KONSISTENSI MEULIS JALAN SPIRITUAL

2026-02-23 04:39:31 | Diperbaharui: 2026-02-23 04:41:32
KONSISTENSI MEULIS JALAN SPIRITUAL
Sumber: Wikihow, tersedia di https://id.wikihow.com/Melakukan-Perjalanan-Spiritual

Konsistensi Menulis Jalan Spiritual: Dari Empati Akademik Menuju “Wahyu Memandu Ilmu”

Oleh; A. Rusdiana

Pergi ke masjid membawa kurma,
Singgah sejenak membeli delima.
Lisan dijaga sepanjang puasa,
Agar hati bersih penuh cahaya.

(Refleksi PBB Episode 110)

Memasuki hari-hari awal Ramadan, ketika pendidikan kita sering disebut “sedang sakit”, saya menemukan bahwa menulis bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi terapi ruhani. Menulis buku ajar berbasis Psikologi Langit menghadirkan kesadaran bahwa ilmu harus melahirkan rasa takut kepada Allah SWT dan kebermanfaatan sosial, sebagaimana pesan Al-Qur’an dan hadis Nabi. Konsistensi menulis menjadi latihan menjaga hati—seperti puasa menjaga lisan agar ilmu tidak kering dari empati.

Fenomena rendahnya minat menulis di kalangan masyarakat pendidikan menunjukkan adanya jarak antara pengetahuan dan kesadaran. Padahal, komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) yang kini mencapai 2.473 anggota adalah energi sosial yang luar biasa. Pertanyaannya bukan sekadar berapa jumlah anggotanya, tetapi sejauh mana tulisan-tulisan itu menjadi cahaya peradaban. Dalam perspektif Imam Al-Ghazali, ilmu tanpa amal adalah kesia-siaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan. Di sinilah menulis menjadi jalan spiritual: menyatukan ilmu, amal, dan niat.

Secara teoritis, pendekatan pendidikan humanistik (Freire) menempatkan refleksi sebagai inti pembebasan. Sementara teori deliberate practice dari Anders Ericsson menegaskan bahwa konsistensi adalah kunci keahlian. Dalam Psikologi Langit, konsistensi bukan hanya proses kognitif, tetapi tazkiyatun nafs penyucian jiwa melalui amal berulang yang diniatkan karena Allah. Filosof Muslim mengingatkan, Sya’ban adalah masa menyiram amal yang ditanam di Rajab agar Ramadan menjadi musim panen iman. Menulis setiap hari adalah proses menyiram itu. Dari perjalanan ini, saya menemukan lima pembelajaran:

Pertama, menulis melatih keikhlasan. Tidak semua tulisan dibaca banyak orang, tetapi setiap huruf dicatat sebagai amal. Ini sejalan dengan konsep ihsan: bekerja sebaik mungkin meski tidak dilihat manusia.

Kedua, menulis menumbuhkan empati akademik. Mahasiswa tidak hanya menghitung unit cost, tetapi memahami beban psikologis keluarga miskin. Inilah integrasi antara data dan rasa.

Ketiga, menulis adalah zikir intelektual. Dalam teori neurosains kontemporer, kebiasaan reflektif membangun ketenangan mental. Dalam perspektif wahyu, ia menjadi jalan tadabbur.

Keempat, menulis membangun peradaban kolaboratif. Komunitas PBB adalah bukti bahwa literasi bukan kerja individual, tetapi gerakan sosial.

Kelima, konsistensi menulis adalah jalan menuju transformasi diri. Dari posisi “penjelajah” di Kompasiana menuju “fanatik” dalam makna positif: bukan pada popularitas, tetapi pada keberlanjutan amal.

Ramadan 10 hari pertama adalah fase tarbiyah hati. Konsistensi menulis pada fase ini menjadi latihan spiritual yang paralel dengan puasa: menahan diri dari kemalasan, menjaga niat, dan menghadirkan Allah dalam setiap kalimat. Menyongsong semester genap 2025/2026, buku ajar berbasis wahyu memandu ilmu tidak lagi sekadar produk akademik, tetapi gerakan penyembuhan pendidikan melalui empati.

Natijah dari perjalanan ini adalah bahwa manajemen pendidikan membutuhkan sentuhan ruhani. Tulisan yang lahir dari hati akan menyentuh hati. PBB sebagai ruang kolaborasi harus bergerak dari sekadar jumlah menuju dampak: membangun tradisi menulis harian, riset kolaboratif, dan buku ajar yang berperspektif keadilan sosial.

Akhirnya, konsistensi menulis adalah ibadah panjang. Ia seperti puasa: mungkin tidak selalu terlihat hasilnya, tetapi membentuk ketakwaan. Dari sana lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga hidup hatinya—generasi yang dipandu wahyu dalam mengelola ilmu. Wallahu A'lam.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar