MENULIS PANTUN DIAWAL DZULHIJJAH: Mengukuhkan Jalan Muhasabah, Bukan Ilusi Ilmu

2026-05-18 23:37:14 | Diperbaharui: 2026-05-19 00:41:52
MENULIS PANTUN DIAWAL DZULHIJJAH: Mengukuhkan Jalan Muhasabah, Bukan Ilusi Ilmu
Ilustrasi Menulis Pantun Di Awal Dzulhijjah: Mengukuhkan Jalan Muhasabah, Bukan Ilusi Ilmu. Sumber dibuat dan dimodifikasi oleh penulis dengan berbantuan Teknologi kecerdasan buatan (DALL*E/ChatGPT,  Senin, 18 Mei 2026)

Oleh: A. Rusdiana

Seiring perjalanan PBB hingga episode ke-185 yang kini diikuti sekitar 2.583 anggota pengikut, ruang literasi digital terus memperlihatkan dinamika yang menarik sekaligus memerlukan perenungan bersama. Di satu sisi, media sosial menghadirkan kesempatan luas bagi siapa saja untuk menulis, mengutip ayat Al-Qur’an, menyampaikan nasihat, dan membagikan refleksi keagamaan kepada masyarakat. Namun, di sisi lain, muncul fenomena ketika ilmu lebih banyak berhenti pada pembahasan, tampilan, dan simbol verbal, tetapi belum sepenuhnya menjelma menjadi akhlak serta amal nyata. Respon reflektif Abah (A-BR), “Mudah-mudahan Al-Qur’an dibaca, difahami, diamalkan, jangan ilusi ilmu…”, menjadi pengingat lembut bahwa literasi spiritual harus melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan intelektual. Fenomena ini menunjukkan GAP antara banyaknya pembahasan keagamaan dengan kedalaman pengamalan nilai Al-Qur’an. Karena itu, tulisan ini bertujuan merefleksikan pentingnya menjaga kesatuan ilmu, amal, akhlak, dan kerendahan hati agar menulis tidak berubah menjadi pencitraan spiritual semata.

Pantun sebagai warisan budaya Nusantara tidak hanya menghadirkan keindahan bahasa dan irama kehidupan, tetapi juga menyimpan pesan moral, spiritual, dan kebangsaan yang tetap relevan sepanjang zaman. Dalam konteks awal Dzulhijjah 1447 H, manusia diajak memasuki madrasah ruhani yang mengajarkan keteladanan Nabi Ibrahim AS tentang ketaatan mutlak, keikhlasan berkorban, dan pentingnya menghadirkan kepedulian sosial dalam kehidupan. Momentum ini menjadi pengingat bahwa ilmu sejati bukan hanya untuk dipahami, tetapi harus melahirkan amal, ketulusan, dan akhlak mulia. Karena itu, menulis pantun di awal Dzulhijjah dapat menjadi jalan muhasabah agar setiap tulisan tidak berhenti pada kata-kata, tetapi berubah menjadi cahaya amal dan peradaban. Tujuan Penulisan ini, sekaligus narasi pengantar pembelajaran/pelajaran:

Pertama: Menulis Harus Menjadi Jalan Muhasabah; Menulis sejatinya bukan sekadar aktivitas menyusun kata, tetapi ruang muhasabah untuk memperbaiki diri. Dalam suasana awal Dzulhijjah, manusia diajak merenungkan kembali hubungan antara ilmu dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Banyak tulisan tampak indah di media sosial, tetapi belum tentu menghadirkan ketenangan, ketulusan, dan perubahan perilaku. Karena itu, menulis harus dimulai dari kesadaran diri bahwa setiap kata kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Ketika tulisan lahir dari hati yang jujur dan rendah hati, maka tulisan dapat menjadi sedekah ilmu yang menenangkan jiwa serta menghadirkan manfaat bagi sesama.

Kedua: Ilmu Harus Menjadi Amal Nyata; Ilmu yang hanya berhenti pada pembahasan akan mudah berubah menjadi “ilusi ilmu.” Dzulhijjah mengajarkan bahwa keteladanan Nabi Ibrahim AS tidak berhenti pada keyakinan dalam hati, tetapi diwujudkan melalui pengorbanan dan kepatuhan nyata kepada Allah SWT. Begitu pula dalam dunia literasi, tulisan yang baik harus melahirkan perubahan perilaku dan kepedulian sosial. Menulis tentang kebaikan, tetapi tidak menghadirkan kebaikan dalam kehidupan nyata, akan menjadikan ilmu kehilangan cahaya keberkahannya. Karena itu, setiap tulisan seharusnya menjadi jalan memperbaiki amal, memperhalus akhlak, dan memperkuat kepedulian terhadap sesama manusia.

Ketiga: Kerendahan Hati Menjaga Cahaya Ilmu; Kerendahan hati merupakan fondasi penting menjaga keberkahan ilmu. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin lembut hati dan perilakunya. Dalam kehidupan digital hari ini, manusia sering tergoda menjadikan tulisan sebagai sarana mencari pujian, validasi sosial, dan kebanggaan intelektual. Padahal, ilmu yang tidak disertai akhlak hanya akan melahirkan kegaduhan dan kesombongan tersembunyi. Nasihat lembut Abah (A-BR) menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an tidak cukup dibahas, tetapi harus diamalkan dalam kehidupan nyata. Karena itu, menulis harus menghadirkan keteduhan, bukan merendahkan orang lain; menghadirkan cahaya amal, bukan sekadar memenangkan perdebatan.

Keempat: Menulis sebagai Sedekah Peradaban; Menulis yang lahir dari hati yang ikhlas dapat menjadi sedekah peradaban yang terus mengalir manfaatnya. Dalam suasana Dzulhijjah, manusia diajak belajar berbagi, peduli terhadap sesama, dan menghadirkan manfaat bagi kehidupan bersama. Tulisan yang baik tidak hanya memberi informasi, tetapi juga menumbuhkan harapan, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan keteladanan moral. Karena itu, menulis pantun di awal Dzulhijjah dapat menjadi ruang memperhalus hati serta menghadirkan nilai-nilai spiritual dalam budaya literasi digital. Ketika tulisan mampu menghadirkan ilmu, amal, dan akhlak secara bersamaan, maka literasi akan berubah menjadi cahaya peradaban yang menenangkan jiwa dan menguatkan kehidupan umat manusia.

Pada akhirnya, menulis pantun di awal Dzulhijjah bukan sekadar aktivitas literasi budaya, tetapi jalan muhasabah untuk memperkuat hubungan antara ilmu, amal, dan akhlak. Ilmu sejati tidak berhenti pada pembahasan dan simbol verbal, tetapi harus melahirkan keteladanan, kerendahan hati, dan kepedulian sosial. Dzulhijjah mengajarkan bahwa pengorbanan dan ketulusan merupakan fondasi penting membangun peradaban yang bermartabat. Karena itu, tulisan yang lahir dari hati yang jujur dan ikhlas akan menjadi sedekah ilmu yang terus mengalir manfaatnya bagi sesama. Dalam ruang literasi digital hari ini, manusia memerlukan tulisan yang menghadirkan keteduhan, memperkuat persaudaraan, dan menghidupkan cahaya amal dalam kehidupan nyata. Wallahu A’lam.

__________

*) Profil Penulis Berpangkat Penjelajah di Kompasiana ini sejak 22 Januari 2025:

Dokumen pribadi dibuat khusus untuk pendamping penulisan esai/opini di media sejak tahun 2020. Dengan harapan mudah-mudahan dapat menghantarkan dari penjelajah menuju Fanatik!!!
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar