![]()
![]()
![]()
Tulisan Menyalakan Inspirasi: Masihkah Kita Percaya pada Kisah Keteladanan?
Oleh: A. Rusdiana
Pendidikan kita hari ini kerap tampak maju secara sistem, tetapi lelah secara batin. Kurikulum terus diperbarui, asesmen diperketat, teknologi dipercepat, namun ruh pembelajaran justru sering tertinggal. Tak berlebihan bila muncul ungkapan bahwa pendidikan sedang “sakit di bagian hati”. Ia bekerja, tetapi kurang bernyawa. Dalam situasi seperti ini, pendidikan membutuhkan sentuhan psikologi langit—pendekatan yang tidak hanya mengasah kecerdasan, tetapi juga memulihkan makna, ketenangan, dan harapan.
Kesadaran itu datang justru dari peristiwa kecil yang nyaris terlewat. Suatu malam, seorang mahasiswa mengirim pesan singkat disertai foto bonsai. “Nembe rengse pruning, Prof,” tulisnya. Ia bercerita tentang cemara duri yang dirawat dengan sabar, sudah bersertifikat, bahkan mulai dilirik dengan nilai jutaan rupiah. Tidak ada ceramah, tidak ada motivasi instan. Hanya proses merawat, memangkas, menunggu, dan setia. Namun kisah sederhana itu menyentuh lebih dalam daripada banyak slogan pendidikan.
Di situlah saya kembali disadarkan: inspirasi sejati sering lahir dari keteladanan nyata yang ditulis dan dibagikan. Merawat bonsai adalah kerja sunyi seperti mendidik dan menulis. Ia menuntut kesabaran, konsistensi, dan keberanian mengurangi yang berlebih demi pertumbuhan yang lebih bermakna. Ketika pengalaman semacam ini dituliskan, tulisan menjelma terapi pendidikan: menyembuhkan kelelahan batin pendidik, menguatkan niat belajar mahasiswa, dan menyalakan harapan kolektif. Sayangnya, minat menulis reflektif di lingkungan pendidikan masih terbatas.
Banyak keteladanan berhenti sebagai peristiwa, tidak terdokumentasi, lalu menghilang. Padahal, seperti bonsai yang dirawat bertahun-tahun, nilai pendidikan hanya akan bertahan jika disiram secara konsisten melalui tulisan. Dari titik inilah refleksi ini berangkat: bahwa tulisan mampu menyalakan inspirasi, dan satu kisah keteladanan sekecil apa pun dapat menggerakkan banyak orang, terutama ketika dirawat dalam komunitas dan diwariskan lintas generasi.
Tulisan sebagai Api Inspirasi; pada Pilar keempat dokumentasi nilai menegaskan: tulisan menyalakan inspirasi. Biografi para salaf dalam Hilyatul Auliya’ membuat pembaca merasa dekat dengan figur-figur luhur. Mereka bukan tokoh mitos, tetapi manusia nyata yang bergulat dengan zaman, ego, dan tanggung jawab. Kisah itu bekerja seperti api kecil—tenang, tetapi menghangatkan dan menerangi. Hal serupa berlaku hari ini. Cerita sederhana tentang guru yang bertahan di daerah terpencil, dosen yang jujur menolak jalan pintas, atau mahasiswa yang bangkit dari keterbatasan bila ditulis dapat menjadi bahan bakar semangat kolektif. Teori narrative psychology menjelaskan bahwa manusia belajar makna melalui cerita. Albert Bandura, lewat social learning theory, menegaskan bahwa keteladanan (modeling) lebih efektif daripada instruksi. Inspirasi lahir bukan dari perintah, melainkan dari contoh yang hidup.
Al-Qur’an menegaskan kekuatan kisah: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal” (QS. Yusuf: 111). Hadis Nabi juga menegaskan, “Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” Pesan ini bukan hanya soal menyampaikan teks, tetapi juga nilai dan keteladanan.
Ungkapan para filsuf Muslim tentang Sya’ban relevan di sini: bulan Sya’ban adalah masa menyiram dan merawat amal yang ditanam di Rajab, agar Ramadan menjadi musim panen iman yang matang dan bermakna. Menulis adalah proses menyiram perlahan, konsisten, dan penuh kesadaran. Ia menyiapkan jiwa pendidik dan peserta didik menyongsong pembelajaran Semester Genap 2025/2026 dengan makna, bukan sekadar target. Dari pilar ini, setidaknya ada lima pembelajaran penting:
Pertama: Inspirasi lahir dari keteladanan nyata; Suatu malam, tanpa rencana, seorang mahasiswa mengirim foto bonsai. Pesannya singkat: “Nembe rengse pruning, Prof.” Tidak ada kalimat motivasi, tidak ada slogan besar. Hanya cerita sederhana tentang cemara duri yang baru selesai dirapikan, disertai kabar kecil: sudah bersertifikat, bahkan ada yang menawar dua juta. Namun justru di situlah inspirasi bekerja. Merawat bonsai menuntut kesabaran, ketelitian, dan keberanian memangkas yang berlebih demi pertumbuhan yang lebih indah. Keteladanan tidak selalu hadir dalam panggung megah, tetapi dalam proses sunyi yang konsisten.
Mahasiswa itu belajar nilai bukan dari ceramah panjang, melainkan dari pengalaman merawat, menunggu, dan bertanggung jawab atas pilihannya. Cerita kecil seperti ini jauh lebih menggerakkan daripada jargon kesuksesan. Ia menunjukkan bahwa inspirasi lahir dari praktik nyata dari tangan yang kotor oleh tanah, dari waktu yang diluangkan, dan dari kesediaan merawat sesuatu hingga bernilai. Di situlah pendidikan menemukan denyut manusianya.
