![]()
![]()
![]()
![]()
Menulis Menyiapkan Masa Depan: Tanggung Jawab Profesi Intelektual di Era Standar Publikasi 2026
Oleh: A. Rusdiana
Memasuki tanggal 1 Sya’ban, umat Islam berada pada fase transisi spiritual yang penting: masa menyiram, memupuk, dan merawat amal sebelum panen Ramadhan. Sya’ban bukan bulan euforia, melainkan bulan konsistensi sunyi amal yang tidak riuh tetapi menentukan kualitas masa depan. Spirit inilah yang relevan untuk dibaca ulang dalam konteks dunia akademik Indonesia yang memasuki Tahun 2026 dan Semester Genap 2025/2026. Dunia akademik berada pada fase transisi serupa. Standar publikasi semakin ketat, peta riset dituntut terukur, dan kualitas jurnal harus tepat sasaran. Dalam situasi ini, menulis tidak lagi dapat dipahami sebagai aktivitas insidental, melainkan sebagai proses merawat masa depan keilmuan. Jika Rajab adalah masa menanam gagasan, maka Sya’ban adalah masa menjaga kesinambungan menulis, agar saat “Ramadhan akademik” tiba masa penilaian, akreditasi, dan kontribusi publik ilmu benar-benar siap dipanen.
”Pola baru publikasi jurnal 2026 menjadi perhatian utama bagi akademisi, dosen, dan peneliti di berbagai bidang ilmu. Dunia publikasi ilmiah mengalami perubahan signifikan seiring berkembangnya teknologi, kebijakan open access, dan tuntutan kualitas global. Jurnal internasional kini tidak hanya menilai kebaruan riset, tetapi juga dampak, transparansi, dan kolaborasi ilmiah.”
Dalam komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB) yang kini memasuki Episode ke-79 dengan 2.423 anggota, menulis menjadi ruang kolektif untuk merawat kesinambungan gagasan. PBB tidak sekadar wadah berbagi tulisan, tetapi ekosistem pembelajaran berkelanjutan sebuah praktik “Sya’ban intelektual” yang menekankan disiplin, konsistensi, dan ketekunan.
Momentum Isra Mi’raj 1447 H, yang masih berada dalam suasana Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama ke-80 bertema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, memberi landasan spiritual bahwa setiap kenaikan derajat baik spiritual maupun intelektual selalu disertai tanggung jawab sosial. Isra Mi’raj mengajarkan bahwa Nabi Muhammad ï·º tidak berhenti pada pengalaman transendental, tetapi kembali ke bumi membawa amanah peradaban.
Dalam analogi intelektual, menulis adalah mi’raj gagasan: naik melalui proses ilmiah yang disiplin, lalu turun kembali sebagai solusi bagi umat. Tanpa proses merawat dan memupuk menulis sebagaimana hikmah bulan Sya’ban masa depan keilmuan akan rapuh dan terputus.
Menulis, Masa Depan, dan Etika Profesi
Dalam teori kontemporer, Peter Drucker menekankan pentingnya knowledge worker yang mampu mengelola pengetahuan secara berkelanjutan. Menulis menjadi sarana utama untuk mengubah pengalaman dan riset menjadi aset peradaban. Sementara itu, Donald Schön melalui konsep reflective practitioner menegaskan bahwa profesional yang baik adalah mereka yang terus merefleksikan praktiknya melalui dokumentasi dan penulisan sistematis.
Dari perspektif etika profesi kampus, menulis adalah bentuk pertanggungjawaban intelektual. Al-Qur’an menegaskan, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah: 11). Kenaikan derajat ini bukan privilese, melainkan amanah agar ilmu memberi arah bagi masa depan umat. Rasulullah ï·º juga bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh” (HR. Muslim). Menulis adalah jalan utama menjadikan ilmu tetap hidup lintas generasi.
Refleksi ini terasa kuat saat menghadiri silaturrahmi komunitas alumni Fakultas Ushuluddin angkatan 1987 di Cijeunjing, Ciamis, pada 17 Januari 2026. Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa masa depan tidak dibangun secara instan, melainkan melalui kesinambungan nilai, ilmu, dan keteladanan yang diwariskan salah satunya melalui tulisan. Berikut, Empat Pembelajaran Utama: Menulis Menyiapkan Masa Depan
Pertama, menulis membangun peta jalan keilmuan; Standar publikasi 2026 menuntut riset terarah dan berkelanjutan. Menulis secara konsisten membantu akademisi memetakan fokus keilmuan dan kontribusinya secara jangka panjang.
Kedua, menulis menjaga integritas profesi; Di tengah meningkatnya tuntutan akademik, menulis yang jujur dan bertanggung jawab menjadi benteng terhadap plagiarisme dan manipulasi data.
Ketiga, menulis adalah investasi peradaban; Tulisan yang berkualitas tidak hanya bermanfaat bagi penulisnya, tetapi juga menjadi rujukan kebijakan pendidikan, penguatan keluarga, dan literasi keagamaan yang meneduhkan.
Keempat, menulis memperkuat sinergi umat dan bangsa; Sejalan dengan tema HAB ke-80, menulis mampu menjembatani perbedaan, membangun dialog, dan memperkuat kerukunan dalam masyarakat majemuk.
Sebagai Penutup, Hikmah bulan Sya’ban mengajarkan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh ledakan sesaat, melainkan oleh perawatan yang konsisten. Jika Rajab adalah waktu menanam niat dan gagasan, maka Sya’ban adalah fase menyiram, memupuk, dan merawat agar saat Ramadhan tiba, amal dan karya benar-benar siap dipanen. Prinsip ini sejalan dengan dunia akademik: menulis yang berkelanjutan, jujur, dan terarah adalah proses Sya’ban intelektual yang menentukan kualitas masa depan keilmuan.
Dalam suasana Isra Mi’raj 1447 H, HAB Kemenag ke-80, dan awal Tahun 2026, menulis harus diposisikan sebagai amal jariyah intelektual. Ia bukan sekadar pemenuhan kewajiban administratif, melainkan tanggung jawab profesi untuk menghadirkan ilmu yang hidup, relevan, dan meneduhkan. Menulis yang dirawat hari ini meski sunyi akan menjadi warisan bermakna bagi generasi esok.
Komunitas Pena Berkarya Bersama (PBB), pada Episode ke-79 ini, meneguhkan peran kolektif tersebut: merawat konsistensi, menjaga integritas, dan menguatkan sinergi. Di situlah menulis menemukan makna terdalamnya bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan yang lebih beradab dan bermakna. Wallahu A’lam.