![]()
![]()
Keteladanan Lebih Kuat daripada Instruksi Menulis: Literasi sebagai Dakwah Sunyi di Era Umat Rukun dan Sinergi
Memasuki PBB Episode ke-72, refleksi tentang literasi tidak lagi cukup berhenti pada slogan dan instruksi normatif. Di tengah derasnya wacana transformasi pendidikan, krisis keteladanan, dan tantangan disrupsi digital, satu pesan menjadi semakin relevan: keteladanan menulis lebih kuat daripada instruksi. Guru, dosen, dan tokoh agama yang terus menulis meski sederhana sedang menyampaikan pesan paling otentik bahwa literasi bukan sekadar wacana, melainkan laku hidup. Inilah bentuk dakwah dan pelayanan intelektual yang relevan di era modern.
Secara teoretis, pandangan ini sejalan dengan Teori Pembelajaran Sosial Albert Bandura yang menegaskan bahwa manusia belajar terutama melalui observational learning, yaitu meniru perilaku yang mereka lihat dari figur yang dianggap bermakna. Dalam konteks pendidikan dan keagamaan, tulisan para pendidik dan pemimpin moral berfungsi sebagai “model perilaku literasi” yang jauh lebih efektif daripada instruksi verbal yang kerap berhenti di ruang kelas atau mimbar.
Pandangan ini juga dikuatkan oleh John Dewey, tokoh pendidikan progresif, yang menekankan bahwa pendidikan sejati adalah pengalaman. Menulis bukan hanya produk kognitif, melainkan proses reflektif yang membentuk karakter berpikir kritis, jujur, dan bertanggung jawab. Ketika pendidik menulis, ia sedang memperlihatkan proses berpikirnya kepada publik—sebuah pembelajaran yang hidup.
Dari perspektif Islam, keteladanan (uswah) memiliki kedudukan sentral. Al-Qur’an menegaskan: “Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagimu” (QS. Al-Ahzab: 21).
Ayat ini menegaskan bahwa dakwah paling efektif adalah melalui contoh nyata, bukan sekadar perintah. Bahkan wahyu pertama, “Iqra’” (QS. Al-‘Alaq: 1–5), menempatkan membaca dan menulis sebagai fondasi peradaban iman dan ilmu.
Rasulullah SAW juga bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari).
Mengajarkan di era modern tidak lagi terbatas pada lisan, tetapi juga melalui tulisan yang dapat menjangkau lintas ruang dan generasi.
Dalam momentum HAB ke-80 Kementerian Agama RI dengan tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, keteladanan menulis memiliki makna strategis. Setidaknya terdapat lima pembelajaran penting yang dapat dipetik.
Pertama, menulis adalah praktik integritas intelektual; Ketika pendidik menulis, ia bertanggung jawab atas gagasannya. Ini melatih kejujuran ilmiah dan etika akademik—fondasi penting bagi umat yang rukun dan dewasa dalam berpikir.
Kedua, keteladanan menulis membangun budaya literasi kolektif; Instruksi literasi sering gagal karena tidak didukung contoh. Sebaliknya, tulisan sederhana dari figur pendidik dapat menumbuhkan keberanian menulis di kalangan peserta didik dan masyarakat.
Ketiga, menulis menjadi medium dakwah yang menyejukkan; Di tengah polarisasi sosial dan keagamaan, tulisan reflektif dan argumentatif dapat menjadi jembatan dialog, memperkuat sinergi umat, serta meredam narasi kebencian.
Keempat, keteladanan menulis mengajarkan kesabaran dan konsistensi; Menulis melatih istiqamah nilai utama dalam Islam. Ini sejalan dengan pesan pendidikan karakter yang tidak instan, tetapi bertumbuh melalui proses panjang.
Kelima, menulis memperluas kebermanfaatan ilmu;Ilmu yang ditulis memiliki usia panjang. Sebagaimana ditegaskan Imam Al-Ghazali, ilmu yang bermanfaat adalah yang meninggalkan jejak kebaikan setelah pemiliknya tiada.
Dengan demikian, keteladanan menulis lebih kuat daripada instruksi bukan sekadar pepatah, melainkan prinsip pedagogis, etis, dan spiritual. Dalam semangat HAB ke-80 Kementerian Agama, literasi harus diposisikan sebagai sarana merawat kerukunan, memperkuat sinergi, dan meneguhkan Indonesia yang damai dan maju.
PBB Episode ke-72 menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa pena para pendidik, akademisi, dan tokoh agama adalah bentuk pengabdian sunyi namun berdampak panjang—bagi peradaban umat dan bangsa. Wallahu A'lam.