Kedua: Menulis adalah terapi pendidikan; Merawat bonsai sering menjadi terapi batin. Saat memangkas dahan, pikiran ikut dirapikan. Saat menyiram, hati ikut ditenangkan. Hal yang sama terjadi dalam menulis. Ketika pendidik atau mahasiswa menuangkan pengalaman ke dalam kata, sesungguhnya mereka sedang menyembuhkan kelelahan batin. Pendidikan hari ini sering menekan dari sisi target, administrasi, dan evaluasi. Menulis memberi ruang jeda seperti jeda setelah pruning, ketika bonsai dibiarkan pulih dan beradaptasi.
Cerita mahasiswa tentang bonsainya bukan sekadar laporan aktivitas, melainkan ekspresi kebanggaan, kesabaran, dan harapan. Bagi pembacanya, tulisan semacam itu menghadirkan ketenangan dan makna. Menulis menguatkan kembali niat awal belajar dan mengajar: bertumbuh, bukan sekadar berprestasi. Ia menjadi psikologi langit menautkan kerja lahir dengan ketenangan batin. Dalam konteks ini, menulis bukan tambahan beban akademik, melainkan ruang pemulihan yang membuat pendidik dan peserta didik kembali waras, utuh, dan bersemangat.
Ketiga: Nilai perlu didokumentasikan agar tidak hilang; Jika kisah bonsai itu hanya berhenti di ruang percakapan, ia akan menguap bersama waktu. Tetapi ketika ditulis, ia berubah menjadi jejak nilai. Dokumentasi membuat keteladanan tidak berhenti sebagai peristiwa sesaat, melainkan menjadi warisan yang bisa dibaca ulang, direnungkan, dan diteladani. Bonsai yang dirawat bertahun-tahun memiliki cerita di setiap lekuk batangnya. Begitu pula nilai dalam pendidikan. Tanpa dokumentasi, kerja sunyi mahasiswa, guru, atau dosen akan mudah dilupakan. Tulisan berfungsi seperti pot: menjaga akar nilai agar tetap hidup dan bisa dipindahkan ke ruang yang lebih luas.
Kisah tentang kesabaran memangkas, keberanian menunggu, dan kejujuran merawat menjadi pelajaran lintas generasi. Di sinilah tulisan berperan strategis dalam transmisi peradaban. Ia memastikan bahwa nilai tidak hanya hidup di kepala pelaku, tetapi dapat diwariskan kepada mereka yang tidak pernah hadir dalam peristiwa awalnya.
Keempat: Komunitas memperbesar daya sebar inspirasi; Satu bonsai yang dirawat dengan baik akan lebih bermakna ketika dilihat, dibicarakan, dan dibagikan. Komunitas bekerja dengan cara serupa. Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB), dengan ribuan anggota, adalah ruang di mana kisah kecil menemukan gema yang lebih luas. Cerita tentang bonsai mahasiswa, bila dibagikan dalam komunitas, tidak lagi menjadi pengalaman personal, tetapi inspirasi kolektif. Angka anggota bukan sekadar statistik; ia adalah potensi ekosistem saling menyalakan. Seperti kebun bonsai, setiap anggota merawat “tanaman” masing-masing pengalaman, refleksi, dan nilai lalu saling belajar dari proses satu sama lain. Komunitas memberi keberanian untuk menulis, memperkaya sudut pandang, dan menjaga konsistensi. Inspirasi yang mungkin redup bila sendirian, menjadi terang ketika dirawat bersama. Di sinilah komunitas berperan sebagai ruang peradaban kecil yang hidup.
Kelima: Konsistensi lebih penting daripada viralitas; Bonsai tidak pernah tumbuh karena viral. Ia tumbuh karena disiram setiap hari, dipangkas berkala, dan dirawat dengan sabar. Pendidikan dan menulis pun demikian. Amal kecil yang kontinu menulis refleksi singkat, mendokumentasikan pengalaman sederhana sering lebih berdampak daripada tulisan yang meledak sesaat lalu dilupakan. Kisah mahasiswa tentang bonsainya menunjukkan nilai konsistensi: proses panjang yang akhirnya menghasilkan kualitas dan nilai ekonomi. Dalam menulis, konsistensi membangun kedalaman, kredibilitas, dan kepercayaan. Ia sejalan dengan prinsip bahwa yang dicintai adalah amal yang berkesinambungan. Viralitas boleh datang dan pergi, tetapi tulisan yang lahir dari ketekunan akan terus memberi makna. Seperti bonsai yang matang perlahan, inspirasi sejati tumbuh dalam waktu. Dan justru dari proses yang sunyi itulah pendidikan menemukan kekuatannya yang paling tahan lama.
Menyongsong Peran dan Strategi; Bagi penulis di Kompasiana, mempertahankan posisi Penjelajah menuju Fanatik bukan soal kuantitas semata. Strateginya jelas: menjaga orisinalitas refleksi, menulis berbasis pengalaman, menghindari repetisi tema, dan menautkan isu personal dengan problem publik pendidikan. Tulisan bernilai akan menemukan pembacanya sendiri.
Di tengah pendidikan yang “sakit di hati”, tulisan adalah salah satu obat yang sering diremehkan. Ia tidak bising, tidak instan, tetapi menyalakan inspirasi secara diam-diam. Satu kisah keteladanan, bila ditulis dengan niat lurus, mampu menggerakkan banyak orang. Mungkin di situlah peradaban dirawat bukan dengan gegap gempita, tetapi dengan kata-kata yang jujur dan bernyawa. Walahu A’lam.