Kerukunan Lahir dari Rasa Aman: Menulis sebagai Latihan Mendengar Umat

2026-01-07 04:58:12 | Diperbaharui: 2026-01-07 05:47:18
Kerukunan Lahir dari Rasa Aman: Menulis sebagai Latihan Mendengar Umat
Caption Sumber: Gambar dibuat khusus dengan berbatuan AI sesuai permintaan, untuk publikasi PBB-Kompasiana, dengan kredit: Ilustrasi: AI-generated (OpenAI), (Dimodifikasi 7 Januari 2025) 

 

Kerukunan Lahir dari Rasa Aman; Menulis sebagai Latihan Mendengar Umat 

Oleh: A. Rusdiana

Tema Hari Amal Bhakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama, “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, sesungguhnya mengandung pesan yang lebih dalam dari sekadar slogan seremonial. Ia mengingatkan bahwa tugas negara dan institusi keagamaan tidak berhenti pada mengatur dan menertibkan, tetapi juga menyediakan ruang aman untuk didengar.

Dalam konteks ini, menulis menjadi praktik sunyi namun strategis sebuah latihan sosial untuk mendengar umat. Kerukunan, sebagaimana menulis, tidak pernah lahir dari rasa takut. Ia tumbuh dari rasa aman. Umat yang rukun adalah umat yang merasa aman mengekspresikan pikiran, kegelisahan, dan keyakinannya tanpa ancaman stigma, sanksi, atau pembungkaman. Ruang aman dalam literasi mencerminkan ruang aman dalam kehidupan berbangsa. Dari praktik menyediakan ruang aman untuk menulis, setidaknya ada lima pembelajaran penting yang relevan dengan momentum HAB ke-80 Kementerian Agama. 

Pertama, rasa aman adalah fondasi partisipasi umat; Abraham Maslow melalui teori hierarchy of needs menegaskan bahwa rasa aman merupakan kebutuhan dasar manusia sebelum mampu berkembang dan berkontribusi. Dalam dunia literasi, seseorang hanya berani menulis jika ia tidak takut disalahkan atau dihakimi. Demikian pula dalam kehidupan beragama, kerukunan mustahil tercipta jika umat hidup dalam kecemasan sosial dan psikologis. Negara dan institusi keagamaan memiliki tanggung jawab moral untuk menjamin rasa aman ini.

Kedua, menulis adalah latihan mendengar yang sering diabaikan; Filsuf Jürgen Habermas menekankan pentingnya ruang komunikasi yang setara agar dialog sosial berlangsung sehat. Menulis memberi ruang bagi suara-suara yang sering tak terdengar dalam forum formal. Ketika institusi dan komunitas seperti Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) memberi ruang aman menulis, sesungguhnya mereka sedang membangun budaya mendengar. Kerukunan tidak lahir dari suara yang diseragamkan, melainkan dari perbedaan yang diakui.

Ketiga, literasi reflektif menumbuhkan empati lintas batas; Paulo Freire memandang literasi sebagai proses pembebasan dan humanisasi. Melalui tulisan reflektif, seseorang belajar memahami dirinya sekaligus realitas orang lain. Membaca pengalaman iman, keresahan, dan harapan yang berbeda melatih empati sosial. Inilah fondasi kerukunan yang sejati bukan toleransi pasif, melainkan pemahaman aktif. HAB ke-80 menjadi momentum tepat untuk menegaskan bahwa harmoni sosial harus dirawat melalui proses kultural, bukan semata regulasi.

Keempat, ruang aman melahirkan keberanian moral; Kerukunan bukan berarti membungkam kritik. Hannah Arendt menekankan pentingnya ruang publik sebagai arena keberanian moral warga. Menulis dalam ruang aman melatih umat menyampaikan kegelisahan secara bermartabat, tanpa kebencian. Kritik yang lahir dari kesadaran etis justru memperkuat persatuan. Ini sejalan dengan semangat moderasi beragama yang selama ini digaungkan Kementerian Agama.

Kelima, sinergi tumbuh dari kepercayaan, bukan ketakutan; Tema HAB ke-80 menautkan kerukunan dengan sinergi. Sinergi hanya mungkin terbangun jika ada kepercayaan (trust). Dalam komunitas literasi seperti PBB yang kini memasuki Episode ke-69 dengan lebih dari 2.400 anggota kepercayaan tumbuh karena setiap penulis merasa aman untuk belajar, salah, dan bertumbuh bersama. Model ini relevan bagi institusi publik: bangun rasa aman, maka kolaborasi akan mengalir. 

Pada akhirnya, belajar menulis dari menyediakan ruang aman adalah pelajaran kebangsaan. Menulis mengajarkan bahwa suara yang ditekan tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya menunggu ruang yang aman untuk hadir. Jika negara dan institusi keagamaan mampu menghadirkan rasa aman, kerukunan tidak perlu dipaksakan ia akan tumbuh secara organik. Dalam semangat HAB ke-80 Kementerian Agama, menyediakan ruang aman baik dalam literasi maupun kehidupan beragama adalah investasi sosial jangka panjang menuju Indonesia yang damai dan maju. Kerukunan lahir dari rasa aman, dan menulis adalah salah satu latihan paling jujur untuk mendengarkan umat. Wallahu A'lam.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar