Perempuan Sering Menyembunyikan Lelah di Balik Kata "Tidak Apa-Apa

2026-06-20 09:13:07 | Diperbaharui: 2026-06-20 09:13:51
Perempuan Sering Menyembunyikan Lelah di Balik Kata "Tidak Apa-Apa
Infografis AI/Bubid

“Aku tidak apa-apa.”

Kalimat itu mungkin menjadi salah satu kalimat yang paling sering diucapkan banyak perempuan, bahkan ketika tubuh dan pikirannya sebenarnya sudah sangat lelah.

Mereka tetap memasak meski kurang tidur, tetap bekerja meski pikirannya penuh, tetap tersenyum meski hatinya sedang tidak tenang, tetap mendengarkan semua orang, sementara dirinya sendiri jarang benar-benar didengarkan. 

Ironisnya, banyak perempuan tumbuh dalam budaya yang membuat mereka terbiasa memendam lelah.

Perempuan dianggap harus kuat, arus sabar, harus mampu mengurus banyak hal sekaligus. Dan tanpa sadar, semua tuntutan itu perlahan membuat banyak perempuan terbiasa mengabaikan dirinya sendiri.

Ada ibu yang menunda periksa kesehatan karena lebih memprioritaskan kebutuhan keluarga. Ada perempuan yang tetap bekerja sambil menahan kelelahan mental. Ada yang terus terlihat tenang, padahal sudah lama kehilangan ruang untuk bernapas.

Namun semua itu sering dianggap biasa, karena perempuan memang “sudah terbiasa”.

“Kadang perempuan tidak benar-benar baik-baik saja. Ia hanya terlalu terbiasa menyimpan semuanya sendiri.”

Masalahnya, tubuh dan pikiran manusia tetap punya batas. Kelelahan yang dipendam terlalu lama tidak selalu muncul dalam bentuk tangisan.

Kadang ia hadir sebagai: tidur yang tidak nyenyak, emosi yang mudah meledak, rasa cemas yang terus berjalan, tubuh yang cepat lelah, atau perasaan kosong yang sulit dijelaskan.

Namun banyak perempuan tetap memilih diam. Takut dianggap berlebihan. Takut merepotkan orang lain atau merasa dirinya harus tetap kuat demi keluarga dan orang-orang yang dicintai.

Padahal perempuan juga manusia. Ia bisa lelah. Bisa kecewa. Bisa merasa kehilangan tenaga untuk terus menjalani semuanya. Dan itu tidak membuatnya lemah.

Yang lebih menyedihkan, masyarakat sering lebih mudah memuji perempuan karena pengorbanannya daripada memastikan apakah dirinya baik-baik saja. Perempuan dipuji karena tahan banting karena tetap kuat. Karena mampu menanggung banyak hal sendirian.

Padahal mungkin yang paling ia butuhkan hanyalah: didengarkan, dipahami, dan diberi ruang untuk beristirahat tanpa rasa bersalah. Karena menjaga diri sendiri bukan bentuk egoisme.

Berhenti sejenak bukan kemalasan. Mengakui lelah juga bukan kegagalan. Justru perempuan membutuhkan tubuh dan jiwa yang sehat agar tetap mampu menjalani hidup dengan utuh.

Kadang langkah kecil sudah sangat berarti: tidur lebih cukup, makan lebih teratur, berani berkata “aku lelah”, atau memberi waktu beberapa menit untuk benar-benar tenang tanpa tuntutan apa pun. Sebab perempuan bukan mesin yang harus terus kuat setiap waktu. Ia manusia yang juga perlu dijaga.

Mungkin hari ini ada banyak perempuan di sekitar kita yang terlihat baik-baik saja, padahal diam-diam sedang berjuang keras menahan semuanya sendiri. Dan mungkin salah satunya adalah diri kita sendiri.

Karena itu, mulai hari ini mungkin kita perlu lebih sering bertanya: “Apakah aku benar-benar baik-baik saja?” Bukan untuk terlihat lemah. Tetapi agar kita tidak kehilangan diri sendiri hanya karena terlalu lama berpura-pura kuat.

Kat@Bubid

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
1 Orang menyukai Artikel Ini
avatar