Menyusuri Jember: di Balik Upaya Memahami Isu Sunat Perempuan

2026-04-29 20:27:50 | Diperbaharui: 2026-04-29 20:27:50
Menyusuri Jember: di Balik Upaya Memahami Isu Sunat Perempuan
Tim riset dan Dekan-Wadek FISIP UM Jember

Isu sunat perempuan mungkin terdengar seperti topik yang sudah lama dibahas, bahkan bagi sebagian orang dianggap sebagai bagian dari tradisi yang “biasa saja”. Namun, di balik itu, terdapat dinamika sosial, budaya, dan keagamaan yang tidak sesederhana yang dibayangkan.

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap isu ini semakin meningkat, terutama dalam kaitannya dengan kesehatan perempuan, hak anak, serta interpretasi ajaran agama. Muhammadiyah, melalui Majelis Tarjih dan Tajdid, telah memberikan pandangan yang cukup jelas—bahwa praktik ini tidak memiliki dasar yang kuat dan tidak dianjurkan. Namun, bagaimana realitas di lapangan? Bagaimana masyarakat memaknai, merespons, dan menjalankan praktik ini?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mendorong dilaksanakannya kegiatan pengumpulan data penelitian oleh Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

 Jember: Titik Awal Menyimak Realitas

Pada tanggal 28 April hingga 1 Mei 2026, tim peneliti melakukan kegiatan lapangan di Kota dan Kabupaten Jember. Wilayah ini dipilih bukan tanpa alasan—Jember dikenal sebagai daerah dengan keragaman budaya, termasuk pengaruh budaya Pendhalungan, yang menjadi pertemuan antara tradisi Jawa dan Madura.

Di tengah keragaman tersebut, praktik-praktik sosial yang berkaitan dengan tubuh, kesehatan, dan agama seringkali memiliki makna yang kompleks. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan bukan sekadar survei angka, melainkan mendengarkan cerita, pengalaman, dan perspektif langsung dari berbagai pihak.

 Tim dan Kolaborasi Lintas Peran

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim peneliti yang terdiri dari:

  • Nurfadhilah
  • Yuyun Umniyatun
  • Siti Nur Asiah

Namun, penelitian ini tidak berjalan sendiri. Dukungan dari berbagai pihak di tingkat lokal menjadi kunci penting dalam membuka ruang dialog.

bersama Ketua Majelis Kesehatan PC Aisyiyah

Dari unsur organisasi perempuan, Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Jember turut berperan, dengan keterlibatan:

  • Bu Fitroh (Ketua)
  • Bu Erwina (Sekretaris)

Dari sektor layanan kesehatan, tim berinteraksi dengan RSU Muhammadiyah Jember, melalui:

  • Pak Hendra (Humas)
  • Pak Ginanjar (Diklat)
  • dr. Bambang (Direktur)

Sementara dari dunia akademik, Universitas Muhammadiyah Jember juga terlibat melalui:

  • Bu Juariyah
  • Astri
  • Nanda

Kolaborasi ini menunjukkan bahwa isu sunat perempuan bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga menyentuh ranah pendidikan, organisasi, dan kehidupan sosial secara luas.

 Mendengar dari Banyak Suara

Selama kegiatan berlangsung, tim peneliti melakukan wawancara mendalam dan diskusi dengan berbagai informan dari latar belakang yang beragam. Mereka adalah:

  • Abdul Khamil – tokoh masyarakat
  • Cipto Susilo – Ketua MPKU
  • dr. Indra, Sp.THT – Direktur RSU Muhammadiyah Jember
  • dr. Adel – bagian pelayanan medis
  • Kindi – bidan
  • Mahmudah – perawat (perinatologi)
  • Ibu Sri Wahyuni – survivor
  • Ibu Sitti Lutfiah – survivor
  • Agus Prasetyo – ayah
  • Tanzil Huda – ayah

Dari ruang-ruang percakapan inilah, penelitian berusaha menangkap bagaimana isu ini dipahami—tidak hanya dari sudut pandang agama, tetapi juga dari pengalaman hidup, praktik layanan kesehatan, hingga dinamika keluarga.

 Proses yang Lebih dari Sekadar Mengumpulkan Data

Yang menarik, kegiatan ini bukan sekadar “mengambil data”. Lebih dari itu, prosesnya adalah membangun ruang refleksi bersama.

Di setiap wawancara dan diskusi, muncul dialog—tentang tradisi, tentang perubahan, tentang bagaimana memahami ajaran agama dalam konteks kehidupan modern. Ada pengalaman personal, ada pandangan profesional, ada pula pertanyaan-pertanyaan yang mungkin selama ini tidak pernah benar-benar dibicarakan secara terbuka.

Di sinilah penelitian menjadi sesuatu yang hidup: bukan hanya angka dan laporan, tetapi juga proses belajar bersama.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar