Hi, Koteker dan Kompasianer, apa kabar? Masih sehat dan bahagia, bukan.
Sabtu lalu, Komunitas Traveler Kompasiana dan Pesanggrahan Indonesia e.V Bonn sudah mengundang Mivi Slivska untuk membagikan pengalamannya mengirim anak dari Swiss ke Indonesia dalam masa perang Amerika dan Israel dengan Iran.
Perempuan Aceh yang tinggal di perbatasan Swiss-Jerman itu baru saja jalan-jalan ke Rust, di mana ada Europa Park mirip Disneyland itu mengisahkan bagaimana ia mengurus tiket tiga hari sebelum hari H berkenaan dengan suasana dunia yang sedang kelam waktu itu. Jadi, dia nggak buru-buru membatalkan pesawat yang sudah lama dibooking, melainkan datang ke bandara terdekat di Zuerich.
Cara mendapatkan reroute yang aman adalan:
- pergi ke kantor Qatar, maskapai yang dipilih terdahulu
- menyodorkan code booking dengan masa visa yang masih 2 minggu berlaku
- memilih option pesawat lain (Swiss air) transit di Singapura.
- tanpa dipungut bea (walaupun beli tiketnya bukan di website resmi Qatar tapi di agen online)
Biasanya, perjalanan dari Eropa ke Indonesia dengan menggunakan pesawat Arab yang turun di Dubai, Doha atau Abu Dhabi, perjalanan akan dibagi dua, 7 jam dan 9 jam perjalanan. Sedangkan dengan pesawat lain, lebih lama dan bisa jadi tanpa transit.
Semoga obrolan santai dengan Mivi dari Rheinfelden akan membuka wawasan dan informasi baru bahwa walaupun situasi sedang gawat, tetap ada alternatif untuk mencapai tempat tujuan.
Dari Swiss, kita ke Jerman. Pengalaman tentang bagaimana nikmatnya tajil dan berbuka puasa di restoran asli Lahor, Pakistan di Norwegia tentunya akan menjadi satu cerita yang menarik bagi orang Indonesia yang mayoritas beragama Islam dan melaksanakan ibadah puasa setiap tahunnya. Ketika berada di Norwegia, ada salah satu restoran unik yang menawarkan hadiah umroh bagi mereka yang makan saat berbuka puasa dan sahur di restonya.
Apa saja makanan yang disajikan? Berapa kapasitas pengunjung di sana? Selain orang dewasa adakah anak-anak yang ikut makan? Apakah lokasi resto mudah ditemukan? Bagaimana gambaran dekorasi dan ruangan di resto? Apa bedanya dengan resto Pakistan di Norwegia dan di Pakistan?
Untuk tahu jawabannya, simak obrolannya dalam Kotekatalk-275 pada:
- Hari/Tanggal: Sabtu, 4 April 2026
- Pukul: 16.00 WIB Jakarta/ 11.00 CEST Berlin
- Link: DI SINI
"Buah durian harum baunya, buah manggis manis rasanya. Bersama Komunitas Traveler Kompasiana, kita keliling dunia."
Mengelilingi negara lain, bukan semata atas nama gengsi, namun ada nilai dan norma yang rupanya bisa diambil dan dipelajari dalam hidup. Termasuk, bagaimana kita bersyukur pada Tuhan atas rejeki yang diberi dan kita memiliki tanah air Indonesia yang kaya akan keindahan alam, kuliner dan budaya. Perbedaan yang ada antara negara lain dengan negara kita, bukan menjadikan kita semakin kecil, justru menjadi sumbu untuk mengembangkan diri dan bahan untuk pertukaran yang sejati. Jiwa toleransi dan menghargai akan tumbuh bersamaan dengan pengalaman yang semakin melimpah.
Sampai jumpa Sabtu sore.
Salam Koteka. (Gana Stegmann)