Hi, Koteker dan Kompasianer. Apa kabar? Masih sehat dan bahagia, bukan.
Sabtu lalu, Komunitas Traveler Kompasiana dan Pesanggrahan Indonesia e.V Bonn sudah menyelenggarakan Kotekatalk-255 dan mengundang narasumber Ikhwanul Farissa. Kompasianer yang juga ASN/ IT Support di Aceh itu sudah menceritakan betapa pulau Weh itu sangat direkomendasikan bagi kita yang menyukai pulau-pulau kecil.
Farissa mempersiapkan presentasi powerpoint yang singkat dan padat. Mulanya, kita jadi tahu bahwa nama pulau Weh itu dalam bahasa Aceh, artinya lepas. Memang walau merupakan bagian dari Aceh, pulau Weh lepas dari Aceh karena dibatasi air. Pulau kecil yang indah itu bisa ditempuh dalam waktu 4 jam dari Aceh atau sejauh 80 km. Kita bisa berangkat dari Banda Aceh ke pelabuhan Lele selama 20 menit. Dari pelabuhan kita akan naik feri. Kapal cepat itu akan membawa wisatawan ke pulau Weh selama 1 jam. Untuk kapal lambat atau disebut Rondu akan lebih lama tapi biasanya harga tiket lebih murah.
Pulau Weh dikatakan Farissa bagai Bali-nya Aceh. Untuk transportasi, makan dan hotel, ia pernah ke sana selama seminggu dan menghabiskan 5 juta rupiah. Nabung, yuk!
Apa saja yang menarik untuk dikunjungi selama di sana? Farissa menyebut tugu nol km Indonesia, pantai Iboih, wisata snorkeling atau diving dan pemandangan indah di mana-mana yang sangat instagrammable. Dan tentunya adalah peninggalan sejarah Perang Dunia II disana. Budaya Aceh juga layak untuk dinikmati, unik.
Waktu ditanya tentang pengungsi, pria berkacamata itu mengaku memang ada dari Rohingya. Posisi Aceh memang strategis bagi mereka yang melarikan diri dari negara tetangga seperti Myanmar, yang tidak menerima mereka sebagai warga.
Nah, ke sana jangan lupa untuk menikmati kuliner seperti rujak buah, gulai kambing Sabang, sate gurita, mie Aceh dan ikan bakar. Memang sebagai daerah bahari, Aceh punya kekayaan kuliner sea food yang murah meriah. Wah, jadi lapar, kan.
Jika ke sana, jangan lupa siapkan surat nikah, pakaian sopan untuk menutupi aurat.
Dari Aceh, kita ke Batukaras, Pangandaran, Jawa Barat. Ada Kompasianer lantip - lansia aktif yang sudah ke sana sekeluarga dan ingin membagikan kepada kita. Siapa tahu, liburan natal dan baru, tempat ini akan menjadi inspirasi dan tempat yang cocok untuk dikunjungi bersama keluarga.
Pak Suharyadi adalah insinyur perminyakan yang sudah berpengalaman selama 45 tahun sejak tahun 1976, di bidang pertambangan minyak dan gas. Sekarang ini, walaupun sudah pensiun, pak Suharyadi masih aktif saja berkegiatan. Selain di Semeru Energy sejak 9 tahun ini, beliau suka melukis, menari dan karawitan. Olahraga yang ditekuninya adalah golf dan gymn. Kalau pak Suharyadi yang sudah sepuh saja masih semangat, kita nggak boleh kalah, ya.
Untuk itu, simak obrolan bersama salah satu peserta teraktif di Kotekatalk dan mendapatkan hadiah syal dari Komunitas Traveler Kompasiana ini, pada;
- Hari/ Tanggal: Sabtu, 29 November 2025
- Pukul: 10.00 CET Berlin atau 16.00 WIB
- Link: Di SINI
"Ke Bogor jangan lupa mampir ke istana. Di Bogor ada bunga Raflesia. Bersama Komunitas Traveler Kompasiana, kita bangkitkan pariwisata Indonesia."
Siapa tahu, dengan obrolan Kotekatalk-256, semakin banyak wisatawan asing dan lokal yang rebutan berlibur di Batukaras, sehingga akan meningkatkan pendapatan daerah dan mengembangkan wisata di sana.
Jumpa Sabtu.
Salam Koteka. (Gana Stegmann)