Banyak orang tua sibuk memastikan anaknya tumbuh pintar.
Sekolah terbaik dipilih.
Les tambahan diberikan.
Nilai akademik diperhatikan.
Tetapi ada satu hal penting yang kadang terlupakan:
Apakah anak juga merasa didengar?
Padahal bagi seorang anak, didengarkan adalah bentuk kasih sayang yang sangat besar.
Anak yang didengar merasa dirinya penting.
Merasa emosinya dihargai.
Merasa aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi.
Sayangnya, di tengah kesibukan hidup, banyak percakapan dalam keluarga perlahan berubah hanya menjadi instruksi.
“Sudah belajar belum?”
“Jangan main terus.”
“Cepat tidur.”
“Jangan membantah.”
Anak mendengar banyak perintah, tetapi sedikit ruang untuk benar-benar menyampaikan perasaannya.
Ironisnya, banyak orang tua baru sadar pentingnya komunikasi setelah anak mulai tertutup.
Padahal anak tidak langsung berhenti bercerita.
Biasanya mereka hanya terlalu sering merasa tidak didengarkan.
“Anak yang terbiasa didengar akan belajar bahwa perasaannya berharga.”
Hari ini banyak anak tumbuh di tengah dunia yang bising.
Media sosial.
Tekanan sekolah.
Perbandingan dengan anak lain.
Ekspektasi yang tinggi.
Semua itu diam-diam memengaruhi kesehatan mental mereka.
Karena itu, rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak untuk pulang secara emosional.
Tempat mereka bisa berkata:
“Aku sedih.”
“Aku takut.”
“Aku kecewa.”
Tanpa langsung disalahkan atau dibandingkan.
Masalahnya, banyak orang dewasa sering terlalu cepat memberi nasihat sebelum benar-benar mendengarkan.
Padahal kadang anak tidak membutuhkan solusi panjang.
Mereka hanya ingin dipahami.
Didengar sampai selesai.
Dipandang matanya ketika berbicara.
Dan merasa bahwa keberadaannya benar-benar diperhatikan.
Anak yang sering dipotong pembicaraannya perlahan belajar memendam perasaan.
Anak yang sering diabaikan bisa tumbuh merasa dirinya tidak penting.
Sementara anak yang didengar cenderung lebih berani mengekspresikan emosi dengan sehat.
Lebih percaya diri.
Lebih terbuka kepada orang tua.
Dan lebih mudah membangun hubungan yang sehat saat dewasa nanti.
Karena cara keluarga berkomunikasi akan membentuk cara anak memahami dirinya sendiri.
Yang lebih menyedihkan, banyak keluarga tinggal serumah tetapi jarang benar-benar berbicara dari hati ke hati.
Masing-masing sibuk dengan layar.
Makan bersama sambil memegang ponsel.
Anak bercerita setengah hati karena merasa orang dewasa tidak benar-benar hadir.
Padahal waktu kecil anak tidak berlangsung lama.
Akan ada masa ketika mereka berhenti meminta ditemani.
Berhenti bercerita.
Berhenti mencari pelukan.
Dan saat itu datang, banyak orang tua baru merasa kehilangan.
Karena itu, mendengarkan anak sebenarnya bukan soal memiliki banyak waktu.
Kadang hanya membutuhkan beberapa menit perhatian yang utuh.
Mendengar tanpa memotong.
Tanpa menghakimi.
Tanpa langsung menyalahkan.
Sebab anak yang tumbuh dengan rasa didengar akan belajar satu hal penting:
Bahwa dirinya layak dicintai apa adanya.
Mungkin hari ini kita perlu mulai bertanya:
Saat anak berbicara, apakah kita benar-benar mendengarkan?
Atau hanya menunggu giliran untuk menjawab?
Karena pada akhirnya, anak tidak selalu mengingat semua nasihat orang tuanya.
Tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana perasaan mereka ketika berbicara di rumahnya sendiri.
Kat@Bubid