Media Sosial Membuat Banyak Orang Lupa Mendengarkan Tubuhnya

2026-06-01 09:21:46 | Diperbaharui: 2026-06-01 09:45:31
Media Sosial Membuat Banyak Orang Lupa Mendengarkan Tubuhnya
Sumber: Infografis AI generated/Bubid

Hari ini, banyak orang lebih cepat menyadari baterai ponselnya hampir habis daripada menyadari tubuhnya sendiri sedang kelelahan.

Notifikasi langsung diperiksa.
Pesan segera dibalas.
Timeline terus di-scroll tanpa henti.
Tetapi rasa lelah, stres, dan tubuh yang mulai memberi tanda justru sering diabaikan.

Media sosial perlahan mengubah cara manusia menjalani hidup.

Kita terbiasa melihat hidup orang lain setiap hari:
yang terlihat produktif,
selalu bahagia,
tubuh ideal,
karier sukses,
liburan menyenangkan,
hubungan yang tampak sempurna.

Dan tanpa sadar, banyak orang mulai hidup lebih sibuk mengejar “terlihat baik-baik saja” daripada benar-benar sehat.

Akibatnya, tubuh sering dipaksa terus mengikuti ritme yang tidak realistis.

Tidur dikorbankan demi scrolling sampai larut malam.

Pikiran terus aktif karena terlalu banyak informasi.

Emosi ikut lelah karena terlalu sering membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.

Ironisnya, semua itu terasa normal.

Padahal tubuh sebenarnya sudah lama mencoba berbicara.

Mata mudah lelah.
Tidur tidak berkualitas.
Pikiran sulit tenang.
Emosi lebih sensitif.
Tubuh cepat capek.
Bahkan banyak orang merasa tetap lelah meski tidak melakukan aktivitas fisik berat.

Namun karena perhatian terus tersedot ke layar, sinyal-sinyal kecil dari tubuh akhirnya tidak lagi didengarkan.

“Kadang tubuh kita tidak kekurangan istirahat, tetapi kekurangan perhatian dari pemiliknya sendiri.”

Media sosial juga membuat banyak orang sulit benar-benar berhenti.

Ada rasa takut tertinggal informasi.

Takut tidak dianggap produktif.

Takut hidupnya terlihat biasa saja dibanding orang lain.

Akhirnya banyak orang terus online bahkan ketika tubuh dan pikirannya sebenarnya sudah meminta jeda.

Yang lebih berat, media sosial sering membuat manusia kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri.

Kita terlalu sibuk melihat hidup orang lain sampai lupa bertanya:
“Apakah aku sendiri baik-baik saja?”

Padahal kesehatan bukan hanya soal tubuh.

Kesehatan juga tentang ketenangan pikiran.

Tentang tidur yang cukup.

Tentang bisa menikmati hidup tanpa terus merasa kurang dibanding orang lain.

Tentang mampu hadir utuh di dunia nyata, bukan hanya sibuk terlihat aktif di dunia digital.

Bukan berarti media sosial sepenuhnya buruk.

Ia bisa menjadi ruang belajar, berbagi, bahkan mencari dukungan.

Tetapi jika digunakan tanpa jeda dan tanpa kesadaran, ia juga bisa menguras energi fisik maupun mental secara perlahan.

Karena itu, mungkin tubuh kita sesekali membutuhkan istirahat dari layar.

Tidur tanpa membawa ponsel ke tempat tidur.

Makan tanpa sambil scrolling.

Berjalan tanpa terus melihat notifikasi.

Atau sekadar memberi waktu beberapa menit untuk benar-benar mendengarkan diri sendiri.

Sebab tubuh manusia tidak dirancang untuk menerima banjir informasi tanpa henti setiap hari.

Ia juga butuh tenang.

Butuh diam.

Butuh pulih.

Di era digital ini, menjaga kesehatan kadang dimulai dari hal sederhana:
berani meletakkan ponsel sejenak dan kembali hadir untuk diri sendiri.

Karena hidup yang sehat bukan hanya tentang koneksi internet yang stabil.

Tetapi juga tentang koneksi yang sehat dengan tubuh dan pikiran kita sendiri.

Bagaimana menurut Anda?
Apakah media sosial hari ini membuat manusia semakin sulit benar-benar beristirahat?

Kat@Bubid

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
1 Orang menyukai Artikel Ini
avatar