalaman berpikir, ketajaman analisis, dan kejujuran intelektual. Dalam Gerakan PBB, konsistensi menulis telah melahirkan ruang belajar kolektif yang hidup. Setiap tulisan menjadi bagian dari proses membangun pengetahuan bersama. Konsistensi inilah yang membedakan antara penulis yang hadir sesaat dan penulis yang memberi dampak. Ketika menulis menjadi kebiasaan, maka ia tidak hanya membentuk individu, tetapi juga membangun budaya belajar yang berkelanjutan.

Keempat: Menulis sebagai Jalan Membangun Peradaban; Pada akhirnya, menulis bukan sekadar aktivitas personal, tetapi kontribusi nyata bagi peradaban. Tulisan yang lahir dari refleksi dan nilai akan menjadi jejak intelektual yang memberi manfaat luas. Dalam perspektif ini, menulis adalah amal intelektual. Ia tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menginspirasi dan menggerakkan perubahan. Ketika menulis dilakukan secara konsisten, maka ia menjadi cahaya yang menerangi kehidupan masyarakat. Inilah esensi literasi sejati: bukan sekadar kata, tetapi tindakan yang membangun makna dan peradaban.

Dari uraian ini dapat ditegaskan bahwa menulis harus bergerak dari momentum menuju gerakan berkelanjutan. Hardiknas bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi titik awal membangun budaya literasi yang hidup. Kesadaran menjadi fondasi, konsistensi menjadi kekuatan, dan keberlanjutan menjadi arah. Hikmah tentang “berani berputar arah” mengajarkan bahwa perubahan adalah keniscayaan. Jika selama ini menulis masih bersifat insidental, maka saatnya menjadikannya sebagai kebiasaan. Dari kebiasaan lahir budaya, dari budaya lahir peradaban. Inilah makna sejati literasi: membangun manusia yang berpikir, bertindak, dan memberi manfaat.

Apresiasi patut disampaikan kepada kutipan hikmah yang beredar di WAG Komunitas Ustad ASMI: “Jika di tengah perjalanan tujuanmu berubah, tidak ada salahnya berputar arah. Lebih baik memulai kembali dari awal, daripada tiba di tujuan yang salah.” Kalimat ini sederhana, namun sarat makna. Ia bukan sekadar motivasi, melainkan refleksi mendalam tentang pentingnya muhasabah, keberanian mengoreksi diri, dan kesungguhan untuk kembali ke jalan yang benar. Dalam konteks literasi, kutipan ini menjadi pengingat bahwa perubahan arah dari menulis sesaat menuju menulis berkelanjutan adalah langkah bijak dan perlu dilakukan.

Sebagai rekomendasi, kepada komunitas PBB pada khususnya, penting untuk terus menjaga ritme menulis sebagai budaya harian bukan sekadar respons momentum. Kegiatan menulis perlu dikembangkan menjadi ruang refleksi, diskusi, dan kolaborasi yang hidup. Sementara itu, kepada masyarakat pada umumnya, literasi perlu dimaknai sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari: membaca untuk memahami, menulis untuk berbagi, dan berpikir untuk bertindak. Jika semua elemen bergerak dalam kesadaran yang sama, maka literasi tidak hanya menjadi aktivitas, tetapi menjadi gerakan yang menguatkan pendidikan, membangun umat, dan meneguhkan peradaban. Wallahu A’lam.

Wallahu A’lam.

________________

*) Profil Penulis (PBB ke-172 | ±2.568 Anggota Pengikut)

Dokumen Pribadi, dibuat untuk kepentingan Penunjang dalam menulis di Media sejak tahun 2021

 

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar