“Jangan cengeng.”
“Anak pintar jangan nangis.”
“Kamu kok susah dibilangin?”
“Lihat tuh anak lain lebih nurut.”
Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar biasa.
Bahkan banyak orang dewasa mengucapkannya tanpa merasa sedang menyakiti anak.
Padahal tanpa sadar, cara orang dewasa berbicara bisa meninggalkan bekas yang sangat panjang dalam kehidupan seorang anak.
Anak bukan hanya mendengar kata-kata.
Mereka juga menyerap nada suara, ekspresi, cara diperlakukan, dan perasaan yang muncul saat berinteraksi dengan orang dewasa di sekitarnya.
Itulah sebabnya kesehatan mental anak sebenarnya mulai dibangun dari rumah.
Dari bagaimana ia dipeluk saat sedih.
Didengarkan saat bercerita.
Ditenangkan ketika takut.
Dan dihargai meski sedang melakukan kesalahan.
Sayangnya, banyak orang dewasa tumbuh dalam pola pengasuhan yang keras, lalu menganggap cara itu normal untuk diteruskan kepada anak-anak hari ini.
Anak diminta diam ketika menangis.
Dipaksa kuat terlalu cepat.
Dimarahi ketika emosinya muncul.
Bahkan dibanding-bandingkan demi dianggap “memotivasi”.
Padahal luka emosional pada anak tidak selalu muncul dalam bentuk tangisan.
Kadang ia tumbuh menjadi anak yang pendiam, mudah cemas, takut salah, sulit percaya diri, atau merasa dirinya tidak pernah cukup baik.
“Anak mungkin lupa apa yang kita beli untuknya. Tetapi mereka sering mengingat bagaimana kita membuatnya merasa.”
Kesehatan mental anak bukan hanya tentang tidak adanya gangguan psikologis.
Ia juga tentang rasa aman.
Tentang anak yang merasa diterima.
Merasa didengar.
Merasa boleh menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi terus-menerus.
Cara orang dewasa berbicara sangat memengaruhi hal itu.
Nada bicara yang kasar bisa membuat anak merasa tidak berharga. Bentakan yang terlalu sering dapat membuat anak hidup dalam ketakutan. Sementara kata-kata yang lembut dan penuh penghargaan membantu anak tumbuh dengan rasa percaya diri yang lebih sehat.
Bukan berarti orang tua atau orang dewasa harus selalu sempurna.
Setiap orang bisa lelah. Bisa emosi. Bisa kehilangan kesabaran.
Tetapi yang terpenting adalah kesadaran untuk terus belajar memperbaiki cara berkomunikasi dengan anak.
Kadang perubahan kecil sangat berarti:
mendengarkan tanpa langsung memarahi,
tidak mempermalukan anak di depan orang lain,
mengganti bentakan dengan penjelasan,
atau mengatakan,
“Ayah/Ibu minta maaf tadi bicara terlalu keras.”
Kalimat sederhana seperti itu bisa menjadi ruang aman bagi anak.
Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, banyak anak sebenarnya tidak selalu menuntut hadiah mahal.
Mereka hanya ingin merasa dicintai tanpa syarat.
Didengar tanpa diabaikan.
Dan diperlakukan sebagai manusia kecil yang perasaannya juga penting.
Karena itu, menjaga kesehatan mental anak tidak selalu dimulai dari psikolog atau terapi.
Kadang dimulai dari meja makan di rumah.
Dari cara orang tua memanggil namanya.
Dari nada suara ketika anak melakukan kesalahan.
Dari respons sederhana saat anak berkata,
“Aku sedih.”
Sebab rumah adalah tempat pertama anak belajar memahami dirinya sendiri.
Dan orang dewasa adalah cermin pertama yang akan membentuk bagaimana anak memandang hidupnya kelak.
Mungkin hari ini kita perlu mulai bertanya:
Apakah anak-anak di sekitar kita tumbuh dalam kata-kata yang menenangkan, atau justru dalam kalimat yang perlahan melukai mereka?
Karena kesehatan mental anak sering kali dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana:
Cara orang dewasa berbicara.
Bagaimana menurut Anda?
Apakah lingkungan hari ini sudah cukup ramah terhadap kesehatan mental anak?
Kat@Bubid