MENULIS DI MEDSOS: MENGUATKAN LITERSI ATAU SEKEDAR SENSASI?

2026-05-03 01:35:16 | Diperbaharui: 2026-05-03 01:38:06
MENULIS DI MEDSOS: MENGUATKAN LITERSI ATAU SEKEDAR SENSASI?
Ilustrasi Menulis di Hardiknas: literasi atau sensasi? Dibuat dengan bantuan AI (DALL·E/ChatGPT), 3/5/2026)

MENULIS DI MEDSOS: MENGUATKAN LITERASI ATAU SEKADAR SENSASI?

Oleh: A. Rusdiana

Pergi ke taman memetik melati,
Harumnya sampai ke ujung desa,
Hardiknas hadir mengetuk nurani,
Menulis kita: bermakna atau sekadar sensasi belaka?

Seiring berjalannya waktu, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2026 kembali mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Namun di tengah maraknya tulisan di media sosial, muncul pertanyaan mendasar: apakah aktivitas menulis ini benar-benar memperkuat literasi, atau justru hanya menjadi sensasi sesaat yang mengikuti arus momentum? Sensasi kegaduhan di media sosial, atau sering disebut sebagai "keramaian" atau digital noise, adalah fenomena di mana sebuah isu baik penting maupun sepele mendapat perhatian berlebih, memicu perdebatan sengit, atau menjadi viral secara cepat.

Fenomena pada PBB (Penggerak Budaya Baca/Tulis) episode ke-170 yang kini diikuti oleh 2.556 anggota menunjukkan adanya pertumbuhan kesadaran literasi. Namun jika dibandingkan dengan realitas di ruang kelas virtual dan masyarakat, masih banyak tulisan yang lahir tanpa kedalaman refleksi dan tanpa keberlanjutan aksi.

Secara teoretis, literasi bukan sekadar kemampuan menulis, tetapi kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan transformatif (Freire, 1970). Namun terdapat GAP antara kuantitas tulisan yang meningkat dengan kualitas substansi dan dampaknya. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan menegaskan bahwa menulis di Hardiknas harus melampaui sensasi menuju literasi yang berdaya guna dan berkelanjutan. Untuk lebih jelasnya mari kita Renungkan satu persatu:

Pertama: Literasi sebagai Substansi, Bukan Sekadar Ekspresi; Menulis di Hardiknas akan menguatkan literasi jika berangkat dari refleksi kritis terhadap persoalan pendidikan. Tulisan yang lahir dari pengalaman, analisis, dan kejujuran intelektual akan membangun tradisi berpikir yang sehat. Namun realitas menunjukkan, tidak sedikit tulisan hanya menjadi ekspresi spontan tanpa kedalaman. Kata-kata indah bertebaran, tetapi minim makna. Dalam konteks ini, literasi kehilangan ruhnya. Menulis seharusnya menjadi jalan memahami realitas, bukan sekadar menampilkan diri.

Kedua: Dari Momentum Menuju Gerakan Berkelanjutan; Hardiknas seringkali menjadi momentum “ramai sesaat.” Banyak tulisan muncul pada tanggal 2 Mei, tetapi menghilang di hari berikutnya. Ini menunjukkan bahwa menulis masih diposisikan sebagai kegiatan insidental. Padahal, literasi sejati menuntut konsistensi. Menulis harus menjadi kebiasaan harian, bukan agenda tahunan. Gerakan PBB telah membuktikan bahwa ketika menulis dilakukan secara rutin, ia mampu membentuk budaya berpikir dan budaya belajar. Dari sini jelas: perbedaan antara literasi dan sensasi terletak pada keberlanjutan.

Ketiga: Kualitas Tulisan sebagai Cermin Pendidikan Bermutu; Pendidikan bermutu tidak hanya diukur dari capaian angka, tetapi dari kualitas nalar. Menulis menjadi indikator penting karena di dalamnya terdapat proses memahami, menganalisis, dan merefleksikan ilmu. Tulisan yang baik tidak hanya informatif, tetapi juga transformatif. Ia menggerakkan pembaca untuk berpikir, bahkan bertindak. Sebaliknya, tulisan yang hanya mengejar tren tidak akan meninggalkan dampak jangka panjang. Dalam perspektif nilai, menulis adalah amanah keilmuan. Ia bukan sekadar aktivitas pribadi, tetapi kontribusi sosial.

Keempat: Menulis sebagai Tanggung Jawab Etis, Bukan Ajang Sensasi; Di era digital, menulis sangat mudah dilakukan. Namun kemudahan ini juga melahirkan tantangan: banyak tulisan dibuat tanpa tabayyun, tanpa validasi, bahkan tanpa tanggung jawab moral.

Menulis yang sensasional cenderung mengejar perhatian, bukan kebenaran. Ini berbahaya bagi ekosistem literasi. Oleh karena itu, penulis baik mahasiswa, dosen, maupun masyarakat harus menempatkan integritas sebagai fondasi utama. Menulis bukan sekadar “ingin terlihat,” tetapi “ingin memberi manfaat.”

Kelima: Menguatkan Literasi melalui Aksi Nyata; Belajar dari praktik PBB sebelumnya , terlihat bahwa menulis akan berdampak jika diikuti dengan: (1) Latihan rutin (menulis harian/mingguan), (2) Umpan balik (refleksi dan perbaikan), (3) Publikasi (membagikan gagasan), dan (4) Konsistensi (menjaga keberlanjutan).

Jika langkah ini dilakukan secara kolektif, maka menulis tidak lagi menjadi sensasi, tetapi menjadi gerakan literasi yang hidup.

Natizah dari Hardiknas 2026 memberikan pesan kuat: partisipasi semesta tidak boleh berhenti pada seremoni, apalagi sensasi. Menulis harus menjadi bagian dari gerakan membangun nalar, memperkuat literasi, dan meneguhkan peradaban. Bagi anggota PBB, jadikan menulis sebagai komitmen harian yang konsisten. Bagi mahasiswa, latih diri menulis dari pengalaman belajar. Bagi akademisi, kuatkan tradisi menulis berbasis riset dan pengabdian. Dan bagi masyarakat, mulailah dari yang sederhana. Jika menulis dilakukan dengan kesadaran, maka ia menjadi cahaya. Namun jika hanya mengejar sensasi, ia akan padam seiring waktu. Pada akhirnya, pilihan ada pada kita: menulis untuk dikenang, atau sekadar untuk dilihat. Wallahu A’lam.

________________

Profil Penulis: 

Dok. Pribadi, dibuat untk kepetingan menulis di Media
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar