MENULIS MELATIH KEIKHLASAN

2026-02-24 00:38:06 | Diperbaharui: 2026-02-24 00:38:23
MENULIS MELATIH KEIKHLASAN
Gambar. Ilustrasi reflektif Menulis Melatih Keikhlasan Menulis Buku Ajar Berbasis Psikologi Langit: Dari Empati Akademik Menuju “Wahyu Memandu Ilmu”Disusun penulis, dengan berbantuan Artificial Intelligence (AI), Untuk PBB ke-111/24  Februari 2026.

 

MENULIS MELATIH KEIKHLASAN: Jalan Sunyi Buku Ajar Pembiayaan Pendidikan Menuju “Wahyu Memandu Ilmu” 

Oleh: A. Rusdiana

Kita sedang berada pada fase ketika pendidikan tampak sibuk secara administratif tetapi sepi secara reflektif. Diskusi berlangsung di ruang-ruang formal, laporan terus disusun, tetapi kedalaman makna sering terlewat. Rendahnya minat menulis di kalangan masyarakat pendidikan menunjukkan adanya jarak antara pengetahuan dan kesadaran. Padahal menulis adalah proses penyembuhan terapi bagi jiwa akademik yang lelah oleh rutinitas.

Di tengah kondisi itu, komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) yang pada episode ke-106 telah mencapai 2.476 anggota merupakan energi sosial yang luar biasa. Namun ukuran peradaban bukan jumlah anggota, melainkan sejauh mana tulisan menjadi cahaya yang menerangi.

Dalam perspektif Imam Al-Ghazali, ilmu tanpa amal adalah kesia-siaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan. Maka menulis terutama dalam penyusunan Buku Ajar Pembiayaan Pendidikan Part 11: Prinsip Pengawasan bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi jalan spiritual yang menyatukan ilmu, amal, dan niat.

Kerangka Teoretis: Konsistensi, Refleksi, dan Tazkiyatun Nafs; Paulo Freire menempatkan refleksi sebagai inti pendidikan yang membebaskan. Menulis adalah refleksi yang membebaskan diri dari kedangkalan berpikir. Sementara Anders Ericsson melalui teori deliberate practice menegaskan bahwa keahlian lahir dari latihan yang konsisten.

Dalam perspektif Psikologi Langit, konsistensi itu adalah proses tazkiyatun nafs penyucian jiwa melalui amal yang dilakukan terus-menerus karena Allah. Al-Qur’an mengabadikan kemuliaan pena: “Alladzi ‘allama bil qalam” Yang mengajar manusia dengan pena (QS. Al-‘Alaq: 4).

Hadis Nabi menegaskan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meski sedikit. Di sinilah relevansi ungkapan filosof Muslim: Sya’ban adalah masa menyiram amal yang ditanam di Rajab agar Ramadan menjadi musim panen iman. Menulis setiap hari adalah proses menyiram itu. Maka dari itu semua Menulis Melatih Keikhlasan: Lima Pembelajaran Spiritual-Akademik:

Pertama: Keikhlasan sebagai Fondasi Integritas; Tidak semua tulisan dibaca banyak orang. Tidak semua mendapatkan apresiasi. Tetapi setiap huruf dicatat sebagai amal. Ini adalah maqam ihsan: bekerja sebaik mungkin meski tidak dilihat manusia. Dalam konteks pengawasan pembiayaan pendidikan, keikhlasan melahirkan integritas—bekerja benar meski tanpa audit.

Kedua: Menulis sebagai Muhasabah Intelektual; Menulis memaksa kita jujur pada diri sendiri. Ia menjadi proses evaluasi batin. Dalam teori reflective practice (Donald Schön), refleksi adalah inti profesionalisme. Dalam Islam, ini adalah muhasabah.

Ketiga: Menulis Menumbuhkan Empati Akademik; Ketika menulis tentang pembiayaan pendidikan, kita tidak hanya menghitung angka, tetapi merasakan ketidakadilan akses. Inilah pendidikan humanistik yang membebaskan. Sabda Nabi: “Tidak beriman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya.”

Keempat: Menulis sebagai Zikir Peradaban; Setiap kalimat yang diniatkan karena Allah adalah zikir. Pena menjadi tasbih. Apalagi ketika tulisan diawali dengan pantun Psikologi Langit ia bukan sekadar estetika, tetapi penguat niat.

Kelima: Konsistensi Menulis sebagai Jalan Transformasi Diri; Perjalanan dari posisi Penjelajah menuju Fanatik di Kompasiana bukan sekadar capaian digital, tetapi perjalanan spiritual menjaga istiqamah. Konsistensi adalah riyadhah ruhaniyah. Strategi Menyongsong Semester Genap 2025/2026: 1) Menulis setiap hari sebagai latihan keikhlasan; 2) Mengawali tulisan dengan pantun Psikologi Langit untuk menjaga ruh; 3) Menjadikan PBB sebagai ekosistem kolaborasi reflektif; 3) Menulis buku ajar sebagai amal jariyah, bukan sekadar kewajiban akademik; 4) Menjaga niat: dari publikasi menuju peradaban.

Sebagai Penutup: Jalan Sunyi Menuju Panen Iman; Jika Rajab adalah masa menanam, dan Sya’ban masa menyiram, maka konsistensi menulis adalah air yang menjaga kehidupan pohon amal itu. Ramadan kelak menjadi musim panen bukan hanya panen pahala, tetapi panen kesadaran. Menulis melatih keikhlasan karena ia adalah kerja sunyi. Tidak riuh, tetapi dalam. Tidak selalu terlihat, tetapi berdampak.

Dari buku ajar pembiayaan pendidikan yang ditulis dengan kesadaran Wahyu Memandu Ilmu, lahirlah generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga jujur secara spiritual. Dan dari komunitas kecil yang menulis setiap hari, peradaban besar selalu bermula. Wallahu a’lam.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar