MENULIS DI HARDIKNAS: MENGUATKAN LITERASI ATAU SEKEDAR SEREMONI?

2026-05-02 08:21:17 | Diperbaharui: 2026-05-02 08:28:08
MENULIS DI HARDIKNAS: MENGUATKAN LITERASI ATAU SEKEDAR SEREMONI?
Caption

Ilustrasi Menulis Di Hardiknas. Dibuat dengan bantuan AI (DALL·E/ChatGPT), 30/04/2026)

MENULIS DI HARDIKNAS: MENGUATKAN LITERASI ATAU SEKADAR SEREMONI?

Oleh: A. Rusdiana

Pergi ke taman memetik melati,
Harumnya sampai ke ujung desa,
Hardiknas tiba menguji nurani,
Menulis kita: gerakan atau hanya acara?

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2026 kembali mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Namun di tengah semarak upacara dan slogan, saya justru merenung: apakah partisipasi itu benar-benar hidup, atau sekadar hadir dalam seremoni? Di ruang kelas, realitasnya sederhana tetapi mendasar banyak mahasiswa masih enggan menulis.

Di sisi lain, geliat literasi melalui gerakan PBB (Penggerak Budaya Baca/Tulis) pada episode ke-169 yang telah diikuti oleh 2.564 pengikut menunjukkan bahwa kesadaran menulis mulai tumbuh sebagai gerakan kolektif. Fenomena ini menjadi kontras: di satu ruang, literasi mulai menguat; di ruang lain, kebiasaan menulis masih menjadi tantangan.

Secara teoretis, literasi khususnya menulis merupakan fondasi pendidikan bermutu karena membentuk nalar kritis dan reflektif (Freire, 1970). Namun terdapat kesenjangan (GAP) antara semangat gerakan literasi dengan praktik keseharian. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan menegaskan bahwa menulis harus dimaknai sebagai bentuk nyata partisipasi semesta bukan sekadar wacana, tetapi kebiasaan yang dihidupkan, dilatihkan, bahkan jika perlu “dipaksakan.” Untuk lebih jelasnya mari kita elaborasi satu persatu:

Pertama: Partisipasi Dimulai dari Ruang Kecil; Seringkali partisipasi semesta dipahami sebagai gerakan besar di level kebijakan. Namun bagi saya, partisipasi justru dimulai dari ruang kecil: kelas. Ketika mahasiswa diminta menulis secara rutin, di situlah mereka dilibatkan dalam proses pendidikan secara aktif.

Saya menetapkan tugas menulis mingguan dengan batas waktu dan umpan balik. Di awal, keluhan muncul. Namun saya percaya, kebiasaan tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari disiplin. Dalam konteks ini, “memaksa” bukanlah tekanan, melainkan strategi untuk membuka pintu partisipasi. Dari ruang kecil itulah gerakan besar dimulai.

Kedua: Dari Terpaksa Menuju Terbiasa; Pengalaman menunjukkan bahwa apa yang awalnya terasa berat perlahan menjadi kebiasaan. Mahasiswa mulai menemukan ritme, gagasan lebih terarah, dan keberanian berpikir kritis mulai tumbuh.

Saya sering menyampaikan: menulis itu seperti otot tanpa latihan, ia tidak akan kuat. Hardiknas harus dimaknai sebagai momentum pembiasaan. Literasi tidak cukup diajarkan, tetapi harus dilatihkan. Dari terpaksa menjadi terbiasa, dari terbiasa menjadi kebutuhan di situlah transformasi terjadi.

Ketiga: Menulis sebagai Indikator Pendidikan Bermutu; Pendidikan bermutu tidak hanya diukur dari angka, tetapi dari kualitas berpikir. Menulis menjadi indikator nyata dari kualitas tersebut. Ketika mahasiswa mampu menulis, berarti mereka telah memahami, mengolah, dan merefleksikan ilmu.

Dalam perspektif nilai, menulis adalah amanah keilmuan. Ia menghubungkan ilmu dengan amal. Apa yang ditulis tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi memberi manfaat bagi orang lain. Di sinilah tema Hardiknas menemukan maknanya: pendidikan bermutu hanya terwujud jika setiap individu berpartisipasi aktif dalam proses belajar, termasuk melalui menulis.

Keempat: Menguatkan Partisipasi Semesta melalui Menulis; Refleksi ini menguatkan keyakinan saya bahwa menulis adalah bentuk konkret partisipasi semesta. Gerakan PBB yang kini diikuti 2.564 pengikut menunjukkan bahwa literasi dapat tumbuh sebagai budaya kolektif.

Apa yang saya lakukan di kelas mungkin sederhana meminta, menagih, bahkan “memaksa” mahasiswa menulis. Namun jika dilakukan secara bersama, praktik ini akan menjadi gerakan. “Bangkit bersama” bukan sekadar slogan, tetapi langkah nyata yang dimulai dari tindakan kecil yang konsisten.

Hardiknas 2026 mengingatkan bahwa partisipasi semesta tidak boleh berhenti pada seremonial. Ia harus hadir dalam praktik nyata. Menulis adalah salah satu bentuk paling sederhana, tetapi paling strategis.

Apa yang saya lakukan mungkin tampak kecil, bahkan terasa keras. Namun di balik itu, ada harapan besar: agar mahasiswa tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga penulis; tidak hanya menerima ilmu, tetapi juga menyebarkannya. Jika hari ini mereka menulis karena terpaksa, semoga esok mereka menulis karena kesadaran. Dan ketika kesadaran itu tumbuh, di situlah literasi benar-benar hidup menguatkan pendidikan, membangun umat, dan meneguhkan peradaban.

Berlayar pagi menuju seberang,
Angin sepoi membawa harapan,
Jika menulis jadi gerakan,
Literasi bangkit, umat berperadaban.*) Cipadung, 2 Mei 2026.

Untuk anggota PBB, jadikan menulis sebagai komitmen harian minimal satu paragraf reflektif yang dipublikasikan secara konsisten. Bagi mahasiswa, biasakan menulis dari pengalaman belajar: ringkasan, opini, hingga refleksi kritis sebagai latihan berpikir. Untuk akademisi, kuatkan budaya menulis berbasis riset dan pengabdian, serta menjadi teladan literasi di ruang kelas dan publik. Adapun bagi masyarakat umum, mulailah dari yang sederhana menulis pengalaman, gagasan, atau nilai kehidupan sebagai kontribusi literasi. Jika setiap elemen bergerak, maka tema Hardiknas tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi gerakan kolektif menuju pendidikan bermutu untuk semua.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar