MENULIS DIPENGHUJUNG DZULQA'DAH MENJADI LADANG SEDEKAH: Dari Ilusi Menuju Cahaya Amal

2026-05-17 23:53:48 | Diperbaharui: 2026-05-18 00:46:24
MENULIS DIPENGHUJUNG DZULQA'DAH MENJADI LADANG SEDEKAH: Dari Ilusi Menuju Cahaya Amal
Ilustrasi Menulis di ujung Dzulqa'dah sebagai ladang Sedekahl Focused work in a bright room. Dibuat dan dimodifikasi oleh Penulis  dengan bantuan AI (DALL·E/ChatGPT, 17/05/2026)

 

Oleh: A. Rusdiana

Seiring perjalanan PBB hingga episode ke-184 yang kini diikuti sekitar 2.582 anggota pengikut, ruang literasi digital terus memperlihatkan dinamika yang menarik sekaligus memerlukan perenungan bersama. Di satu sisi, media sosial menghadirkan kesempatan luas bagi siapa saja untuk menulis, mengutip ayat Al-Qur’an, menyampaikan nasihat, dan membagikan refleksi keagamaan kepada masyarakat. Namun, di sisi lain, muncul fenomena ketika ilmu lebih banyak berhenti pada pembahasan, tampilan, dan simbol verbal, tetapi belum sepenuhnya menjelma menjadi akhlak serta amal nyata. Respon reflektif Abah (A-BR), “Mudah-mudahan Al-Qur’an dibaca, difahami, diamalkan, jangan ilusi ilmu…”, menjadi pengingat lembut bahwa literasi spiritual harus melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan intelektual. Fenomena ini menunjukkan GAP antara banyaknya pembahasan keagamaan dengan kedalaman pengamalan nilai Al-Qur’an. Karena itu, tulisan ini bertujuan merefleksikan pentingnya menjaga kesatuan ilmu, amal, akhlak, dan kerendahan hati agar menulis tidak berubah menjadi pencitraan spiritual semata.

Pertama: Menulis Harus Menjadi Jalan Muhasabah; Menulis sejatinya bukan sekadar aktivitas menyusun kata, tetapi ruang muhasabah untuk memperbaiki diri. Dalam suasana penghujung Dzulqa’dah, manusia diajak merenungkan kembali hubungan antara ilmu dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Banyak tulisan tampak indah di media sosial, tetapi belum tentu menghadirkan ketenangan, ketulusan, dan perubahan perilaku. Karena itu, menulis harus dimulai dari kesadaran diri bahwa setiap kata kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Ketika tulisan lahir dari hati yang jujur dan rendah hati, maka tulisan dapat menjadi sedekah ilmu yang menenangkan jiwa serta menghadirkan manfaat bagi sesama.

Kedua: Ilmu Harus Menjadi Amal Nyata; Ilmu yang hidup tidak berhenti pada ucapan, kutipan, dan tulisan, tetapi bergerak menjadi amal nyata dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur’an bukan sekadar bahan kajian atau simbol kesalehan digital, melainkan petunjuk hidup yang menuntun manusia kepada akhlak mulia. Ketika seseorang menulis tentang kebaikan, kejujuran, kesabaran, dan ketakwaan, maka nilai-nilai itu perlu diupayakan hadir dalam perilaku sosialnya. Inilah makna penting dari pesan Abah agar Al-Qur’an dibaca, dipahami, dan diamalkan. Tanpa amal, ilmu dapat berubah menjadi beban moral; dengan amal, ilmu menjadi cahaya kehidupan.

Ketiga: Kerendahan Hati Menjaga Cahaya Ilmu; Salah satu bahaya dalam ruang literasi digital adalah munculnya “ilusi ilmu,” yaitu ketika seseorang merasa paling benar karena banyak membaca, menulis, atau mengutip dalil, tetapi kehilangan kelembutan akhlak dan kerendahan hati. Padahal, semakin luas ilmu seseorang, seharusnya semakin tumbuh rasa takut kepada Allah SWT dan semakin lembut cara memandang sesama manusia. Kerendahan hati menjadikan tulisan lebih teduh, tidak mudah merendahkan orang lain, dan tidak menjadikan agama sebagai alat mencari pengakuan sosial. Dalam konteks itu, penghujung Dzulqa’dah mengajarkan pentingnya membersihkan hati agar ilmu tetap menjadi cahaya yang menghadirkan kedamaian.

Keempat: Menulis sebagai Sedekah Peradaban; Menulis dapat menjadi sedekah yang pahalanya terus mengalir ketika menghadirkan manfaat bagi kehidupan manusia. Tulisan yang mengajak kepada kebaikan, memperkuat akhlak, memperhalus hati, dan menumbuhkan kesadaran spiritual akan menjadi jejak amal jariyah yang terus hidup melampaui usia penulisnya. Karena itu, literasi spiritual tidak boleh berhenti pada sensasi, popularitas, atau pencitraan digital semata. Menulis harus diarahkan menjadi bagian dari pengabdian untuk membangun peradaban yang lebih damai, bermartabat, dan penuh keberkahan. Dalam suasana menjelang Dzulhijjah, menulis yang disertai ketulusan hati dapat menjadi sedekah ruhani yang menuntun manusia semakin dekat kepada ridha Allah SWT.

Pada akhirnya, penghujung Dzulqa’dah menghadirkan pelajaran bahwa ilmu, amal, akhlak, dan kerendahan hati tidak boleh dipisahkan dalam kehidupan seorang penulis. Menulis bukan sekadar menyampaikan gagasan, tetapi jalan memperbaiki diri dan menghadirkan manfaat bagi sesama manusia. Pesan Abah (A-BR), “Mudah-mudahan Al-Qur’an dibaca, difahami, diamalkan…”, menjadi pengingat bahwa literasi spiritual harus melahirkan perubahan perilaku, bukan sekadar simbol kesalehan digital. Karena itu, menulis yang lahir dari hati yang tulus dapat menjadi sedekah peradaban yang menghadirkan cahaya ilmu, ketenangan jiwa, serta keberkahan hidup menuju ridha Allah SWT. Wallahu A'lam.

______________

*) Profil Penulis di Kompasiana berpankat Penjelajah menuju  Fanataik:

Dokumen Pribadi dibuat khusus untuk pendaping pada penulisan esesai/opini di media sejak tahun 2020. Dengan harapan mudah-mudahan dapat menghartarkan dari penjelajah menuju Fanatik !!!

 

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Suka dengan Artikel ini?
0 Orang menyukai Artikel Ini
avatar