![]()
MENULIS DI AKHIR TAHUN 1447 H: Jejak Kecil atau Warisan Besar?
Oleh: A. Rusdiana
PBB-200 Kini Didukung oleh 2.628 Anggota
Menjelang berakhirnya tahun 1447 H, banyak orang melakukan refleksi terhadap perjalanan hidup yang telah dilalui. Dalam dunia literasi, refleksi tersebut dapat dilakukan dengan menengok kembali jejak tulisan yang pernah dipublikasikan. Fenomena menarik terlihat pada komunitas Perjalanan Belajar Bersama (PBB) yang kini didukung oleh 2.628 anggota. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa semangat belajar, berbagi pengalaman, dan bertumbuh melalui tulisan masih terus mendapat tempat di tengah masyarakat digital. Setiap tulisan yang lahir bukan sekadar rangkaian kata, melainkan rekaman proses belajar, berpikir, dan berkembang dari waktu ke waktu.
Secara teoritis, konsep reflective learning yang dikemukakan John Dewey dan dikembangkan oleh David Kolb menjelaskan bahwa pengalaman yang direfleksikan melalui tulisan dapat menjadi sarana evaluasi diri sekaligus media pembelajaran berkelanjutan. Namun demikian, masih banyak penulis pemula yang mengukur keberhasilan hanya dari jumlah pembaca, popularitas, atau capaian peringkat tertentu, sementara aspek pertumbuhan intelektual sering terabaikan. Di sinilah terdapat kesenjangan antara orientasi hasil dan orientasi proses dalam dunia kepenulisan.
Sebagai Guru Besar Manajemen Pendidikan yang aktif mendampingi mahasiswa, guru, dan penulis pemula, penulis memandang bahwa setiap tulisan sesungguhnya merupakan jejak perjalanan yang merekam proses pembentukan identitas literasi seseorang. Tulisan ini bertujuan mengkaji makna bahwa setiap tulisan adalah jejak perjalanan yang tidak hanya mencatat pengalaman belajar, tetapi juga menjadi penanda pertumbuhan dari seorang debutan menuju maestro. Berikut elaborasinya:
Pertama: Menulis sebagai Dokumentasi Pertumbuhan; Ketika seseorang menulis, ia sedang merekam perjalanan pikirannya pada suatu waktu tertentu. Tulisan pertama mungkin masih sederhana, tetapi di situlah jejak awal pertumbuhan dimulai. Setiap gagasan yang dituliskan menjadi bukti bahwa proses belajar sedang berlangsung. Karena itu, menulis bukan hanya menghasilkan karya, melainkan mendokumentasikan perkembangan intelektual dan pengalaman hidup yang terus bertambah dari waktu ke waktu.
Kedua: Setiap Tulisan adalah Jejak Perjalanan; Ketika Baiduri membagikan tulisannya di Kompasiana, sesungguhnya ia sedang meninggalkan jejak pembelajaran. Tidak ada tulisan yang sia-sia selama ditulis dengan niat belajar dan berbagi manfaat. Setiap tulisan menjadi dokumentasi perjalanan intelektual seseorang. Dari tulisan pertama yang sederhana hingga karya yang lebih matang, semuanya merupakan bagian dari proses pembentukan identitas seorang penulis. Sebagaimana sistem tingkatan di Kompasiana, setiap tulisan adalah langkah kecil yang mengantarkan seseorang naik satu anak tangga menuju jenjang berikutnya.
Ketiga: Jejak Literasi Menjadi Warisan Pengetahuan; Tulisan yang dipublikasikan tidak berhenti pada saat diterbitkan. Ia dapat dibaca kembali, dijadikan referensi, bahkan menginspirasi orang lain. Dalam perspektif manajemen pengetahuan, tulisan merupakan aset intelektual yang menyimpan pengalaman, gagasan, dan pembelajaran. Semakin banyak seseorang menulis, semakin banyak pula warisan pengetahuan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Keempat: Konsistensi Mengubah Debutan Menjadi Maestro; Tidak ada maestro yang lahir secara instan. Mereka tumbuh melalui proses panjang yang dipenuhi latihan, kegagalan, dan perbaikan berkelanjutan. Demikian pula dalam menulis. Konsistensi menulis menjadikan setiap jejak kecil saling terhubung membentuk perjalanan besar. Pada akhirnya, keberhasilan seorang penulis bukan diukur dari seberapa cepat mencapai puncak, melainkan dari kemampuannya bertahan dan terus berkarya.
Singkatnya, menulis di akhir tahun 1447 H mengajarkan bahwa setiap tulisan adalah jejak perjalanan yang merekam proses pertumbuhan diri. Tulisan sederhana maupun karya yang lebih matang memiliki nilai yang sama sebagai bagian dari pembelajaran. Jejak-jejak itu kelak membentuk identitas penulis, menjadi warisan pengetahuan, dan mengantarkan seseorang dari debutan menuju maestro. Karena itu, jangan pernah meremehkan satu tulisan yang dibuat hari ini, sebab bisa jadi itulah langkah kecil yang kelak menjadi jejak besar dalam perjalanan literasi dan peradaban. Wallahu A’lam.