Kotekatalk-270: 7 Tips Aman Traveling ke Kamboja
Ke negara tetangga Kamboja, yuk! (dok. Mala)

Kotekatalk-270: 7 Tips Aman Traveling ke Kamboja

Mulai : Sabtu, 28 Februari 2026 16:00 WIB
Selesai : Sabtu, 28 Februari 2026 16:40 WIB
zoom
0
02
10
09
Hari Jam Menit Detik
0 Peserta Mendaftar

Hi, Koteker dan Kompasianer. Apa kabar? Masih sehat dan bahagia, bukan.

Sabtu lalu, Komunitas Traveler Kompasiana dan Pesanggrahan Indonesia e.V Bonn sudah menggelar live streaming dari Oslo, Norwegia. Narasumber Gana Stegmann telah memperlihatkan keindahan Oslo di musim dingin. Salju melimpah dan Norwegia memang berbeda dengan negara Eropa lainnya. 

Kota yang dihuni kurang lebih 700 ribu jiwa itu merupakan kota yang sangat anti polusi. Kendaraan yang berlalu lalang dijalanan nggak menimbulkan suara karena semuanya pakai elektrik. Ada produk China yang digunakan masyarakat di sana karena harganya terjangkau dan tidak dikenai pajak setinggi di Jerman, yang melindungi mobil produk lokal seperti VW, Mercedes dan Porsche. 

Perjalanan Gana Stegmann ke Oslo, dimulai dari Frankfurt. Untuk menuju bandara di sana, butuh tiga jam perjalanan dengan mobil melalui jalan tol. Karena sudah check online satu hari sebelumnya dan hanya membawa bagasi tangan 7 kg, tidak perlu check in lagi dan hanya menunggu kurang dari satu jam saja untuk boarding. 

Pesawat Lufthansa mengudara ke sana. Tak banyak penerbangan yang ditawarkan dari Jerman ke Norwegia sampai dengan April. Hanya stau penerbangan. Itu saja pesawat terakhir pukul 21.45 CET dan dibandrol 250 Euro atau Rp 5 juta PP. Padahal katanya ada peraturan dari Jerman yang tidak mengizinkan pesawat mengudara lebih dari pukul 22, lho. Ternyata walau terlambat sampai pukul 22.15, pesawat terbang menuju arah Oslo. Setelah dua jam, sampai di sana. Salju sangat tebal di sekitar bandara. Udara sangat dingin. Dari Jerman -1 derajat, di sana -11 derajat. Brrrrrr...

Live streaming dimulai Hotel Radisson Blue di Nydale. Narasumber menyoroti suasana di lobi dan desain interior di sana. Setelahnya, segera keluar sambil menutupi kepala dengan badan rapat-rapat.

Perjalanan dilanjutkan menuju Universitas Business School di seberang hotel. Tiba-tiba melintas bus gandeng panjang berwarna merah. Kalau di Indonesia mungkin sekitar 4 bus jadi satu. Terlihat tak banyak yang menumpang bus. Bus berhenti di depan halte Universitas BI. 

Berjalan sedikit lamban karena jalan setapak tidak dibersihkan seperti jalan setapak di Jerman saat winter, salju tebal berserakan itu memang tidak licin. Hanya saja, harus hati-hati supaya tidak tergelincir ketika berjalan melewatinya. 

Tak jauh dari universitas, ada mall besar bernama Storo Storesenter. Karena berjalan sambil ngomong, terlihat narasumber terengah-engah. Bangunan-bangunan lain yang dilewati bentuknya kotak. Berbeda dengan suasana di Jerman, di banyak kota tua biasanya memiliki bangunan kuno yang masih terawat, terjaga, berguna dan cantik. Dalam sorotan ada satu bangunan tua dengan batu bata merah, yang kelihatan seperti gudang pabrik. 

Ditanya soal makanan, narasumber sudah mencoba beragam ikan khususnya salmon, yang menjadi kekayaan alam dari Norwegia, juga keju khusus berwarna coklat, rasanya manis karamel, lembut dan seperti butter. Namanya Brunost. Penyuka keju akan mampu membedakan keistimewaan dari keju itu. Sebagai oleh-oleh narasumber membeli keju itu dengan beragam warna pembungkus, coklat, merah dan kuning. Masing-masing memiliki tingkat rasa yang berbeda, dari mild sampai strong. Selain itu coklat Norwegia juga menjadi kudapan yang dibawa pulang. Di sana, ternyata pajak untuk coklat tinggi karena dianggap sebagai makanan yang manis. Ini tentu saja nggak baik untuk kesehatan kalau dikonsumsi terlalu banyak.

Dari Norwegia, kita ke Kamboja. Adalah Mala Karmila yang akan menjadi narasumber Kotekatalk-270 dengan tema "7 Tips Traveling Aman dan Nggak Boncos ke Kamboja." Perjalanannya ke sana beberapa waktu yang lalu ingin ia bagi. Mengingat Kamboja adalah negara tetangga Indonesia yang nggak jauh dan tentunya punya keistimewaan berbeda dengan negara kita, ia rekomendasikan untuk dikunjungi.

Bagaimana dengan visa ke sana? Berapa budget yang harus dipersiapkan untuk trip ke sana selama seminggu? Apa saja yang harus dibawa untuk berkunjung ke sana? Tempat mana saja yang bagus dan gratis sampai murmer untuk dikunjungi di sana? Di mana tempat menginap yang aman di kantong? Ke Kamboja sendirian atau dengan group tour? Bagaimana perjalanan ke sana, nyamankah?

Untuk tahu jawabannya, mari simak perbincangan dengan journalis lepas, traveler dan content creator ini dalam Kotekatalk pada:

  • Hari/tanggal: Sabtu, 28 Februari 2026
  • Pukul: 16.00 WIB Jakarta/ 10.00 CET Berlin
  • Link: DI SINI

Kamboja adalah negara konstitusional yang berbatasan dengan Thailand, Laos dan Vietnam. Beribukota Phnom Penh, negara itu terkenal dengan wisata Angkor Wat, hingga dijuluki negeri seribu pagoda. Negara yang dulu memiliki sejarah gemilang kekaisaran Kamboja Khmer itu, sempat tercoreng kekuasaan Khmer merah pada tahun 1970-an.  

"Buah durian harum baunya, buah manggis manis rasanya. Bersama Komunitas Traveler Kompasiana, kita jalan-jalan keliling dunia."

Sampai jumpa Sabtu sore.

Salam Koteka. (Gana Stegmann)

 

 

 

 

0 Peserta Mendaftar


Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar