MENULIS SEBAGAI SARANA TAFAKUR DAN TAGHAFUL: Menata Diri, Bukan Mencari Aib Orang lain

2026-05-31 06:15:42 | Diperbaharui: 2026-05-31 06:59:01
MENULIS SEBAGAI SARANA TAFAKUR DAN TAGHAFUL: Menata Diri, Bukan Mencari Aib Orang lain

Ilustrasi Menulis di hari Tasryik. Menulis sebagai sarana Tafakur dan Taghaful, Sumber dibuat dan dimodifikasi oleh penulis dengan berbantuan Teknologi Kecerdasan Buatan (DALL•E/ChatGPT), Ahad, 31 Mei 2026. 

 

Oleh: A. Rusdiana

(PBB ke-193 | Pengikut: 2.598 Orang)


Hari-hari Tasyrik terakhir merupakan momentum yang sarat dengan zikir, syukur, dan refleksi kehidupan. Pada PBB ke-193, dengan pengikut 2598 orang, tema yang semula direncanakan adalah “Menulis sebagai Sarana Tafakur Kehidupan”, yaitu menulis sebagai ruang perenungan untuk memahami makna hidup, hikmah peristiwa, serta berbagai pelajaran yang Allah SWT hadirkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pada Sabtu pagi, 30 Mei 2026 pukul 07.18 WIB, muncul sebuah unggahan dari Abah Bahrun yang mengutip hikmah para ulama tentang taghaful, yaitu sikap sengaja tidak memperbesar atau mencari-cari kesalahan orang lain. Pesan tersebut berbunyi bahwa ”orang yang sibuk meneliti kekeliruan orang lain akan lelah dan membuat orang lain lelah, sedangkan orang cerdas tidak terlalu sibuk mencari-cari kesalahan kecil maupun besar.”

Pesan sederhana tersebut terasa relevan dengan dunia literasi saat ini. Di tengah derasnya media sosial, tidak sedikit orang lebih sibuk mengomentari, mengoreksi, bahkan mencari kelemahan orang lain daripada memperbaiki dirinya sendiri. Padahal, para ulama mengajarkan bahwa salah satu bentuk kecerdasan emosional dan kematangan akhlak adalah kemampuan mengelola diri melalui tafakur dan taghaful. Menariknya, keduanya dapat dipraktikkan melalui aktivitas menulis.

Karena itu, tulisan ini berupaya menjelaskan hubungan antara menulis, tafakur, dan taghaful sebagai jalan membangun kedewasaan spiritual, ketenangan hati, dan peradaban literasi yang lebih beradab. Tujuan Penulisan Menjelaskan bahwa menulis dapat menjadi sarana tafakur kehidupan sekaligus media melatih sikap taghaful agar seseorang lebih fokus memperbaiki diri daripada mencari-cari kesalahan orang lain. Mari kita elaborasi satu persatu:

Pertama: Menulis sebagai Sarana Tafakur Kehidupan; Menulis bukan sekadar aktivitas akademik atau keterampilan komunikasi, melainkan sarana perenungan diri. Ketika seseorang menulis, ia sedang berdialog dengan pengalaman, mengolah pikiran, dan menata perasaan. Melalui tulisan, berbagai peristiwa yang tampak biasa dapat berubah menjadi pelajaran yang bermakna. Tafakur yang dituangkan dalam tulisan membantu seseorang memahami hikmah di balik keberhasilan maupun kegagalan. Karena itu, menulis dapat menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus membangun kebijaksanaan hidup yang lebih matang.

Kedua: Taghaful sebagai Kecerdasan Emosional; Taghaful berarti sengaja tidak memperbesar atau tidak mencari-cari kesalahan orang lain. Sikap ini bukan berarti membenarkan kesalahan, melainkan memilih fokus pada hal yang lebih bermanfaat. Al-Imam Hasan Al-Bashri dan para ulama setelahnya mengajarkan bahwa manusia tidak akan pernah lepas dari kekurangan. Jika setiap kesalahan kecil terus dicari dan dipersoalkan, maka hubungan sosial akan dipenuhi ketegangan. Orang yang cerdas justru mampu mengelola emosinya dengan melihat sisi baik orang lain dan tidak menghabiskan energi untuk memburu kekhilafan yang tidak produktif.

Ketiga: Menulis untuk Memperbaiki Diri, Bukan Menghakimi; Literasi yang sehat seharusnya melahirkan introspeksi, bukan sekadar kritik kepada orang lain. Menulis yang dilandasi tafakur akan mendorong seseorang bertanya: apa yang harus saya perbaiki? Apa pelajaran yang bisa saya ambil? Sebaliknya, menulis yang hanya bertujuan membuka kelemahan orang lain sering kali melahirkan kegaduhan dan konflik. Karena itu, penulis yang bijak menjadikan tulisan sebagai cermin untuk melihat kekurangan dirinya sendiri sebelum melihat kekurangan orang lain. Di sinilah tafakur bertemu dengan taghaful dalam satu ruang yang bernama literasi.

Keempat: Membangun Peradaban Literasi yang Meneduhkan; Komunitas literasi seperti PBB sejatinya bukan sekadar tempat berbagi tulisan, tetapi juga ruang belajar akhlak. Semakin banyak seseorang menulis, seharusnya semakin rendah hati, semakin bijaksana, dan semakin menghargai perbedaan. Taghaful mengajarkan toleransi terhadap kekurangan manusia, sedangkan tafakur mengajarkan kesadaran untuk terus belajar. Ketika keduanya bersatu dalam aktivitas menulis, lahirlah budaya literasi yang meneduhkan, mencerahkan, dan menghadirkan manfaat bagi banyak orang. Inilah literasi yang tidak sekadar mengejar sensasi, tetapi juga membangun peradaban.

Menulis sebagai sarana tafakur dan taghaful mengajarkan bahwa kecerdasan sejati bukan terletak pada kemampuan menemukan kesalahan orang lain, melainkan pada kesediaan memperbaiki diri sendiri. Tafakur membantu manusia menemukan hikmah kehidupan, sedangkan taghaful melatih hati untuk tidak sibuk memburu kekurangan sesama. Ketika keduanya dipadukan dalam aktivitas menulis, lahirlah tulisan yang lebih arif, menenangkan, dan bermanfaat. Karena itu, daripada menghabiskan energi mencari-cari aib orang lain, lebih baik mengisinya dengan menulis, merenung, belajar, dan menebarkan kebaikan. Dari sinilah literasi menjadi jalan menuju kedewasaan spiritual dan kemuliaan akhlak. Wallhu A’lam.

________________

*) Profil Penulis Berpangkat Penjelajah Menuju Fanatik di Kompasiana ini sejak 22 Januari 2025. Mohon Dorong Do’a…:

Dokumen pribadi dibuat khusus untuk pendamping penulisan esai/opini di media sejak tahun 2020.

 

 

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
1 Orang menyukai Artikel Ini
avatar