Kotekatalk-208: Live Streaming ke Glasgow, Skotlandia, Yuk!
Ikut Live streaming ke Glasgow, Skotlandia, yuk! (dok, Gana/Siti)

Kotekatalk-208: Live Streaming ke Glasgow, Skotlandia, Yuk!

Mulai : Minggu, 29 Desember 2024 16:00 WIB
Selesai : Minggu, 29 Desember 2024 16:40 WIB
Zoom
00
00
00
00
Hari Jam Menit Detik
2 Peserta Mendaftar

Hi, Koteker dan Kompasianer. Apa kabar? Masih sehat dan bahagia, bukan.

Sabtu lalu, Komunitas Traveler Kompasiana dan Pesanggrahan Indonesia e.V telah mengundang salah satu pengajar BIPA yang telah 30 tahun mengajar orang asing dari 5 benua, mbak Delfina Djamaluddin.

Penulis buku "Tutor BIPA Itu Unik", telah menceritakan awal mula mengajar sampai menerbitkan buku, sehubungan dengan pengalamannya selama ini dalam mengajar Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan bangsa Indonesia, yang dipakai dari Sabang sampai Merauke penduduk Indonesia yang lebih dari 250 juta orang jumlahnya. Kekayaan bahasa ini tentu menjadi aset negeri kita untuk semakin mengundang orang asing untuk datang, dalam rangka belajar bahasa ibu kita ini, atau ingin datang demi mempraktekkannya. 

Mbak Delfina yang tinggal di Jakarta ini, mengatakan bahwa saat ini sedang sibuk membantu bisnis orang tua, karena program mengajar tidak bisa diselenggarakan sehubungan dengan musim liburan akhir tahun.

Awal mula mengajar, kata lulusan Fakultas Sastra UI Program Studi Bahasa Indonesia itu, ia memilih mendalami bahasa ibu kita ini karena ternyata nilai bahasa Inggris dan bahasa Jerman di sekolah lebih bagus. Padahal, bahasa Indonesia sudah lebih dulu dikenal daripada bahasa asing, bukan. Makanya, supaya tambah bagus bahasa Indonesianya, belajar lagi di bangku kuliah.

Setelahnya, ia mendapat motivasi dari dosen yang mengatakan bahwa prospek menjadi pengajar BIPA itu menjanjikan. Banyak ekspatriat yang direkomendasikan padanya, hingga akhirnya bisa mengajar orang asing dari 5 benua. 

Ditanya tentang bagaimana pengalaman mengajarnya, begini catatan penting buat kamu yang barangkali ingin mengikuti jejaknya:

  • Honor perjam bisa mencapai 40 dolar AS
  • Bisa mengajar online atau offline
  • Orang Inggris memiliki tata bahasa berbeda, jadi jangan kaget kalau pertama, mereka akan mengatakan "Kucing saya" menjadi "Saya kucing", lantaran kalau dipikir dengan bahasa mereka, "my cat" bukan "cat my"
  • Orang Jepang akan melafalkan "L" menjadi "R", sehingga kalau bilang "black" menjadi "bracke", ditambah dengan akhiran e segala. 
  • Orang Australia akan menyapa dengan "How are you today?" tapi terdengar di telinga kita "how are you to die."
  • Murid tercepat mbak Delfina adalah orang Perancis, yang dalam waktu 48 jam kursus, bisa berbahasa Indonesia.
  • Jika kalian tidak bisa bahasa Inggris, atasi dengan bahasa tubuh dan bahasa gambar dalam mengajar.

Menyenangkan dan menarik sekali, bukan? Nah, kapan kamu mau menjadi pengajar BIPA, Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing.

Jika kesulitan, silakan membeli buku mbak Delfina dengan menghubungi di instagramnya @delfinadjamaluddin. Buku ini akan sangat membantu kamu, sebab isinya:

  • Persiapan menjadi pengajar BIPA
  • Pengalaman 30 tahun mbak Delfina menjadi pengajar BIPA
  • Metode pengajaran dan teknisnya
  • Tips pengajar BIPA
  • Contoh-contoh buku pelajaran
  • Kata-kata yang umum dipakai

Buku yang dipromosikan di medsos (FB, tiktok), juga di kegiatan offline seperti bedah buku ini pasti akan sangat berharga bagi kalian yang tertarik memiliki profesi baru sebagai pengajar BIPA, atau sudah memulai tapi masih belum begitu lama pengalamannya seperti mbak Delfina ini.

Baik, dari Indonesia, Mimin ajak kalian terbang ke Skotlandia. Mbak Gana Stegmann yang sedang berlibur di sana akan memperlihatkan sekilas Glasgow. Negeri yang terkenal dengan tradisi musiknya yang unik dan rok kotak warna merah hitam putih yang dikenakan prianya ini, bisa saja menjadi tujuan wisata menarik bagi kalian suatu hari nanti. Atau setidaknya, ada nilai serta sesuatu yang positif dari sana yang bisa kita tiru di tanah air untuk memajukan negeri kita tercinta, Indonesia Raya.

Mbak Gana pakai paspor Indonesia? Bagaimana proses visanya? Berapa harga visanya? Bagaimana dengan perjalanan ke sana dari Jerman? Apa saja yang ingin dikunjungi selama di sana? Mengapa mbak Gana ingin ke sana? Apakah ia mengadakan solo traveling? Berapa bea yang harus dipersiapkan selama di sana? Apakah mbak Gana bertemu orang Indonesia di sana? Kesan pertama apa yang terlihat ketika mendatangi kota ini? Apa yang membedakan Indonesia dengan Skotlandia? Apa kuliner khas Skotlandia yang sudah dicicipi? Apa bahasa yang dipakai di sana? Apakah bahasa Inggris dari sekolah saja sudah cukup untuk berkomunikasi dengan mereka?

Untuk tahu jawabannya atau jika kalian ingin bertanya, silakan bergabung di acara Kotekatalk-208 pada:

  • Hari/Tanggal: Minggu, 29 Desember 2024
  • Pukul: 16.00 WIB Jakarta, 10.00 CET Berlin dan 11.00 GMT Glasgow
  • Link: DI SINI

"Buah durian harum baunya, buah manggis manis rasanya. Bersama Komunitas Traveler Kompasiana, kita keliling dunia."

Jumpa hari Minggu.

Salam Koteka. (GS)

 

2 Peserta Mendaftar


Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar