MENULIS MEMBAGUN PETA JALAN KEILMUAN

2026-01-21 10:21:08 | Diperbaharui: 2026-01-21 10:21:08
MENULIS MEMBAGUN PETA JALAN KEILMUAN

80

 

Sumber: ilustrasi dibuat khusus dengan berbatuan AI sesuai permintaan, untuk publikasi PBB-Kompasiana, dengan kredit: Ilustrasi: AI-generated (OpenAI), (Dimodifikasi dengan berbagai sumber 21 Januari 2026)

Menulis Membangun Peta Jalan Keilmuan

Merawat Amal Intelektual di Bulan Sya’ban, Menyongsong Masa Depan Akademik 2026

Oleh: A. Rusdiama

Memasuki awal Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, dunia akademik Indonesia berada pada persimpangan penting. Standar publikasi ilmiah 2026 tidak lagi memberi ruang bagi kerja ilmiah yang sporadis dan reaktif. Dosen dan peneliti dituntut memiliki peta jalan keilmuan (academic roadmap) yang jelas, terukur, dan berkelanjutan. Dalam konteks inilah, menulis menemukan kembali maknanya bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan strategi peradaban. Ungkapan para ulama dan filsuf Muslim bahwa Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, dan Ramadan bulan memanen, memberikan metafora yang sangat kuat bagi dunia akademik. Menulis adalah aktivitas “menyiram” amal intelektual merawat gagasan, menguatkan arah riset, dan menyiapkan panen kontribusi ilmiah yang bermakna.

Tema menulis sebagai Peta Jalan Keilmuan, berimpitan dengan teori career construction dari Mark Savickas menegaskan bahwa karier profesional dibangun melalui narasi yang konsisten dan reflektif. Dalam dunia akademik, narasi itu terwujud melalui tulisan: artikel jurnal, buku, prosiding, dan karya ilmiah lainnya. Tanpa menulis, keilmuan seseorang tercerai-berai; dengan menulis, keilmuan menemukan arah.

Lebih jauh, Etienne Wenger melalui teori communities of practice menjelaskan bahwa pengetahuan berkembang melalui partisipasi aktif dalam komunitas. Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB), yang kini memasuki episode ke-81 dengan ribuan (2.426) anggota aktif, menjadi ruang strategis bagi dosen dan intelektual untuk meneguhkan identitas keilmuannya melalui tulisan yang saling menguatkan. Berikut Lima Pembelajaran Utama: Menulis sebagai Peta Jalan Keilmuan:

Pertama, menulis melatih kejelasan fokus keilmuan; Standar publikasi 2026 menuntut riset yang tidak hanya baru, tetapi juga konsisten dalam tema. Menulis secara berkelanjutan membantu akademisi memetakan bidang inti, irisan keilmuan, serta kontribusi jangka panjangnya. Al-Qur’an mengingatkan, “Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu” (QS. At-Taubah: 105). Menulis adalah bentuk kerja ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kedua, menulis membangun disiplin proses, bukan sekadar hasil; Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah ï·º bersabda bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meski kecil. Menulis rutin meski satu halaman sehari lebih membentuk kepribadian ilmiah daripada mengejar publikasi instan tanpa kedalaman.

Ketiga, menulis menghubungkan iman, ilmu, dan tanggung jawab sosial; Teori transformative learning dari Jack Mezirow menegaskan bahwa refleksi kritis mengubah cara pandang seseorang. Menulis ilmiah yang jujur dan reflektif tidak hanya meningkatkan reputasi akademik, tetapi juga membentuk kepekaan sosial dan etika keilmuan.

Keempat, menulis menyiapkan kesiapan struktural karier akademik; Kebijakan jabatan fungsional 2026 menekankan peta riset terukur, pemilihan jurnal Q1–Q4 yang strategis, serta kolaborasi internasional. Menulis sejak dini membuat dosen tidak gagap menghadapi tuntutan administratif karena fondasi ilmiahnya telah kokoh.

Kelima, menulis sebagai amal jariyah intelektual; Ilmu yang ditulis dan dibagikan akan terus mengalirkan manfaat. Rasulullah ï·º bersabda, “Jika manusia wafat, terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh” (HR. Muslim). Tulisan ilmiah yang bermutu adalah bentuk ilmu yang terus hidup melampaui usia penulisnya.

Bulan Sya’ban mengajarkan bahwa keberhasilan tidak lahir dari lonjakan sesaat, melainkan dari perawatan yang tekun. Dalam dunia akademik, menulis adalah air yang menyuburkan ladang keilmuan. Melalui komunitas seperti PBB, tradisi menulis dapat dijaga sebagai ibadah intelektual menghubungkan iman, ilmu, dan masa depan bangsa.

Menyongsong Semester Genap 2025/2026 dan standar publikasi 2026, mari menjadikan menulis bukan sekadar tuntutan kinerja, tetapi peta jalan hidup keilmuan yang bermakna, berkelanjutan, dan bernilai ibadah. Wallahu A’lam.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar