MENULIS DI MEDSOS TANPA TABAYYUN: MASIH ETISKAH?

2026-04-27 16:01:51 | Diperbaharui: 2026-04-27 16:04:15
MENULIS DI MEDSOS TANPA TABAYYUN: MASIH ETISKAH?
Ilustrasi: Menulis Di Medsos Tanpa Tabayyun: Masih Etiskah? : Dibuat dengan bantuan AI (DALL·E / ChatGPT), 27/04/2026)

 

Menulis Di Medsos Tanpa Tabayyun: Masih Etiskah?

Oleh: A. Rusdiana

Di tengah berkembangnya budaya akademik dan media sosial, fenomena yang tampak adalah masih banyak dosen mengalami kesulitan menulis secara mengalir, khususnya dalam menghubungkan fenomena, teori, dan kesenjangan (GAP). Tantangan ini semakin terasa ketika menulis di media sosial yang menuntut cepat, ringkas, namun tetap bermakna. Dalam praktiknya, tidak sedikit tulisan lahir secara spontan, reaktif, dan minim verifikasi. Dalam konteks ini, pertanyaan penting muncul: apakah menulis di media sosial tanpa tabayyun masih dapat disebut etis?

Secara teoretis, menulis ilmiah adalah proses berpikir sistematis yang mengintegrasikan fenomena sebagai titik awal, teori sebagai alat baca, dan GAP sebagai arah analisis. Namun, terdapat kesenjangan antara kemampuan dosen membimbing karya ilmiah dengan praktik menulis mandiri di ruang publik seperti WAG. Fenomena percakapan komunitas 22 April 2026 memperlihatkan dua sudut pandang: kritik atas kondisi fisik lembaga dan penekanan pada pentingnya manajemen profesional. Tanpa konteks utuh, opini mudah membentuk persepsi parsial. Dalam konteks PBB ke-165 yang kini mencapai 2.557 pengikut, tulisan ini bertujuan menegaskan bahwa tabayyun adalah landasan etika menulis agar komunikasi publik menjadi reflektif dan mencerahkan. Untuk lebih jelasnya Yuk kita elaborasi satu persatu:

Pertama: Fenomena Menulis Reaktif di Media Sosial; Media sosial termasuk WAG adalah ruang komunikasi yang cepat dan terbuka. Namun, kecepatan kerap melahirkan tulisan yang reaktif, belum teruji, dan miskin konteks. Komentar singkat tentang “bangunan yang tampak stagnan” dapat dibaca sebagai kritik konstruktif, tetapi juga bisa ditangkap sebagai penilaian negatif jika tidak dilengkapi data dan penjelasan. Ketika tulisan lahir tanpa jeda refleksi, maka yang muncul bukan pencerahan, melainkan potensi kesalahpahaman. Di sinilah pentingnya disiplin berpikir sebelum menulis: menimbang fakta, tujuan, dan dampak.

Kedua: Menulis sebagai Proses Berpikir Sistematis; Dalam perspektif akademik, menulis bukan sekadar menyusun kata, melainkan proses berpikir yang terstruktur. Fenomena harus dijelaskan dengan data, teori menjadi alat baca, dan GAP memberi arah analisis. Struktur ini tetap relevan di media sosial: ringkas bukan berarti dangkal. Tulisan singkat yang terstruktur mampu menghadirkan makna tanpa kehilangan akurasi. Dengan demikian, menulis di media sosial dapat menjadi perpanjangan praktik akademik bukan sekadar ekspresi spontan, melainkan komunikasi ilmiah yang bertanggung jawab.

Ketiga: GAP antara Kemampuan Akademik dan Praktik Publik; Banyak dosen piawai membimbing skripsi, tesis, dan disertasi, tetapi gagap saat menulis di ruang publik. Inilah GAP yang perlu dijembatani. Kemampuan akademik belum sepenuhnya terinternalisasi menjadi kebiasaan berpikir dalam komunikasi sehari-hari. Akibatnya, tulisan yang lahir tidak mencerminkan kedalaman analisis yang dimiliki. Menjembatani GAP ini berarti menghadirkan “logika pembimbingan” dalam tulisan publik: jelas fenomenanya, tepat teorinya, dan tegas arah analisisnya.

Keempat: Tabayyun sebagai Landasan Etika Menulis; Al-Qur’an mengajarkan tabayyun memeriksa dan menimbang informasi sebelum menyampaikan. Rasulullah SAW. menegaskan: berkata baik atau diam adalah bagian dari adab. Prinsip ini menjadi fondasi etika menulis di media sosial. Kritik tetap diperlukan, tetapi harus proporsional, berimbang, dan berbasis konteks. Tanpa tabayyun, tulisan mudah berubah dari sarana klarifikasi menjadi sumber distorsi. Di sinilah etika diuji: bukan pada keberanian berpendapat, tetapi pada tanggung jawab memastikan kebenaran dan kemaslahatan.

Kelima: Etika Menulis sebagai Tanggung Jawab Moral Akademisi; Akademisi memikul tanggung jawab moral menjaga kualitas komunikasi publik. Tulisan tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi membentuk persepsi dan sikap pembaca. Karena itu, menulis di media sosial harus reflektif, bukan sekadar reaktif. Akademisi tidak cukup cerdas dalam berpikir, tetapi juga harus bijak dalam menyampaikan, karena setiap kata adalah representasi integritas keilmuan. Dalam gerakan PBB ke-165, menulis bukan lagi aktivitas individual, melainkan gerakan kolektif membangun budaya akademik yang beretika, dialogis, dan mencerahkan.

Natijahnya, menulis di media sosial tanpa tabayyun bukan sekadar persoalan teknis, melainkan persoalan etika. Menulis mengalir bukan kemampuan instan, tetapi buah dari kebiasaan berpikir terstruktur: fenomena yang jelas, teori yang fungsional, dan GAP yang tegas. Dalam ruang digital, kecepatan tidak boleh mengalahkan kebenaran. Tabayyun menjadi batas antara tulisan yang mencerahkan dan yang menyesatkan.

Bagi dosen, menulis adalah perpanjangan aktivitas membimbing. Ketika logika membimbing dihidupkan dalam tulisan, maka kesulitan berubah menjadi kemudahan. Dengan 2.557 pengikut pada PBB ke-164, menulis telah menjadi gerakan kolektif untuk menata kata, menjaga amanah, dan memberi pelajaran bagi umat: bahwa etika bukan pelengkap, melainkan ruh dari setiap komunikasi. Wallahu A’lam.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar