MENULIS MENJAGA INTEGRITAS PROFESI: DARI SYA'BAN MENUJU KETEGUHAN AKADEMIK

2026-01-22 18:21:48 | Diperbaharui: 2026-01-22 18:21:48
MENULIS MENJAGA INTEGRITAS PROFESI: DARI SYA'BAN MENUJU KETEGUHAN AKADEMIK

 

CaptionSumber ilustrasi: Visual konseptual Menulis Menjaga Integritas Profesi: Dari Sya’ban Menuju Keteguhan Akademik (Dibuat dengan bantuan AI (ilustrasi artistik) 22 Januari 2026.

Menulis Menjaga Integritas Profesi: Dari Sya’ban Menuju Keteguhan Akademik

”Refleksi satu tahun mempertahankan kedudukan Penjelajah di Kompasiana (22 Jan 2025–22 Jan 2026) menuju karya bermakna.”

Oleh: A. Rusdiana

Hari ini genap satu tahun perjalanan menulis dan belajar di Kompasiana, mempertahankan kedudukan Penjelajah (22 Januari 2025–22 Januari 2026). Capaian ini bukan sekadar statistik atau status, melainkan proses pembelajaran etis yang menuntut konsistensi, kejujuran, dan tanggung jawab intelektual. Refleksi ini menjadi relevan ketika disampaikan dalam Pena Berkarya Bersama (PBB) Episode ke-81, yang kini menaungi 2.429 anggota sebuah komunitas yang meneguhkan menulis sebagai jalan bertumbuh bersama.

Di tengah meningkatnya tuntutan akademik dan profesional, menulis yang jujur dan bertanggung jawab menjadi benteng terhadap plagiarisme, manipulasi data, dan reduksi makna keilmuan. Menulis bukan hanya keterampilan teknis, melainkan praktik etika. Ia mencerminkan integritas penulis apakah gagasan dibangun di atas kejujuran, atau sekadar mengejar pengakuan.

Spirit Bulan Sya’ban memberi kerangka ruhani bagi refleksi ini. Para filsuf dan ulama Muslim kerap mengingatkan: Sya’ban adalah masa menyiram dan merawat amal yang ditanam di Rajab, agar Ramadan menjadi musim panen iman yang matang dan bermakna. Ungkapan ini menegaskan bahwa kualitas amal termasuk amal intelektual ditentukan oleh proses perawatan batin, bukan ledakan pencapaian sesaat. Memasuki tahun 2026 dan awal Semester Genap Pembelajaran 2025/2026, menulis perlu diposisikan sebagai ibadah akal yang dirawat dengan niat lurus.

Dalam teori kontemporer, academic integrity dipahami sebagai fondasi ekosistem ilmu. Donald McCabe menekankan bahwa integritas akademik bertumpu pada kejujuran, kepercayaan, keadilan, rasa hormat, dan tanggung jawab. Sementara Howard Gardner melalui gagasan good work menegaskan bahwa profesional bermartabat adalah mereka yang menggabungkan keunggulan (excellence), etika (ethics), dan keterlibatan (engagement). Menulis yang menjaga integritas profesi berarti menghadirkan karya yang akurat, dapat diverifikasi, dan bermanfaat tanpa mengorbankan nilai demi popularitas.

Landasan normatif Islam memperkuatnya. Al-Qur’an menegaskan, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur” (QS. At-Taubah: 119). Rasulullah ï·º bersabda, “Barang siapa menipu, maka ia bukan dari golongan kami” (HR. Muslim). Kejujuran dalam menulis—mengutip dengan benar, mengakui keterbatasan data, dan menolak manipulasi—adalah pengejawantahan takwa dalam profesi. Dari refleksi ini, setidaknya terdapat lima pembelajaran kunci:

Pertama, menulis adalah cermin integritas diri. Tulisan yang jujur memantulkan karakter penulis. Ia membangun kepercayaan publik yang tak tergantikan oleh capaian instan.

Kedua, konsistensi mengalahkan sensasi. Seperti Sya’ban yang merawat amal, menulis berkualitas lahir dari disiplin berkelanjutan, bukan ledakan viral.

Ketiga, etika mendahului eksistensi. Di era digital, godaan klik dan validasi tinggi. Integritas menuntut keberanian menolak jalan pintas.

Keempat, komunitas memperkuat standar. PBB menyediakan ruang saling mengingatkan dan belajar etos kolektif yang menjaga mutu dan adab.

Kelima, niat menentukan arah karier intelektual. Menulis sebagai ibadah akal menuntun karya menuju kemaslahatan, bukan sekadar reputasi.

Menatap Semester Genap 2025/2026, strategi mempertahankan kedudukan Penjelajah bahkan menuju Fanatik perlu dirumuskan secara etis: (1) kalender menulis konsisten berbasis riset ringan namun sahih; (2) disiplin sitasi dan verifikasi; (3) refleksi rutin atas umpan balik pembaca; (4) kolaborasi tematik di PBB; dan (5) pemurnian niat—menulis untuk memberi nilai tambah, bukan sekadar angka.

Akhirnya, menulis menjaga integritas profesi adalah perjalanan panjang seperti Sya’ban yang sunyi namun menentukan. Dari perawatan batin itulah lahir panen iman dan panen keilmuan yang matang. PBB Episode ke-81 menjadi penanda: bahwa menulis yang jujur, konsisten, dan bermakna adalah jalan paling kokoh menuju keteguhan profesi hari ini dan seterusnya. Wallahu A'lam.

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar