Pernah nggak, sih, kamu merasa ragu buat mulai menulis? Pikiranmu berputar-putar, "Ah, bahasaku kurang puitis," atau "Kalimatnya jelek banget, pasti nggak ada yang mau baca."
Aku juga sering merasa begitu. Kadang, jari sudah siap di atas keyboard, tapi hati ragu. Takut tulisanku tidak secantik tulisan orang lain. Takut dibilang asal tulis saja.
Tapi lama-kelamaan aku sadar. Kita sering salah mengartikan fungsi menulis, terutama saat kita menulis untuk diri sendiri.
Menulis itu bukan selalu soal membuat karya sastra yang masuk ke dalam buku pelajaran. Menulis itu bukan soal diksi yang rumit atau metafora yang rumit.
Menulis itu soal melepaskan.
Saat hatimu penuh sesak, saat pikiranmu berisik, saat perasaanmu campur aduk tak karuan—itulah saatnya kamu butuh kertas atau layar kosong. Kamu tidak butuh kalimat yang indah untuk membuat orang lain terpesona. Kamu butuh kalimat yang jujur supaya kamu bisa bernapas lega.
Tulisan yang jujur itu lebih kuat daripada tulisan yang indah tapi hampa.
Kalimat yang berantakan, ejaan yang salah, atau bahasa yang sederhana—itu tidak masalah. Yang penting, itu adalah potongan asli dari apa yang kamu rasakan saat ini. Itu adalah suaramu yang selama ini tertahan di tenggorokan.
Saat kamu menuliskan rasa sakitmu dengan apa adanya, kamu sedang mengeluarkannya dari dadamu. Kamu sedang memindahkan beban itu dari hatimu ke atas kertas. Dan perlahan, rasanya jadi lebih ringan.
Ingat, ya, tulisanmu tidak harus sempurna. Tidak harus enak dibaca orang lain. Cukup enak dirasakan oleh dirimu sendiri. Cukup jujur.
Karena pada akhirnya, menulis adalah cara kita berdamai. Dan kejujuran adalah obat yang paling manjur untuk menyembuhkan.
Jadi, ayo tulis saja apa adanya. Jangan dipikirkan bagaimana bentuknya. Yang penting, kamu sudah berani mengeluarkannya.