Menulis Sebagai Jalan Taghaful: Kecerdasan Emosional di Tengah Riuhnya Mencari Kesalahan

2026-06-02 17:37:14 | Diperbaharui: 2026-06-02 17:37:42
Menulis Sebagai Jalan Taghaful: Kecerdasan Emosional di Tengah Riuhnya Mencari Kesalahan

PBB 195

 

Menulis sebagai Jalan Taghaful: Kecerdasan Emosional di Tengah Riuhnya Mencari Kesalahan

Oleh: A. Rusdiana

Pengikut: 2.602 Orang

Di era media sosial, banyak orang lebih cepat menemukan dan menyebarkan kesalahan dibandingkan mengapresiasi kebaikan. Fenomena ini sering memicu konflik, perpecahan, dan ketegangan dalam hubungan sosial, baik di lingkungan keluarga, organisasi, maupun masyarakat. Dari perspektif teori kecerdasan emosional (Emotional Intelligence) Daniel Goleman, individu yang matang secara emosional mampu mengendalikan diri, mengelola emosi, berempati, dan menjaga hubungan sosial secara positif. Dalam khazanah Islam, konsep tersebut sejalan dengan nilai taghaful, yaitu sikap sengaja tidak memperbesar kekhilafan kecil orang lain demi menjaga persaudaraan dan kemaslahatan bersama. Allah SWT berfirman: “Jadilah engkau pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” (QS. Al-A'raf: 199). Rasulullah SAW juga bersabda: “Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka” (HR. Ibnu Majah). Namun demikian, masih terdapat kesenjangan antara nilai ideal tersebut dengan realitas kehidupan yang sering diwarnai budaya mencari-cari kesalahan, memperbesar kekurangan, dan mengabaikan kontribusi positif orang lain. Tulisan ini bertujuan menjelaskan pentingnya taghaful sebagai kecerdasan emosional yang mampu membangun kedewasaan pribadi, memperkuat harmoni sosial, serta menjaga ketahanan lembaga di tengah tantangan kehidupan modern.

Pertama: Taghaful Melatih Kedewasaan Berpikir; Dalam teori kecerdasan emosional Daniel Goleman, salah satu ciri individu yang matang adalah kemampuan mengendalikan reaksi spontan terhadap situasi yang tidak menyenangkan. Taghaful mengajarkan bahwa tidak setiap kekurangan harus diperbesar atau dijadikan bahan perdebatan. Kedewasaan seseorang justru terlihat dari kemampuannya membedakan masalah yang harus diselesaikan dan kekhilafan kecil yang cukup dimaklumi. Allah SWT memerintahkan, “Jadilah engkau pemaaf...” (QS. Al-A'raf:199). Karena itu, dalam kehidupan organisasi maupun pendidikan, taghaful menjadi sarana menjaga energi kolektif agar tetap fokus pada perbaikan dan kemajuan bersama.

Kedua: Taghaful sebagai Kecerdasan Emosional; Taghaful berarti sengaja tidak memperbesar atau tidak mencari-cari kesalahan orang lain. Sikap ini bukan berarti membenarkan kesalahan, melainkan memilih fokus pada hal yang lebih bermanfaat. Dalam perspektif kecerdasan emosional, tindakan tersebut merupakan bentuk self-regulation dan empati sosial. Al-Imam Hasan Al-Bashri mengingatkan bahwa manusia tidak pernah lepas dari kekurangan. Jika setiap kesalahan kecil terus dicari dan dipersoalkan, hubungan sosial akan dipenuhi ketegangan. Sebaliknya, orang yang cerdas secara emosional mampu melihat sisi baik orang lain dan mengarahkan energinya untuk membangun, bukan menjatuhkan.

Ketiga: Belajar dari Kado Pahit Milad ke-42 YSDP Al-Mishbah; Milad ke-42 YSDP Al-Mishbah menghadirkan banyak rasa syukur, sekaligus menghadirkan kritik yang terasa pahit. Sebagian pihak lebih fokus pada keterbatasan fisik bangunan dibandingkan perjalanan panjang pengabdian lembaga yang telah melayani umat selama puluhan tahun. Ada pula yang mempertanyakan berbagai kekurangan tanpa melihat dedikasi para guru honorer yang tetap mengajar dengan penuh keikhlasan. Pengalaman ini mengingatkan bahwa setiap lembaga memiliki ruang perbaikan, tetapi juga memiliki sejarah pengabdian yang patut dihargai. Di sinilah taghaful menjadi pelajaran berharga: menerima kritik yang konstruktif sebagai bahan evaluasi, namun tidak tenggelam dalam komentar yang hanya memperbesar kekurangan.

Keempat: Menulis sebagai Praktik Taghaful dan Tafakur; Menulis dapat menjadi media transformasi emosi menjadi refleksi. Ketika kritik datang, seseorang memiliki dua pilihan: membalas dengan kemarahan atau mengolahnya menjadi pembelajaran. Tradisi literasi mengajarkan bahwa pena sering kali lebih bijak daripada ledakan emosi. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam” (HR. Bukhari-Muslim). Menulis yang berorientasi pada pencerahan merupakan bentuk implementasi hadis tersebut. Melalui tulisan, seseorang belajar mengurangi prasangka, memperbesar hikmah, dan mengubah luka menjadi pelajaran yang bermanfaat bagi banyak orang.

Dalam perspektif kecerdasan emosional modern maupun ajaran Islam, taghaful bukanlah sikap acuh tak acuh, melainkan kemampuan memilih mana yang harus diperbaiki dan mana yang cukup dimaklumi. Orang yang matang tidak menghabiskan hidupnya untuk mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi menggunakan waktunya untuk memperbaiki diri, membangun lembaga, dan menebarkan manfaat. Pengalaman menerima "kado pahit" Milad ke-42 YSDP Al-Mishbah mengajarkan bahwa kritik dapat menjadi bahan evaluasi, sedangkan kesabaran dan karya nyata menjadi jawaban terbaik. Sebab pada akhirnya, sejarah tidak ditulis oleh mereka yang sibuk mencari kesalahan, tetapi oleh mereka yang tetap berkarya meski tidak luput dari kekurangan. Wallahu A’lam.

 

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar