Menulis Ramadan: Mampukah Kolaborasi Lahirkan Peradaban?
Oleh: A. Rusdiana
Pada 3 Maret 2026, langit Indonesia dihiasi fenomena Gerhana Bulan Total yang populer disebut Blood Moon. Dalam istilah Sunda, fenomena ini dikenal sebagai Samagaha. Pada fase total sekitar pukul 18.04–19.02 WIB, bulan tampak berwarna merah akibat hamburan cahaya matahari yang terhalang bumi. Penjelasan ilmiah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan bahwa warna merah tersebut muncul karena cahaya matahari yang tersebar melalui atmosfer bumi sebelum mencapai permukaan bulan.
Walaupun tertutup bayangan bumi, bulan tidak sepenuhnya gelap. Ia tetap memantulkan semburat cahaya kemerahan yang menembus bayangan kosmik. Fenomena ini seolah memberikan pesan simbolik bahwa dalam bayangan pun cahaya masih dapat bertahan.
Ketika peristiwa langit itu terjadi di tengah bulan Ramadan, maknanya terasa lebih dalam. Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga madrasah spiritual yang mengajak manusia melakukan refleksi batin. Jika Blood Moon adalah fenomena kosmik di langit, maka Ramadan adalah fenomena kesadaran di dalam hati.
Refleksi ini terasa semakin relevan ketika masyarakat Jawa Barat menghadapi berbagai ujian sosial, termasuk musibah yang melanda wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB). Duka, kehilangan, dan kecemasan sosial sering kali membuat langit batin terasa memerah. Namun seperti bulan yang tetap bercahaya di tengah gerhana, masyarakat pun memiliki daya tahan spiritual yang kuat berakar pada nilai agama, budaya, dan solidaritas sosial.
Para ulama membagi Ramadan dalam tiga fase spiritual. Sepuluh hari kedua dikenal sebagai fase Tazkiyatun Nafs, yaitu proses penyucian jiwa yang berfokus pada maghfirah (ampunan Allah). Pada fase ini, manusia diajak melakukan muhasabah, memperbaiki diri, serta memperkuat hubungan sosial dengan sesama.
Dalam konteks kehidupan akademik, refleksi spiritual ini dapat diterjemahkan melalui aktivitas intelektual yang bermakna, salah satunya adalah menulis. Menulis bukan hanya aktivitas akademik, tetapi juga bentuk refleksi batin yang mempertemukan ilmu dengan kesadaran moral.
Fenomena ini juga berkaitan dengan kondisi dunia pendidikan saat ini. Banyak pengamat menyebut bahwa pendidikan sedang mengalami “kelelahan moral”. Orientasi pendidikan sering kali terjebak pada aspek administratif dan teknokratis, sementara refleksi nilai semakin berkurang. Dalam situasi seperti ini, Psikologi Langit menawarkan pendekatan yang menghubungkan aktivitas intelektual dengan kesadaran spiritual.
Menulis dapat menjadi terapi intelektual sekaligus spiritual. Ia membantu manusia menata pikiran, memahami pengalaman hidup, dan membangun kesadaran sosial.
Di sinilah peran komunitas literasi menjadi penting. Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) yang kini memasuki episode ke-119 dengan jumlah anggota sekitar 2.491 orang adalah contoh gerakan literasi yang tumbuh dari kesadaran kolektif. Pertanyaannya bukan sekadar berapa jumlah anggotanya, tetapi sejauh mana tulisan-tulisan tersebut mampu menjadi cahaya bagi masyarakat. Disaat bebrapa Kandidat Guru Besar sedang kebingungan menulis Jurnal Scopus, sebagai tuntutan peradaban.
Dalam perspektif peradaban, menulis tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari kolaborasi ide, pengalaman, dan nilai yang saling menguatkan. Konsistensi menulis bukan hanya melatih kemampuan berpikir, tetapi juga membangun ekosistem intelektual yang saling terhubung.
Dalam konteks ini, setidaknya ada lima pembelajaran penting dari konsistensi menulis dalam membangun peradaban kolaboratif.
Pertama, menulis melatih keikhlasan intelektual; Ketika seseorang menulis secara konsisten, ia belajar mengekspresikan gagasan tanpa selalu mencari pengakuan. Proses ini membentuk sikap ikhlas dalam berbagi ilmu.
Kedua, menulis membangun kesadaran reflektif; Tulisan sering kali lahir dari proses muhasabah. Dalam fase Tazkiyatun Nafs Ramadan, menulis dapat menjadi sarana evaluasi diri dan penyadaran moral.
Ketiga, menulis menumbuhkan empati sosial; Tulisan yang lahir dari pengalaman hidup akan membuat penulis lebih peka terhadap persoalan masyarakat. Inilah yang menjadikan literasi sebagai jembatan antara ilmu dan kemanusiaan.
Keempat, menulis memperkuat kolaborasi intelektual; Komunitas seperti PBB menunjukkan bahwa literasi bukan kerja individual semata. Ia berkembang melalui dialog gagasan dan kerja sama antarpenulis.
Kelima, menulis menyalakan harapan peradaban; Sejarah menunjukkan bahwa banyak perubahan besar lahir dari gagasan yang ditulis dengan kesadaran moral. Tulisan yang lahir dari niat baik dapat menjadi cahaya bagi generasi berikutnya.
Dalam konteks Kampus Merdeka, menulis dapat menjadi bagian dari ibadah sosial. Ia menghubungkan ilmu dengan tanggung jawab moral terhadap masyarakat. Ketika mahasiswa dan dosen menjadikan menulis sebagai budaya akademik, kampus tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga melahirkan pemikir yang mampu memberi arah bagi peradaban.
Ramadan mengingatkan bahwa cahaya tidak pernah benar-benar padam. Bahkan dalam bayangan gerhana, bulan tetap memantulkan cahaya.
Demikian pula dalam kehidupan intelektual. Ketika pendidikan menghadapi berbagai tantangan, konsistensi menulis dapat menjadi cahaya kecil yang menjaga harapan peradaban tetap menyala.
Dari refleksi Blood Moon hingga fase Tazkiyatun Nafs Ramadan, kita belajar bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran batin. Dan sering kali, kesadaran itu lahir dari satu aktivitas sederhana: menulis dengan hati yang ikhlas.
_________________
*) Tulisan ini didedikasikan untuk teman-teman Kandidat Guru Besar sedang kebingungan menulis Jurnal Scopus, sebagai tuntutan peradaban.