Menulis Buku Ajar sebagai Amal Jariyah Intelektual di Madrasah Ramadan: Puasa, Pena, dan Peradaban: Buku Ajar sebagai Amal Jariyah Intelektual di Madrasah Ramadan
Oleh: A. Rusdiana
Memasuki hari ketiga Ramadan, kesadaran spiritual menemukan momentumnya. Dalam tradisi ulama, sepuluh hari pertama adalah fase rahmat ruang di mana setiap amal kecil dilipatgandakan maknanya. Pada titik inilah menulis buku ajar berbasis Psikologi Langit menemukan relevansi terdalamnya. Ia bukan lagi sekadar aktivitas akademik, melainkan ibadah intelektual yang menanam jejak peradaban.
Di tengah fenomena “pendidikan yang sedang sakit” ditandai oleh ketimpangan akses, pembiayaan yang belum sepenuhnya berkeadilan, serta pembelajaran yang kering empati kita membutuhkan sentuhan wahyu sebagai kompas moral. Al-Qur’an menegaskan bahwa orang berilmu sejati adalah mereka yang semakin takut kepada Allah (QS. Fathir: 28). Inilah fondasi empati akademik: ilmu yang melahirkan keberpihakan.
Menulis buku ajar dalam perspektif ini adalah amal jariyah intelektual. Ia hidup melampaui usia penulisnya. Setiap halaman yang menjelaskan unit cost dengan perspektif keadilan sosial, setiap tabel pembiayaan yang mempertimbangkan beban keluarga miskin, setiap konsep efisiensi yang disertai nilai kemanusiaan—semuanya menjadi aliran pahala yang tak terputus.
Secara teoretis, gagasan ini selaras dengan konsep knowledge as a public good dari Joseph Stiglitz, bahwa ilmu harus memberi manfaat sosial luas, bukan sekadar keuntungan individual. Dalam pendidikan, Paulo Freire menyebutnya sebagai pedagogy of the oppressed pendidikan yang membebaskan. Sementara dalam tradisi Islam, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu yang tidak membawa manusia lebih dekat kepada Allah adalah ilmu yang kehilangan ruhnya. Di sinilah Psikologi Langit menemukan jembatan antara wahyu dan teori kontemporer.
Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) yang kini memasuki episode ke-109 dengan 2.469 anggota adalah laboratorium kecil peradaban itu. Mungkin dampaknya belum terukur secara statistik, tetapi setiap tulisan adalah energi perubahan. Dalam logika amal jariyah, yang dinilai bukan hanya kuantitas pembaca, tetapi keberlanjutan manfaatnya. Dari semua itu, ditemukan ada lima pembelajaran penting yang dapat dipetik:
Pertama, Ramadan melatih orientasi menulis sebagai ibadah; Ketika menulis diniatkan karena Allah, ia terbebas dari kecemasan popularitas. Ini selaras dengan teori self-determination dari Deci dan Ryan: motivasi intrinsik melahirkan ketahanan jangka panjang.
Kedua, buku ajar adalah sedekah ilmu; Nabi Muhammad SAW menyebut ilmu yang bermanfaat sebagai amal yang tidak terputus. Dalam konteks semester genap 2025/2026, ini berarti setiap materi kuliah yang ditulis dengan empati adalah investasi peradaban.
Ketiga, menulis menjadi terapi pendidikan; James Pennebaker dalam riset expressive writing menunjukkan bahwa menulis mampu menyembuhkan luka psikologis. Dalam dunia pendidikan yang penuh tekanan administratif, menulis menghadirkan ruang kontemplasi.
Keempat, konsistensi menulis membangun habitus intelektual; Strategi mempertahankan posisi “Penjelajah” menuju “Fanatik” di Kompasiana bukan soal ambisi personal, tetapi latihan istiqamah. Setiap hari diawali dengan pantun Psikologi Langit adalah bentuk ritual learning sebagaimana dijelaskan dalam teori deliberate practice oleh Anders Ericsson.
Kelima, buku ajar sebagai amal jariyah adalah bentuk keberlanjutan peradaban; Filosof Muslim menyebut Sya’ban sebagai masa menyiram amal agar Ramadan menjadi musim panen. Menulis hari ini adalah menanam pohon ilmu yang buahnya dinikmati generasi mendatang.
Dalam konteks ini, rendahnya minat masyarakat pendidikan terhadap tulisan reflektif bukan alasan untuk berhenti. Justru di situlah nilai perjuangannya. Seperti petani yang menanam di musim kering, ia percaya bahwa hujan rahmat akan datang pada waktunya.
Akhirnya, menulis buku ajar berbasis Psikologi Langit adalah jalan sunyi yang penuh cahaya. Ia menghubungkan sahur yang hening dengan ruang kelas, mengikat pantun dengan teori, menyatukan wahyu dengan data. Di hari ketiga Ramadan ini, pena menjadi tasbih panjang yang menata peradaban.
Sebab pada akhirnya, buku ajar yang ditulis dengan empati bukan hanya mengajar mahasiswa memahami angka, tetapi mengajarkan mereka membaca kehidupan. Dan itulah amal jariyah intelektual yang sesungguhnya. Wallahu a’lam.