MENULIS MEMBANGUN PERADABAN KOLABORATIF

2026-02-28 06:12:00 | Diperbaharui: 2026-02-28 06:16:02
MENULIS MEMBANGUN PERADABAN KOLABORATIF
Sumber: Elderly man engaging with digital platform, Menulis Membangun Peradaban Kolaboratif dibuat dengan bantuan AI (DALL·E / ChatGPT), 28/2/ 2026)

Menulis Membangun Peradaban Kolaboratif: Terapi Psikologi Langit bagi Pendidikan yang Sedang Sakit?

Oleh: A. Rusdiana

Fenomena rendahnya minat menulis di kalangan masyarakat pendidikan menunjukkan adanya jarak antara pengetahuan dan kesadaran. Kampus, ruang kelas, dan forum akademik sering dipenuhi diskusi, tetapi tidak semua melahirkan jejak literasi yang berkelanjutan. Di sinilah terasa bahwa pendidikan kita sedang “sakit” bukan hanya pada aspek sistem, tetapi pada dimensi ruhani. Ia membutuhkan sentuhan Psikologi Langit, sebuah pendekatan yang menempatkan wahyu sebagai pemandu ilmu dan amal sebagai manifestasi iman.

Dalam konteks pembelajaran abad ke-21 di empat kelas S1 Manajemen Pendidikan Islam Internasional (VI/C-D) dan S2 Studi Pembiayaan Pendidikan (II/A-B) menulis bukan sekadar tugas akademik, melainkan proses terapi intelektual dan spiritual. Ketika mahasiswa menulis refleksi tentang keadilan pembiayaan pendidikan atau manajemen lembaga Islam global, sesungguhnya mereka sedang melakukan proses tazkiyatun nafs: menyucikan jiwa melalui ilmu yang diamalkan.

Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) yang kini memasuki episode ke-114 dengan 2.483 anggota adalah energi sosial yang tidak bisa dipandang sebagai angka semata. Pertanyaannya bukan berapa jumlah pengikutnya, tetapi sejauh mana tulisan-tulisan itu menjadi cahaya peradaban. Dalam perspektif Paulo Freire, refleksi kritis melalui tulisan adalah jalan pembebasan. Sementara Anders Ericsson melalui teori deliberate practice menegaskan bahwa konsistensi adalah kunci keahlian. Dalam Psikologi Langit, konsistensi menulis adalah amal berulang yang diniatkan karena Allah sebuah zikir intelektual. Allah SWT berfirman: “Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.” (QS. Al-Qalam: 1).

Ayat ini menegaskan bahwa peradaban dibangun oleh tulisan. Rasulullah SAW juga bersabda, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” (HR. Thabrani). Menulis bukan hanya aktivitas kognitif, tetapi ibadah peradaban.

Seiring dengan ungkapan para filosof Muslim bahwa Sya’ban adalah masa menyiram amal yang ditanam di Rajab agar Ramadan menjadi musim panen iman, maka menulis setiap hari adalah proses menyiram itu. Dari perjalanan bersama PBB, setidaknya ada lima pembelajaran penting:

Pertama, menulis melatih keikhlasan. Tidak semua tulisan mendapat apresiasi, tetapi setiap huruf yang diniatkan karena Allah adalah amal jariyah intelektual.

Kedua, menulis menumbuhkan empati akademik. Mahasiswa tidak hanya menghitung unit cost pendidikan, tetapi merasakan beban psikologis keluarga miskin. Inilah integrasi ilmu dan kemanusiaan.

Ketiga, menulis adalah zikir intelektual. Setiap kalimat menjadi pengingat, setiap paragraf menjadi tafakur, dan setiap refleksi menjadi jalan mendekat kepada-Nya.

Keempat, menulis membangun peradaban kolaboratif. Komunitas PBB membuktikan bahwa literasi bukan kerja individual, tetapi gerakan sosial. Di dalamnya ada saling menguatkan, saling mendoakan, dan saling menginspirasi. Teori connectivism (George Siemens) menegaskan bahwa pembelajaran di era digital terjadi melalui jejaring kolaboratif. PBB adalah praktik nyata dari teori tersebut.

Kelima, konsistensi menulis melahirkan transformasi diri. Perjalanan mempertahankan posisi “Penjelajah” di Kompasiana menuju “Fanatik” bukan sekadar capaian digital, tetapi perjalanan spiritual menjaga niat.

Strateginya sederhana tetapi penuh makna: menulis setiap hari diawali dengan pantun Psikologi Langit. Pantun menjadi pemantik kesadaran, tulisan menjadi amal, dan komunitas menjadi ekosistem peradaban.

Memasuki semester genap 2025/2026, gerakan ini bukan hanya tentang produktivitas, tetapi tentang keberlanjutan ruhani. Pendidikan yang sedang sakit tidak cukup disembuhkan dengan kurikulum baru atau teknologi canggih. Ia membutuhkan sentuhan hati, empati, dan kesadaran kolektif. Menulis adalah terapi itu.

Akhirnya, peradaban besar selalu dimulai dari pena. Dari ruang kelas sederhana, dari komunitas kecil, dari tulisan yang mungkin dianggap sepele. Tetapi ketika ia dilakukan secara kolaboratif dan istiqamah, ia menjadi cahaya yang menerangi zaman. Menulis hari ini adalah menyiram amal. Agar Ramadan nanti benar-benar menjadi musim panen iman dan peradaban. Wallahu A’lam.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar