Studi Lanjut dari Dayah: antara Harapan dan Kekhawatiran

2026-02-06 20:35:43 | Diperbaharui: 2026-02-06 20:37:32
Studi Lanjut dari Dayah: antara Harapan dan Kekhawatiran
Santri Dayah Muhammadiyah Boarding School Bireuen

 

Pernah nggak sih kamu lihat teman perempuan yang dari dayah sudah on fire untuk lanjut kuliah ke kota besar, tapi kok jadinya gak dikasih restu orang tua? Cerita kayak gitu bukan cuma drama remaja biasa — ini adalah gambaran nyata tentang ketegangan harapan individu dan kekhawatiran keluarga.

Fenomena ini bukan kejadian sepele. Secara nasional, walaupun tingkat partisipasi perempuan di pendidikan tinggi makin tinggi — bahkan lebih banyak lulusan perempuan dibanding laki-laki di jenjang perguruan tinggi menurut data BPS 2024 — hanya sekitar 6 persen perempuan di daerah perdesaan yang bisa lanjut kuliah sampai jenjang itu.

Ini berarti: masih banyak perempuan muda yang punya potensi besar, tapi terhambat oleh faktor struktural seperti budaya, ekonomi, dan sikap orang tua terhadap pendidikan tinggi.


Kenapa Orang Tua Sering Ragu?

Beberapa alasan yang sering muncul di keluarga dayah atau komunitas tradisional:

 Kekhawatiran soal keamanan anak di kota jauh.
 Persepsi bahwa perempuan cukup sampai jenjang tertentu.
 Biaya dan tanggung jawab di rumah dianggap lebih penting.
 Takut kehilangan kontrol terhadap kehidupan anak perempuan.

Padahal, data menunjukkan kalau perempuan yang menempuh pendidikan tinggi kini bukan hal aneh lagi. Perempuan dominan menyelesaikan pendidikan di banyak perguruan tinggi Indonesia.


 STIFIn Learning & Parenting: Bukan Sekadar “Ngeyel”

Dari sudut pandang STIFIn learning, setiap orang punya kecenderungan belajar dan berkembang yang berbeda.

 Insting (In) biasanya belajar melalui pengalaman langsung, hubungan sosial yang aman, dan konteks nyata.
 Sensing (S) belajar dari fakta konkret dan terstruktur, suka main.
 Thinking (T) menganalisis berdasarkan logika dan data.
 Feeling (F) menetapkan keputusan berdasarkan nilai dan relasi personal.
 Intuiting (I) melihat peluang jangka panjang dan makna besar.

Kalau seorang anak perempuan dari dayah sudah punya insting kuat ingin kuliah, itu tanda dia sedang memetakan masa depannya, bukan sekadar “ngotot”.


 Strategi Bicara dengan Orang Tua (Tanpa Drama)

Kalau hanya debat atau paksaan, biasanya yang terjadi justru stres dan resistensi. Coba pendekatan ini:

1. Tunjukkan Fakta

Kalau perlu, bawa data tentang:
 peluang kerja setelah kuliah,
 beasiswa yang bisa membantu biaya,
 keamanan kampus dan kos di kota tujuan.

Data BPS & statistik pendidikan bisa jadi alat argumentasi yang meyakinkan.

2. Bangun Rencana Nyata

Orang tua sering tenang kalau melihat rencana jelas:

  • biaya kuliah + sumbernya (beasiswa, kerja paruh waktu)

  • rencana tempat tinggal aman

  • rencana pulang saat libur

3. Libatkan Tokoh yang Dipercaya

Kalau memang budaya atau norma jadi hambatan, libatkan orang yang dihormati (ustadz/ustadzah, kakak, tokoh komunitas).

4. Bicarakan dengan Empati

Ini bukan soal menang kalah.
Orang tua ingin yang terbaik buat anaknya. Bicara persuasif berarti:
 mendengar kekhawatiran mereka
 lalu menjelaskan harapan kamu dengan jelas.


 Kenapa Hak Belajar Itu Penting

Pendidikan bukan sekadar titel, tapi modal hidup. Data juga menunjukkan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, makin besar peluangnya untuk:

  • pekerjaan yang lebih stabil,

  • income lebih tinggi,

  • kesejahteraan keluarga lebih baik.

Jadi, ketika seorang perempuan dari dayah ingin kuliah ke kota, itu bukan sekadar “ingin jauh dari rumah”, tapi strategi membangun masa depan yang lebih mandiri dan bermakna.


 Pesan Pamungkas

Mau jadi yang pertama kuliah di keluarga? Itu bukan hal mustahil. Tapi perjalanan itu biasanya bukan soal cepat atau lambat — itu soal komunikasi yang tepat, perencanaan yang matang, dan empati pada semua pihak.

Yang penting:
 jangan berhenti bermimpi karena takut menolak orang tua,
 tapi juga jangan memaksakan tanpa komunikasi dan rencana.

Karena pendidikan itu bukan soal jauh atau dekat,
tapi tentang siapa yang berani membawa masa depan lebih besar.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar