Oleh: A. Rusdiana
Wafatnya Prof. Dr. H. Achmad Sanusi pada 23 Juni 2026 menghadirkan duka mendalam bagi dunia pendidikan Indonesia. Dalam beberapa hari setelah kepergian beliau, saya menulis lima artikel yang dimuat di berbagai media. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan dalam diri saya: mengapa saya terus menulis tentang beliau? Secara teoritis, menulis merupakan sarana refleksi yang memungkinkan seseorang mengolah pengalaman, emosi, dan nilai menjadi pembelajaran. Namun, banyak orang menganggap penghormatan kepada guru cukup dilakukan melalui ucapan belasungkawa. Tulisan ini bertujuan menjelaskan mengapa menulis dapat menjadi bentuk penghormatan kepada guru sekaligus sarana menjaga warisan ilmu agar tetap hidup lintas generasi.
Pertama: Menulis sebagai Ungkapan Syukur; Setiap guru meninggalkan jejak dalam perjalanan hidup muridnya. Menulis tentang guru merupakan bentuk syukur atas ilmu, bimbingan, dan inspirasi yang pernah diterima. Melalui tulisan, rasa terima kasih tidak berhenti pada ungkapan lisan, tetapi terdokumentasi sebagai bagian dari sejarah. Ketika saya menulis tentang Prof. Achmad Sanusi, sesungguhnya saya sedang mensyukuri kesempatan belajar dari seorang pendidik yang memberi teladan dalam ilmu dan kehidupan.
Kedua: Menulis untuk Merawat Ingatan Kolektif; Banyak tokoh besar perlahan terlupakan karena tidak ada yang menuliskan jejak pengabdiannya. Padahal, tulisan berfungsi menjaga memori kolektif suatu bangsa. Melalui tulisan, generasi berikutnya dapat mengenal gagasan, perjuangan, dan nilai yang diwariskan para pendahulu. Karena itu, menulis tentang guru bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan merawat warisan intelektual agar tetap relevan bagi masa depan.
Ketiga: Menulis sebagai Pembelajaran Karakter; Ketika menulis tentang seorang guru, sesungguhnya penulis sedang belajar kembali dari keteladanan yang pernah diterimanya. Proses menulis mendorong kita mengingat nilai-nilai baik, menghayati maknanya, lalu merefleksikannya dalam kehidupan. Dalam sosok Prof. Achmad Sanusi, saya menemukan pelajaran tentang integritas, kesederhanaan, kecintaan pada ilmu, dan pengabdian kepada pendidikan. Nilai-nilai itulah yang ingin saya bagikan kepada pembaca melalui tulisan.
Keempat: Menulis untuk Melanjutkan Cahaya Ilmu; Ilmu yang diajarkan guru tidak akan berhenti pada satu generasi apabila terus ditulis, dibagikan, dan dikembangkan. Menulis merupakan salah satu cara meneruskan cahaya ilmu kepada orang lain. Lima tulisan yang saya buat bukanlah sekadar penghormatan pribadi, melainkan upaya kecil agar pemikiran dan keteladanan Prof. Achmad Sanusi tetap dikenal oleh masyarakat luas. Dari proses itu saya merasakan ketenangan dan kelegaan karena telah melakukan bagian kecil dari tanggung jawab moral sebagai murid. Berikut Dokumen 6 tulisan di Mendia
Saya baru merasa lega setelah menulis tentang Prof. Achmad Sanusi di enam media yang berbeda. Kelegaan itu bukan karena tulisan telah terbit, melainkan karena saya telah berusaha menunaikan kewajiban moral untuk menghormati guru melalui cara yang saya mampu: menulis. Dari pengalaman ini saya belajar bahwa tulisan bukan hanya sarana menyampaikan gagasan, tetapi juga bentuk bakti kepada guru. Guru boleh berpulang, tetapi ilmu dan keteladanannya dapat terus hidup melalui tulisan. Karena itu, marilah kita menjadikan menulis sebagai jalan merawat ingatan, menyebarkan inspirasi, dan melanjutkan cahaya ilmu yang pernah diwariskan para guru kepada kita.
________________
*) Tulisan ini, merupakan tayang tunda, sehubungan dengan tanggal 25 -28 Juni 2026, ada gangguan teknis di sitem