Mampukah Menulis Mengalahkan Malas di Era Scroll Cepat?

2025-12-01 02:33:33 | Diperbaharui: 2025-12-01 02:33:42
Mampukah Menulis Mengalahkan Malas di Era Scroll Cepat?
Caption Caption Sumber: Ilustrasi dibuat dengan berbantuan  DALL·E – ChatGPT (OpenAI), (Dimodifikasi 1 Desember 2025)

 

MAMPUKAH MENULIS MENGALAHKAN MALAS DI ERA SCROLL CEPAT?

Oleh: A. Rusdiana

Percakapan sederhana di WAG pada 30 November 2025 membawa saya pada pertanyaan klasik namun abadi: “Prof, kumaha carana supaya teu males nulis? Scroll wae resep, tapi menulis mah beurat…” Curhatan Bu Dewi bukan suara tunggal. Ia adalah gema banyak akademisi, ASN, guru, mahasiswa, bahkan peneliti yang merasakan bahwa “malas” kini punya rumah baru: ekosistem digital yang serba cepat, serba pendek, dan serba instan. Ironisnya anggota komunitas PBB semakin meningkat, hari ini tembus pada angka 2.148, anggota.

Fenomena ini dibahas oleh Nicholas Carr (2008) yang menunjukkan bagaimana internet memenggal rentang perhatian, membuat otak terbiasa pada gratifikasi instan. Sementara Maria Konnikova (2014) menegaskan bahwa menulis adalah aktivitas produksi yang menuntut struktur, fokus, dan kedalaman pemikiran. Dua teori ini menunjukkan gap besar: semakin digital dunia, semakin dangkal pola konsumsi; tetapi semakin penting pula aktivitas yang menjaga kedalaman akal.

Di titik inilah saya merasakan relevansinya ketika menerima Penghargaan Awarding Koleksi Terbanyak ke-1 Repositori UIN Bandung pada momentum Hari Guru 2025 dan HUT KORPRI ke-54 bertema “Pahlawanku Teladanku Terus Bergerak Melanjutkan Perjuangan.” Tulisan bukan sekadar arsip. Ia adalah jejak akal yang dirawat, dilatih, dan dipaksa melawan rasa malas. Tujuan penulisan ini adalah mengelaborasi bagaimana menulis dapat menjadi jalan melawan malas digital sekaligus merawat akal dalam ekosistem yang semakin padat notifikasi. Berikut Lima Pembelajaran Mendalam dari Menulis sebagai Jalan Merawat Akal dalam Ekosistem Digital:

Pertama: Menulis Memaksa Otak Berhenti dari Mode Konsumsi Instan; Scroll membuat otak berpindah dalam hitungan 0,2 detik. Menulis memaksa kita menghentikan aliran dopamin instan dan beralih pada kerja akal yang lebih lambat, dalam, dan stabil.
Setiap kalimat yang ditulis adalah bentuk perlawanan terhadap insting malas.
Setiap paragraf adalah latihan menguasai diri. Momentum penghargaan repositori membuktikan bahwa konsistensi mengalahkan impulsif. Produktivitas bukan lahir dari inspirasi, melainkan dari disiplin menahan diri untuk tidak scroll.

Kedua: Menulis Mengubah “Malas” Menjadi Bahan Bakar; Rasa malas tidak perlu dimusuhi; ia cukup diarahkan. Dalam psikologi kognitif, malas adalah tanda bahwa otak memilih jalur energi paling rendah. Menulis mengajari kita bahwa energi rendah bukan akhir, justru awal. Saya pun sering malas bahkan saat mengerjakan jurnal Scopus. Namun menulis memo pendek, catatan harian, atau ringkasan ide justru mengubah malas menjadi momentum kecil. Lama-lama, ia menjadi ritme.

Ketiga: Menulis Menjadi Bukti Nyata Perjalanan Akal; Scroll tidak meninggalkan jejak. Ia hilang dalam kecepatan algoritma. Tapi tulisan menjadi bukti perjalanan akal.
Repositori UIN Bandung memperlihatkan ini: setiap unggahan, setiap tulisan, adalah monumen kecil yang terus hidup. Menghasilkan koleksi terbanyak bukan sekadar angka; itu menunjukkan ketekunan, bukan kecepatan. Ketika dunia bergerak cepat, justru ketekunanlah yang menjadi pembeda.

Keempat: Menulis Menjadi Latihan Moral: Integritas, Kesabaran, Kejujuran; Spirit Hari Guru dan HUT KORPRI 2025 menggema satu pesan: teladan.
Menulis memaksa kita jujur pada data, pada diri sendiri, pada proses berpikir.
Setiap kutipan, setiap rujukan, mengingatkan bahwa menulis bukan hanya kerja otak, tetapi kerja etika.
Inilah cara menulis melawan malas moral malas berpikir, malas memverifikasi, malas memperbaiki.

Kelima: Menulis Merawat Identitas Digital di Tengah Kebisingan Algoritma; Dalam ekosistem digital, kita mudah tenggelam. Identitas tidak dibangun oleh viralitas, tetapi oleh konsistensi karya. Menulis adalah cara membangun jejak yang otentik.
Tulisan membebaskan kita dari dikendalikan algoritma, dan mengembalikan kendali pada akal yang terlatih.

Singkatnya, menulis adalah bentuk perlawanan intelektual terhadap budaya scroll. Ia memperpanjang rentang perhatian, memperdalam proses berpikir, menata emosi, dan merawat identitas akademik. Momentum penghargaan repositori menunjukkan bahwa proses panjang lebih bernilai daripada konsumsi cepat. Rekomendasi: 1) Guru & Dosen: Wajib membuat journal writing habit mingguan untuk siswa/mahasiswa; 2) Kepala Sekolah & Pimpinan PT: Sediakan writing corner dan digital repository award tahunan; 3) Dinas Pendidikan & Kemenag: Masukkan literasi menulis sebagai indikator utama kinerja ASN Pendidikan; 4) ASN & Peneliti: Lakukan 15-minute writing challenge setiap pagi untuk melawan malas digital; 5) Perguruan Tinggi: Perkuat budaya repositori sebagai wadah jejak intelektual.

Menulis bukan sekadar aktivitas akademis; ia adalah ibadah akal. Ia merawat, mengasah, dan menjaga agar pikiran tidak rapuh diterjang kecepatan digital. Di tengah budaya scroll, menulis adalah bentuk perjuangan kecil yang berulang dan di situlah letak kekuatannya. Pahlawanku Teladanku bukan hanya slogan peringatan Hari Guru dan HUT KORPRI. Ia menjadi pesan bahwa perjuangan hari ini dilakukan dengan kalimat, paragraf, dan konsistensi. Sebab akal yang dirawat adalah modal masa depan. Wallahu A’lam.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar