LITERASI (MENULIS) SEBAGAI SUBSTANSI, BUKAN SEKADAR EKSPRESI
Oleh: A. Rusdiana
Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sering diwarnai dengan maraknya aktivitas menulis di berbagai media. Fenomena ini menunjukkan geliat literasi yang tampak menggembirakan. Namun, secara teoretis, literasi bukan sekadar kemampuan menulis, melainkan proses berpikir kritis yang menghubungkan fenomena, teori, dan kesenjangan (GAP). Realitas menunjukkan masih banyak tulisan terutama di Medsos yang berhenti pada ekspresi spontan tanpa kedalaman analisis. Padahal Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qura’n Surat Al-Hujurat ayat 6,
“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6).
Allah SWT memerintahkan orang beriman untuk tabayyun (meneliti kebenaran) saat menerima berita agar tidak merugikan orang lain karena ketidaktahuan. Inilah GAP yang perlu dijembatani: Antara budaya copy-paste/posting cepat (spontanitas) dan perintah tabayyun (cek-recek) serta tadabbur (analisis mendalam).
Tujuan tulisan ini adalah menegaskan bahwa menulis harus menjadi substansi yang membangun pemahaman, bukan sekadar ekspresi yang menampilkan diri. Tujuan Penulisan ini: meneguhkan literasi sebagai praktik berpikir kritis, reflektif, dan bermakna dalam pembelajaran dan gerakan PBB. Untuk lebih jelasnya mari kita elaborasi satu persatu:
Pertama: Literasi (Menulis) sebagai Substansi, Bukan Sekadar Ekspresi; Menulis di Hardiknas akan menguatkan literasi jika berangkat dari refleksi kritis terhadap persoalan pendidikan. Tulisan yang lahir dari pengalaman, analisis, dan kejujuran intelektual akan membangun tradisi berpikir yang sehat. Namun realitas menunjukkan, tidak sedikit tulisan hanya menjadi ekspresi spontan tanpa kedalaman. Kata-kata indah bertebaran, tetapi minim makna. Dalam konteks ini, literasi kehilangan ruhnya. Menulis seharusnya menjadi jalan memahami realitas, bukan sekadar menampilkan diri.
Kedua: Menulis sebagai Proses Berpikir Kritis dan Reflektif; Secara teoretis, menulis adalah proses kognitif tingkat tinggi yang melibatkan analisis, sintesis, dan evaluasi. Dalam praktiknya, menulis yang baik selalu diawali dengan kemampuan membaca fenomena secara mendalam. Tanpa refleksi, tulisan akan dangkal; tanpa analisis, tulisan akan kehilangan arah. Oleh karena itu, literasi harus diposisikan sebagai proses berpikir, bukan sekadar keterampilan teknis. Di sinilah pentingnya membangun budaya menulis yang berbasis pada data, pengalaman, dan kerangka teori yang jelas.
Ketiga: Literasi sebagai Gerakan Membangun Peradaban; Literasi bukan hanya aktivitas individu, tetapi gerakan kolektif yang membentuk peradaban. Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan literasinya. Dalam konteks PBB, menulis harus menjadi gerakan bersama yang menghubungkan gagasan, nilai, dan aksi nyata. Ketika menulis dilakukan dengan kesadaran membangun umat, maka setiap kata menjadi kontribusi peradaban. Literasi yang substansial akan melahirkan pemikiran yang mencerahkan, bukan sekadar wacana yang menghilang.
Keempat: Dari Ekspresi Menuju Transformasi; Menulis yang hanya berhenti pada ekspresi tidak akan membawa perubahan. Sebaliknya, menulis yang berbasis substansi mampu menjadi alat transformasi. Tulisan yang baik tidak hanya menggambarkan masalah, tetapi juga menawarkan solusi. Inilah yang membedakan antara menulis sebagai ekspresi dan menulis sebagai kontribusi. Dalam konteks pendidikan, tulisan harus mampu mendorong perubahan cara berpikir, memperbaiki praktik, dan menginspirasi tindakan nyata.
Literasi (menulis) tidak boleh direduksi menjadi sekadar ekspresi tanpa makna. Ia harus diteguhkan sebagai substansi yang membangun pemahaman, menajamkan analisis, dan menggerakkan perubahan. Momentum Hardiknas dan gerakan PBB ke-171 menjadi pengingat bahwa menulis adalah amanah intelektual. Ketika tulisan lahir dari kejujuran, refleksi, dan tanggung jawab, maka literasi akan hidup sebagai kekuatan peradaban. Dari sinilah kita melangkah: menulis bukan untuk dilihat, tetapi untuk memberi arti. Wallahu A'lam
Prrofil Penulis di Kompasiana berpangkat PENJELAJAH sejak 22 Januari 2025: