KETIKA MENULIS DARI PENJELAJAH MENUJU FANATIK

2026-03-08 00:49:44 | Diperbaharui: 2026-03-08 00:49:52
KETIKA MENULIS DARI PENJELAJAH MENUJU FANATIK
Sumber: Ilustrasi Writing for literacy, bridging worlds. Dibuat dengan bantuan AI (DALL·E / ChatGPT), 08/03/2026)

 

KETIKA MENULIS DARI PENJELAJAH MEUJU KE FANATIK: Bisakah Konsistensi Menulis Menyalakan Literasi dalam Rentang 400 Hari? 

Oleh: A. Rusdiana

Ramadan selalu menghadirkan ruang perenungan yang lebih dalam. Pada malam-malamnya, manusia diajak membaca kembali dirinya sendiri. Ketika peristiwa Nuzulul Qur’an dikenang setiap 17 Ramadan, umat Islam tidak hanya mengingat turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira, tetapi juga mengingat pesan besar yang dibawanya: Iqra bacalah. Perintah “Iqra” bukan sekadar ajakan membaca teks, tetapi panggilan untuk membangun peradaban berbasis ilmu. Dalam sejarah Islam, wahyu pertama (QS. Al-‘Alaq 1–5) justru dimulai dengan aktivitas literasi sebelum ritual lain. Ini menandakan bahwa ilmu pengetahuan adalah fondasi perubahan sosial. Membaca menjadi jalan memahami kehidupan, sedangkan menulis menjadi cara menjaga dan menyebarkan pengetahuan.

Refleksi ini terasa relevan ketika kita melihat kondisi literasi Indonesia hari ini. Berbagai laporan yang sering dikutip dari UNESCO menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah sekitar 0,001%, atau hanya satu dari seribu orang yang memiliki kebiasaan membaca serius. Fenomena ini menempatkan Indonesia pada posisi yang memprihatinkan dalam indeks literasi global.

Ada banyak faktor yang melatarbelakanginya. Budaya lisan masih lebih dominan daripada budaya menulis. Akses terhadap buku dan perpustakaan belum merata, terutama di daerah terpencil. Penggunaan gawai dan media sosial juga sering menggantikan kebiasaan membaca buku berkualitas. Dalam sistem pendidikan, pembiasaan membaca sejak dini juga belum sepenuhnya menjadi tradisi yang kuat.

Dampaknya tidak kecil. Rendahnya literasi membuat masyarakat rentan terhadap disinformasi, memperlebar kesenjangan ekonomi, dan melemahkan daya saing bangsa dalam penguasaan ilmu pengetahuan. Dalam konteks ini, pendidikan seakan menghadapi penyakit yang cukup serius: ilmu tersedia, tetapi minat membaca belum tumbuh kuat.

Di tengah situasi tersebut, menulis bisa menjadi salah satu terapi sosial. Menulis melatih seseorang membaca, berpikir, dan merefleksikan pengalaman. Inilah yang perlahan saya rasakan dalam perjalanan menulis di Kompasiana.

Sejak 22 Januari 2025 hingga 6 Maret 2026, perjalanan menulis berlangsung selama 408 hari. Dalam rentang waktu itu, capaian poin mencapai sekitar 25.001 poin, atau 50% dari target pangkat Fanatik (50.001 poin). Artinya, rata-rata terdapat sekitar 37 poin per hari yang diperoleh dari aktivitas menulis, membaca, dan berdialog dengan pembaca. Angka ini mungkin tampak sederhana. Namun di baliknya terdapat proses yang lebih penting: disiplin berpikir. Menulis bukan sekadar menghasilkan teks, tetapi latihan membangun kesadaran.

Pangkat Fanatik di mata Kompasiana merupakan level tertinggi ketiga dalam hierarki penulis di platform tersebut (setelah Taruna, Junior, dan Penjelajah). Pangkat ini disematkan kepada Kompasianer yang menunjukkan tingkat konsistensi tinggi dalam memproduksi artikel, aktif berinteraksi, serta memiliki kontribusi poin yang signifikan.

Dalam perspektif teori pendidikan konvensional, kebiasaan literasi terbentuk melalui proses pembiasaan dan lingkungan belajar yang mendukung. Sementara dalam perspektif yang saya sebut Psikologi Langit, literasi memiliki dimensi spiritual. Membaca adalah cara memahami tanda-tanda Tuhan, sedangkan menulis adalah cara menjaga ilmu agar tidak hilang. Dari perjalanan menulis tersebut, setidaknya ada lima pelajaran penting:

Pertama, konsistensi menulis membangun disiplin intelektual; Menulis secara rutin melatih seseorang untuk berpikir lebih teratur dan mendalam.

Kedua, menulis melatih keikhlasan; Tidak semua tulisan langsung dibaca banyak orang, tetapi proses menulis tetap menjadi ibadah intelektual.

Ketiga, menulis memperkuat refleksi diri; Melalui tulisan, seseorang belajar memahami pengalaman hidup dan realitas sosial.

Keempat, menulis membangun empati akademik; Tulisan yang lahir dari perenungan sering kali membuka kesadaran tentang persoalan pendidikan, keadilan, dan kemanusiaan.

Kelima, menulis menyalakan harapan peradaban; Dari satu tulisan kecil, lahir percakapan, ide, dan inspirasi yang bisa memengaruhi banyak orang.

Dalam konteks ini, perjalanan dari Penjelajah menuju Fanatik bukan sekadar soal angka poin. Ia adalah simbol perjalanan literasi perjalanan dari membaca menuju menulis, dari menulis menuju refleksi, dan dari refleksi menuju kesadaran sosial. Jika perintah Iqra benar-benar dihidupkan dalam sistem pendidikan, maka ruang kelas tidak hanya melahirkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga manusia yang memiliki kesadaran moral dan spiritual. Pendidikan tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter. Begitu pula Konsiten menulis dengan rata-rata per hari mendapat point sedikinya 37 poin, maka secara hitungan Matematik Pangkat Fanatik dipastkan bisa di kejar dengan 400 Hari ....”pasti bisa”

Di sinilah harapan itu bermula. Dari cahaya wahyu di Gua Hira, dari tradisi membaca dan menulis, dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Sebab peradaban besar selalu dimulai dari satu langkah sederhana: membaca, menulis, dan menjaga ilmu agar tetap hidup. Wallahu A’lam.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar