MENULIS LITERASI BERMAKNA: MASIHKAH TULISAN KITA MENCERDASKAN ATAU SEKADAR MENGHAKIMI?
Oleh: A. Rusdiana
Seiring dengan Anggota PBB pada episode ke-175 yang menembus angka 2.572 anggota pengikut, refleksi tentang makna literasi menjadi semakin penting. Fenomena media sosial menunjukkan banjir tulisan hadir setiap hari, namun tidak semuanya menghadirkan makna dan pencerahan. Sebagian justru melahirkan penilaian yang terburu-buru, opini yang dangkal, bahkan penghakiman tanpa pemahaman yang utuh. Fenomena “kado pahit” pada Milad ke-42 YSDP Al-Mishbah menjadi salah satu contoh bagaimana ruang digital sering kali lebih cepat menilai apa yang tampak di permukaan dibanding memahami perjalanan panjang pengabdian, perjuangan, dan nilai yang dibangun selama puluhan tahun.
Di era media sosial yang serba cepat, setiap orang memiliki ruang untuk menulis, berkomentar, dan menilai. Fenomena yang tampak hari ini adalah meningkatnya kecenderungan menulis secara reaktif—cepat menyimpulkan, mudah mengomentari, bahkan menghakimi tanpa landasan informasi yang memadai. Padahal, tulisan yang lahir tanpa tabayyun dan refleksi mendalam berpotensi melukai, menyesatkan, bahkan mengaburkan nilai-nilai pendidikan dan pengabdian yang sesungguhnya. Kasus “kado pahit” Milad Al-Mishbah memperlihatkan bahwa literasi belum sepenuhnya dimaknai sebagai proses memahami realitas secara utuh, melainkan sering berhenti pada kesan sesaat dan persepsi permukaan.
Secara teoretis, literasi bukan sekadar kemampuan menulis, tetapi proses berpikir kritis, reflektif, dan edukatif. Literasi sejati tidak hanya diukur dari banyaknya tulisan yang dipublikasikan, tetapi dari sejauh mana tulisan mampu menghadirkan kesadaran, kebijaksanaan, dan manfaat bagi pembaca. Dalam konteks ini, menulis seharusnya menjadi jalan memperkuat budaya berpikir jernih, membangun dialog berbasis pengetahuan, serta menghadirkan solusi yang mencerahkan, bukan memperkeruh suasana dengan sensasi dan penghakiman.
Pesan tersebut terasa relevan dengan ungkapan Ustad ASMI di WAG komunitas pada 7 Mei 2026: “Jangan biarkan pengetahuan membuatmu merasa lebih tinggi dari orang lain, sebab pada akhirnya kita semua adalah pembelajar.” Pesan ini menegaskan bahwa ilmu sejati harus melahirkan tawadhu’, bukan kesombongan; menghadirkan kebijaksanaan, bukan sekadar kebanggaan intelektual. Menulis yang baik bukanlah ajang merasa paling benar, melainkan jalan berbagi hikmah, memperluas kemaslahatan, dan menjaga adab dalam ruang publik digital.
Namun demikian, terdapat GAP ketika sebagian tulisan lebih mengejar sensasi dibanding substansi. Kata-kata diproduksi demi perhatian sesaat, sementara kedalaman makna dan tanggung jawab intelektual mulai terabaikan. Akibatnya, literasi kehilangan ruh pendidikannya dan berubah menjadi sekadar arus opini yang cepat viral namun cepat pula dilupakan. Padahal, tulisan yang bermakna seharusnya bersifat reflektif, substantif, edukatif, dan evergreen—tetap relevan dibaca lintas waktu karena mengandung nilai dan kebijaksanaan.
Tujuan Penulisan ini, menegaskan bahwa menulis bukan sekadar aktivitas ekspresi, melainkan proses membangun kesadaran kritis, memperkuat tradisi intelektual, serta menghadirkan nilai kebermanfaatan yang berkelanjutan bagi umat dan peradaban. Dengan demikian, literasi bermakna harus diarahkan menjadi jalan mencerdaskan kehidupan bersama—bukan sekadar menghadirkan sensasi, tetapi membangun budaya berpikir yang lebih dewasa, bijak, dan beradab. Untuk lebih jelasnya, mari kita elaborasi satu per satu.
Tujuan Penulisan ini, menegaskan bahwa menulis bukan sekadar aktivitas ekspresi, melainkan proses membangun kesadaran kritis, memperkuat tradisi intelektual, serta menghadirkan nilai kebermanfaatan yang berkelanjutan bagi umat dan peradaban. Untuk Lebih jelasnya mari kita elaborasi satu persatu:
Pertama: Literasi Bermakna Harus Bersifat Reflektif; Literasi bermakna lahir dari proses perenungan mendalam terhadap realitas kehidupan. Tulisan yang reflektif tidak dibangun dari ledakan emosi sesaat, tetapi dari kemampuan memahami persoalan secara jernih dan utuh. Dalam konteks ini, menulis menjadi ruang muhasabah intelektual yang menghubungkan pengalaman, nilai, dan pemikiran kritis. Ketika refleksi hilang, tulisan mudah berubah menjadi sekadar pelampiasan emosi yang cepat viral namun cepat pula dilupakan. Karena itu, penulis perlu menjaga kedalaman berpikir agar setiap tulisan menghadirkan cahaya kesadaran bagi pembaca.
Kedua: Literasi Bermakna Harus Bersifat Substantif; Tulisan yang bermakna harus memiliki isi yang kuat, argumentatif, dan berbasis pengetahuan. Literasi tidak cukup hanya menghadirkan kata-kata indah, tetapi juga harus menyampaikan wawasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Fenomena hari ini menunjukkan banyak tulisan viral namun miskin data dan analisis. Akibatnya, pembaca hanya memperoleh sensasi tanpa pemahaman. Dalam tradisi intelektual, substansi menjadi ruh utama tulisan. Karena itu, penulis perlu membiasakan membaca, mengolah data, serta menghubungkan teori dengan realitas agar tulisan benar-benar memperkaya pemikiran masyarakat.
Ketiga: Literasi Bermakna Harus Bersifat Edukatif; Hakikat literasi adalah mencerdaskan kehidupan bersama. Tulisan yang edukatif mampu memperluas wawasan, memperkaya kosa kata, dan membangun pola pikir yang sehat. Menulis bukan hanya untuk menunjukkan kemampuan diri, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial bagi pembaca. Di tengah arus informasi digital yang cepat, masyarakat membutuhkan tulisan yang mampu memberi arah dan nilai. Karena itu, penulis perlu menjaga etika, kejujuran, dan tanggung jawab moral dalam setiap karya. Ketika tulisan menghadirkan pembelajaran, maka literasi akan menjadi jalan membangun generasi yang lebih bijak dan beradab.
Keempat: Literasi Bermakna Harus Bersifat Evergreen; Tulisan yang baik tidak hanya ramai dibaca hari ini, tetapi tetap relevan di masa mendatang. Karya yang evergreen lahir dari gagasan yang mendalam, nilai universal, dan pesan kemanusiaan yang melampaui momentum sesaat. Banyak tulisan viral cepat hilang karena hanya mengikuti tren tanpa fondasi makna. Sebaliknya, tulisan bermakna akan terus dicari karena memberikan inspirasi dan pencerahan lintas waktu. Dalam konteks ini, menulis bukan sekadar mengejar popularitas, tetapi membangun warisan pemikiran yang memberi manfaat jangka panjang bagi pendidikan, umat, dan peradaban.
Pada akhirnya, literasi bermakna bukan sekadar kemampuan merangkai kata, tetapi kemampuan menghadirkan kesadaran, pengetahuan, dan nilai kehidupan dalam tulisan. PBB ke-175 menjadi pengingat bahwa menulis harus bergerak dari sensasi menuju substansi, dari emosi menuju refleksi, serta dari popularitas menuju kebermanfaatan. Ketika tulisan lahir dengan kejujuran intelektual dan tanggung jawab moral, maka literasi tidak hanya mencerdaskan pembaca, tetapi juga meneguhkan peradaban yang lebih bermartabat. Wallahu A’lam.
Teaser (±150 Karakter):
PBB ke-175 menegaskan: literasi bermakna harus reflektif, substantif, edukatif, dan tetap relevan membangun peradaban.