RELEVANSI SEBAGAI PILAR MORAL PENULIS DALAM MENJAGA KEBENARAN INFORMASI
Oleh: A. Rusdiana
Menulis bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga tanggung jawab moral yang menuntut kejujuran dan integritas. Fenomena maraknya disinformasi di era digital menunjukkan bahwa tidak semua tulisan membawa kebaikan. Secara teoretis, menulis merupakan proses penyampaian pengetahuan yang seharusnya berlandaskan kebenaran dan kebermanfaatan. Namun, masih terdapat kesenjangan antara idealitas tersebut dengan praktik yang kadang mengabaikan aspek etika. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan menegaskan pentingnya tanggung jawab moral penulis, khususnya pada pilar kedua yaitu relevansi, dalam memastikan informasi yang disampaikan benar, sesuai konteks, dan bermanfaat bagi masyarakat. Mari kita elaborasi satu persatu:
Pertama: Tanggung jawab moral penulis berangkat dari kesadaran bahwa setiap tulisan memiliki dampak sosial. Penulis bukan sekadar penyampai informasi, melainkan juga pembentuk opini publik. Dalam konteks ini, kebenaran menjadi fondasi utama, namun tidak cukup tanpa diiringi relevansi. Tulisan yang benar tetapi tidak relevan dengan kebutuhan pembaca berpotensi kehilangan makna. Oleh sebab itu, penulis harus mampu membaca situasi, memahami kebutuhan audiens, serta menyesuaikan pesan dengan konteks sosial yang berkembang.
Kedua: Selain kebenaran, relevansi menjadi aspek penting dalam menulis. Informasi yang disampaikan harus sesuai dengan kebutuhan dan konteks masyarakat. Dalam suasana Halal Bihalal, misalnya, pesan yang relevan dapat memperkuat nilai persaudaraan, saling memaafkan, dan kepedulian sosial. Penulis dituntut untuk peka terhadap momentum sosial agar tulisannya tidak sekadar informatif, tetapi juga bermakna. Relevansi menjadikan tulisan lebih hidup, kontekstual, dan mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi publik, termasuk oleh 2518 pengikut PBB yang mengharapkan konten yang mencerahkan.
Ketiga: Relevansi juga berkaitan erat dengan kebermanfaatan. Tulisan yang relevan akan lebih mudah dipahami, diterima, dan diaplikasikan oleh pembaca. Dalam kehidupan kebangsaan, penulis memiliki peran strategis untuk menghadirkan narasi yang menyejukkan dan membangun. Dengan mengangkat isu yang dekat dengan realitas masyarakat, penulis dapat memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan ruang publik yang sehat. Hal ini menjadi penting di tengah derasnya arus informasi yang sering kali tidak terverifikasi dan cenderung provokatif.
Keempat: Menjaga relevansi menuntut adanya integritas. Penulis harus jujur dalam memilih sudut pandang, tidak memaksakan opini yang menyimpang dari fakta, serta menghindari kepentingan sempit. Integritas menjadikan tulisan tetap berpijak pada nilai-nilai etika dan tanggung jawab sosial. Dalam praktiknya, penulis perlu melakukan refleksi kritis terhadap isi tulisannya: apakah pesan yang disampaikan benar-benar dibutuhkan, bermanfaat, dan tidak menyesatkan. Dengan demikian, relevansi tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga moral.
Singkat kata, Relevansi merupakan pilar penting dalam tanggung jawab moral penulis. Selain memastikan kebenaran informasi, penulis juga harus mampu menghadirkan tulisan yang sesuai dengan konteks dan kebutuhan masyarakat. Dalam momentum sosial seperti Halal Bihalal maupun kehidupan kebangsaan, relevansi menjadi kunci agar tulisan tidak hanya informatif, tetapi juga bermakna dan berdampak positif. Dengan menjunjung tinggi relevansi, penulis turut berkontribusi dalam membangun peradaban informasi yang sehat, beretika, dan berorientasi pada kebaikan bersama. Wallahu A’lam.